PALEMBANG, fornews.co – Bermain apik dan solid 90 menit tak cukup bagi Sriwijaya FC membawa pulang poin dari tangan PSIS Semarang. Gol Bruno Silva di menit 90+4 membuyarkan semuanya.
Laga tadi malam memang penuh drama. Padamnya lampu penerangan lapangan tiga kali di awal hingga pertengahan babak kedua jelas merusak ritme permainan Sriwijaya. Sebab sebelum insiden padamnya lampu, Esteban Vizcarra dkk mampu bertahan dengan baik dari gelombang serangan yang dibangun PSIS. Buyarnya fokus dan konsentrasi pemain Sriwijaya memuncak saat Zalnando diusir keluar lapangan usai diganjar kartu kuning kedua oleh wasit Prasetyo Hadi karena menjatuhkan pemain PSIS di menit 63.
Bermain dengan 10 pemain tak lantas membuat Hari Nur Yulianto dkk mudah menjebol gawang Sriwijaya. Ditambah apiknya penampilan Teja Paku Alam di bawah mistar gawang, membuat pemain PSIS frustrasi.
“Kita main sama (jumlah pemain) tidak beda (kualitas) dua tim. Masih (bermain) 11 lawan 11 kita punya beberapa peluang bagus untuk bisa buka skor. Tapi kita tidak beruntung,” ujar Pelatih Sriwijaya FC Angel Alfredo Vera pada post match press conference di Stadion Moch. Soebroto, Magelang, Selasa (23/10) malam.
Akan tetapi terus menerus digempur oleh PSIS yang memiliki keunggulan jumlah pemain, akhirnya pertahanan rapat Sriwijaya jebol juga. Lebih menyakitkan, gol itu hadir di detik-detik akhir pertandingan.
“Pertandingan tadi sudah tidak kondusif. Karena (pengadil lapangan) yang harusnya kondusif, (kerjanya) tidak benar menurut saya. Kalau memang mau benar-benar sepak bola Indonesia berubah, tapi saya pikir itu susah, karena ada banyak (pihak) sekarang yang mulai main-main. Kondisi ini bikin saya tidak tenang, tidak bisa kerja dengan aman seperti itu. Kita datang dari jauh untuk bisa main satu pertandingan penting buat kita, tapi terjadi seperti itu,” ungkap Alfredo.
Dirugikan pengadil lapangan bukan pengalaman baru bagi Alfredo. Menurutnya saat masih menangani Persebaya Surabaya di Liga 2 dan putaran pertama Liga 1 lalu, hal serupa kerap dirasakannya.
“Bukan pertama kali terjadi seperti itu. Saya pernah datang dengan Persebaya juga, (diberi) kartu, kartu, kartu. Tetapi beberapa pelanggaran buat kita tidak dikasih (kartu). Percuma saya banyak bicara, skor sudah ada, kita sudah kalah, kecewa,” tukasnya.
Sementara itu, Kapten Sriwijaya FC Yuu Hyun-koo juga tak mampu menutupi rasa kecewanya atas hasil di pekan 27 Liga 1 ini. Sambil terisak, pemain asal Korea Selatan ini mencurahkan isi hatinya.
“Pertandingan hari ini pemain kerja bagus, tidak ada masalah dengan pemain. Tapi saya kecewa satu saja yaitu kenapa kita persiapan sama-sama tim, makan sama-sama, bicara banyak dengan tim, apa masalah kita nonton video (evaluasi) itu untuk apa? Kita lebih bagus gak latihan, datang, kita cari wasit saja, itu lebih bagus (bikin) kita menang,” kata Yuu.
Pemain senior di Sriwijaya ini, tak terima kerja keras pemain mulai dari latihan sampai ke pertandingan menjadi sia-sia karena tindakan tidak profesional beberapa pihak.
“Kalau disini (Indonesia) cari wasit kita bisa menang. Mata saya ini (berurai air mata) bukan karena kita kalah. Tapi kita sudah persiapan, semua stres (di bawah tekanan) dan mau menang disini. Karena kita di (klasemen) bawah, teman-teman kecewa semua, karena persiapan kita sungguh-sungguh dan maksimal. Kita persiapan dari jauh datang kesini, kalau (dicurangi) seperti itu, kita kalah, tunggu di rumah saja,” tuturnya.
Kembali gagal meraih poin semakin mendekatkan Sriwijaya FC ke jurang degradasi. Dengan hanya meraup 30 poin, Sriwijaya terdampar di peringkat 15. Bahkan, jika salah satu dari Perseru Serui dan PS TIRA keluar sebagai pemenang di laga yang digelar besok, bisa dipastikan Sriwijaya akan menempati salah satu dari tiga tim yang berada di zona merah. (ije)

















