PALEMBANG, fornews.co-Memaknai 72 tahun Indonesia merdeka, PDIP dan PKB Sumsel melakukan ziarah ke makam ulama Ki Marogan di Kertapati dan ke Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang.
Ketua DPW PKB Sumsel, Ramlan Holdan mengatakan, memaknai kemerdekaan Indonesia ke-72 ini, PKB dan PDIP menjalankan motto Jas Hijau (Jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama) dan Jas Merah (Jangan sekali-kali lupakan sejarah). “Karena kedua komponen ini sangat berjasa memerdekakan republik ini. Oleh karena itu, generasi muda diingatkan lagi agar sejarah ini tidak terputus, kalau terputus maka kecintaan terhadap negeri ini akan luntur. Jadi, pemaknaan Jas Merah dan Jas Hijau hari ini tidak lain dan tidak bukan, untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya sejarah ini kepada generasi muda dan generasi yang akan datang,” katanya, usai melakukan tabur bunga bersama di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Selasa (15/08).
Ramlan mengungkapkan, dengan memahami sejarah bangsa sendiri, tentu akan meningkatkan nilai kecintaan terhadap negeri ini. Atas dasar itulah, pihaknya melakukan ziarah ke makam pahlawan dan Ki Marogan. Karena, saat ini sudah jarang generasi muda itu paham, bahwa ulama itu bagian besar dari perjuangan Indonesia. “Ulama tentu tidak hanya merebut kemerdekaan, tapi punya tugas lain yang lebih penting, yakni perjuangan ulama mengisi kemerdekaan, ini yang lebih penting. Jangan sampai negeri yang sudah dibangun ini terkoyak-koyak lagi,” ungkapnya.
Sementara, Ketua DPD PDIP Sumsel, HM Giri Ramanda menerangkan, kemerdekaan ini merupakan berkah dan keberanian yang luar biasa, dari para pendulu dan pejuang Indonesia. Ketika para pejuang meneriakkan kata merdeka, berarti mereka siap untuk Indonesia.
“Makanya, disetiap kegiatan PDIP hingga hari ini selalu meneriakkan kata merdeka. Karena, itu mengingatkan pada perjuangan meraih kemerdekaan bangsa ini sangat berat. Kemerdekaan itu, pada bagiannya jangan sekali kali melupakan sejarah Bung Karno, ketika memerdekakan Indonesia,” terangnya.
Giri melanjutkan, kemerdekaan itu hanya jembatan emasnya saja, untuk menuju bangsa Indonesia yang lebih baik lagi, dengan kemerdekaan itu, mengingatkan lagi bagaimana para pejuang merintis jembatan emas itu, yang telah begitu banyak pengorbanan. “Mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri, tapi para pejuang ini memikirkan bagaimana anak cucu mereka hidup dialam kemerdekaan dan mengisi dengan pembangunan,” tukasnya.

Sementara, Wakil Ketua PWNU Sumsel, Hernoe Roesprijadji menuturkan, ulama dan santri sangat berjasa dalam merebut kemerdekaan. Bentuk dari kegiatan ini untuk tidak menghilangkan jasa para ulama dan pahlawan nasional. “Mereka yang sudah mendului kita doakan semoga para pahlawan tenang, sedangkan para pahlawan yang masih hidup perlu perhatian khusus, karena masih banyak para veteran yang hidup dalam kekurangan,” tuturnya.
secara simbolis, Giri Ramanda, Romlan Holdan, Hernoe Roesprijadji dan Fitri Agustinda, melakukan penaburan bunga di pusara makam Gubernur Sumsel pertama Dr AK Gani. (tul)

















