
BATURAJA, fornews.co – Bulan suci ramadhan, biasanya dimanfaatkan umat islam untuk menambah amal ibadah. Hal ini ternyata dimanfaatkan oleh oknum yang berubah profesi menjadi pengemis dadakan.
Seperti salah satu pengemis asal pulau jawa ini, dirinya tinggal disalah satu kampung spesialis pengemis dadakan. Dimana saat menjelang bukan ramadhan dan hari raya, warga kampung tersebut berbondong-bondong mencari kota-kota tempat mereka mencari uang
Dengan modal makan dan penginapan, Tono (nama disamarkan) mulai melakukan survei lokasi tempat dimana bakal mereka mengumpulkan pundi-pundi rupiah. “Ya kalau kita datang saja tanpa melakukan survei percuma pak, dak terkumpul uang kita kalo lokasi itu sepi,” terangnya.
Saat ditanya bagaimana proses dirinya melakukan survei? Tono mengatakan, dirinya melakukan survei mendatangi lokasi tanpa mengenakan atribut pengemisnya, jika dirasa lokasi tersebut dirasa cocok dan akan banyak mendapatkan uang, Tono langsung mencari posisi strategis. “Kalo sudah ada posisi yang bagus ya langsung beraksi besoknya,” katanya.
Dikatakan tono, biasanya dirinya mendapatkan uang dalam Rp300.000-Rp500.000 per/harinya. Dalam satu bulan dirinya bisa meraup rupiah paling sedikit Rp8 juta. “Dalam seminggu saya mengirimkan uang kekampung paling sedikit Rp3 juta pak, sisanya saya buat makan dan penginapan. Ya ini rejeki tahunan pak, adanya juga pas dibulan ramadhan saja pak, kalau hari bisa kami habiskan mengemis dikampung halaman,” ucapnya.
Sementata itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Syaiful Kamal, melalui Kabid Resos Dra Karolina membenarkan adanya fenomena pengemis dadakan saat bulan suci Ramadhan. Dikatakan Karolina, bulan suci Ramadhan memang menjadi kesempatan para pengemisdadakan untuk meraup keuntungan.
“Ini bukan hanya dari luar, yang paling banyak itu pengemisn dadakan dari kabupaten tetangga memang setiap tahun itu pasti ada dan setiap tahun juga menjadi aggenda kita itu melakukan penertiban,” ungkapnya.
Masih kata Karolina, yang menjadi kendalanya pihaknya tidak bisa melakukan penangkapan terhadap para pengemis tersebut, yang hanya berkopeten melakukan penangkapan hanya Sat Pol PP. “Masalahnya saat kita menggelar razia bersama para pengemis seolah sudah mengetahui dan secepat kilat melarikan diri,” terangnya.
Ditambah Karolina, masalah lainnya juga bukan hanya pengemis, ada juga para oknum memanfaatkan anak kecil untuk mengemis dengan kotak amal. “Itu ada koordinatornya, saat ini kami masih melakukan penyelidikan siapa koordinatornya,” pungkasnya. (gus)

















