PALEMBANG, fornews.co – Dampak kemarau panjang yang melanda Sumatra Selatan semakin terasa. Tumbuh-tumbuhan mengering dan air sungai mulai surut.
“Seperti di OKI banyak perairan atau sungai-sungai yang surut,” ujar Gubernur Sumsel Herman Deru usai melaksanakan salat istiska di halaman Griya Agung Palembang, Selasa (27/08).
Meski begitu, kekeringan ini masih dapat terkendali. Setidaknya masyarakat masih dapat menggunakan air sungai untuk kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Sedangkan untuk air minum atau air bersih dapat mengambil dari sanggah yang telah disiapkan. Kekeringan ini diakibatkan sudah 40 hari Sumsel tidak kunjung hujan.
“Karena itu, kami mengimbau agar lebih menghemat air bersih terutama saat kemarau ini,” imbaunya.
Herman menambahkan, akibat kekeringan ini juga terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pihaknya pun telah berupaya mulai dari upaya konvensional hingga water bombing. Namun hingga saat ini belum juga membuahkan hasil maksimal.
Menurutnya, hal ini mengingatkan masyarakat agar bersyukur dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu, pihaknya pun menggelar salat istiska secara serentak di Sumsel. Dengan harapan, agar hujan membasahi Bumi Sriwijaya.
Selain itu, saat ini tim Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) pun telah berada di Sumsel. Namun, tidak serta merta dilakukan TMC karena harus melihat terlebih dahulu kondisi awan yang ada di Sumsel. Pihaknya juga kini telah menurunkan tim untuk mencari tahu penyebab terjadinya Karhutla. Dimana, saat ini 90% di antaranya disebabkan oleh manusia. Sedangkan, 10% belum diketahui pasti.
“Kami telah menurunkan tim Balitbang untuk mencari tahu. Nantinya, jika sudah diketahui maka kami dapat mengeluarkan instruksi untuk penanganan karhutla di Sumsel,” tukasnya. (alu)
















