PALEMBANG, fornews.co– Koordinator Relawan Cakra Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Sumsel, H Muchendi Mahzareki SE menyatakan, dengan diberinya kesempatan bagi kamu pemuda, maka dengan pihaknya ingin mendeklarasikan AHY agar diperhitungkan di Indonesia.
“Saya ingin mendeklarasikan AHY agar bisa diperhitungkan di Indonesia. Dengan diajaknya anak-anak muda, Insya Allah kita akan menyumbangkan pemikiran kepada AHY. Apalagi kalau nanti beliau benar-benar nyalon,” ujarnya, saat menyampaikan sambutan pada acara Deklarasi Relawan Cakra AHY dan diskusi tentang Muda adalah Kekuatan, di York Cafe, Minggu (05/08).
Muchendi menerangkan, Relawan Cakra AHY di 17 kabupaten/kota se-Sumsel sepakat mendeklarasikan tokoh pemuda Agus Harimukti Yudhoyono bisa maju menjadi kandidat pada Pilpres 2019. Sekalipun, AHY belum resmi mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres).
“Mungkin saja nanti AHY tidak maju, atau hanya pendukung. Tentu yang masih muda, pasti paham dengan pemikiran anak muda. Muda adalah kekuatan kalau dilihat dari prespektif optimis. Tapi kalau pesimis muda itu belum banyak pengalaman karena belum diberi kesempatan,” terangnya.

Pada sesi diskusi Muda adalah Kekuatan, Tokoh Muda Sumsel, Ahmad Usmarwi Kaffah, SH, LL.M, LL.M menuturkan, bahwa tahun ini jika merunut dari tahun 1945 hingga ke tahun 2045, adalah bagaimana Indonesia memanfaatkan bonus demografinya secara komprehensif.
“AHY sendiri telah menyampaikan pesan, yang sudah mengelaborasi tentang aspek 16-30 dan 16-35. Artinya, itu tentang muda adalah kekuatan, dimana sekitar 52% vooter di Indonesia ini adalah pemuda. Pertanyaannya, mau diapakan bonus demografi itu, hanya mau bicara, kosong, hanya diskusi atau konstruktif,” tutur pemuda yang berprofesi sebagai Lawyer di London itu.
Sementara, mantan aktivis 98 Sumsel, Dhaby K Gumayra menerangkan, sebenarnya bukan meragukan pemuda hari ini. Tapi yang dialami pemuda di era kemerdekaan, pemuda anggatan 66 hingga pemuda era 98, punya momentum yang membuat mereka bergerak, berfikir, berdiskusi dan berjuang.
“Momentum itu tidak terjadi secara reguler dan muncul tanpa diperkirakan. Itu yang membedakan pemuda dulu dengan saat ini. Pemuda dulu tumbuh dari diskusi-diskusi dan pergerakan yang didukung dengan momentum,” terangnya.
Dhaby melanjutkan, pemuda menjadi kekuatan jika mampu mengorganisir pikirannya untuk mengubah rezim ketidakadilan. Bukan jadi pengekor kekuasaan. Artinya apa yang dikerjakan hari ini itulah masa depan.
“Kalau pemuda tidak bergerak ya seperti laut tanpa ombak, dan bicara tentang pemuda ya harus kompetitif, mengkritisi rezim dalam arti yang global. Saran saya, muda kekuatan itu bagaimana mendesainnya, ada kekuatan jika cara berpikirnya betul. Kalau cara berfikirnya salah, ya cara hidupnya bakal salah,” tandasnya.(tul)

















