INDRALAYA, fornews.co – Suara dentang (suara besi yang dipukul keras) dan hembusan angin menjadi suguhan pendengaran bagi orang yang bekunjung ke Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir (OI).
Desa yang berjarak 10 kilometer (Km) dari ibu kota kabupaten (Indralaya), itu dikenal sebagai kampungnya para pandai besi (empu). Disebut kampung pandai besi, karena rata-rata mata pencaharian kaum laki-laki (orang tua) di desa ini, sebagai penempa besi berupa pisau, parang, golok, pahat tojok dan alat pertanian lainnya. Bahkan, rata-rata warga di daerah ini, memiliki bengkel pandai besi sendiri.
Salah satunya Pak Abas atau akrab disapa Wak Abas (70), yang telah menggeluti pekerjaan (pandai besi) ini lebih dari separuh usianya (50 tahun). Meski kulit tubuhnya yang telah mengeriput, namun genggaman tangannya tetap kokoh untuk menempa batangan/lempengan besi panas menjadi benda tajam (alat pertanian).
“Keterampilan menempa besi saya warisi dari orang tua. Memang tidak ada pendidikannya, hanya kemampuan yang kami dapat secara otodidak (belajar sendiri),” tuturnya yang ditemui dibengkel pandai besi miliknya, Kamis (04/10).
Untuk menjadi pemandai besi, para pengerajin dikatakan Wak Abas, membutuhkan modal sedikitnya Rp2 juta. Uang sejumlah itu, digunakan untuk membuat sarana penempaan besi. Seperti pembuatan masalian, pompa, palu, dan peralatan pendukung lainnya.
Sementara, untuk bahan bakunya sendiri para pemandai yang umumnya menggunakan pipa besi dan per mobil bekas, didapatnya dari pengepul barang rongsokan (besi bekas) begitu juga dengan Wak Abas.
“Mengenai bahan baku, kami (pemandai besi) memilih menggunakan pipa besi bekas ketimbang per mobil. Karena murah. Umumnya masyarakat juga cari pisau atau golok dengan harga murah. Tapi untuk kualitas bagus dari per mobil,” beber bapak dua putri tersebut.
Masih kata Wak Abas, untuk produk pandai besinya dalam sepekan, bersama kerabatnya yang juga telah berusia sama dengannya, mampu memproduksi 20 bilah alat rumah tangga dan pertanian berbagai jenis.
Mengenai pemasaran, para pemandai besi selain melayani pesanan perorangan. Mereka memiliki pelanggan (pedagang pengepul) yang mampu menampung hasil produksinya dalam jumlah besar, sehingga perputaran ekonomi terjadi di sana.
“Dalam seminggu, saya membuat pesanan pedagang pengepul sebanyak 20 bilah parang dengan harga Rp700.000,” paparnya seraya mengatakan, dalam sepekan dirinya mampu meraup uang kisaran Rp2 juta.
Disinggung geliat usaha pandai besi setelah puluhan tahun menekuninya, Wak Abas harus mengakui dirinya kalah bersaing dengan peralatan yang diproduksi menggunakan kecanggihan teknologi. Kendati demikian, dirinya harus tetap bertahan selagi masih ada konsumen yang membutuhkan jasanya.
“Bagi kami (yang sekolah rendahan) tidak ada pilihan lain, agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Hidup penuh perjuangan. Tak kerja, tak makan,” katanya memotivasi. (Paturrahman)

















