YOGYAKARTA, fornews.co–Markas dan Dapur Umum Stafkwartier Sub Wehrkreise (SWK) 103 menjadi saksi sejarah pertempuran sengit melawan Belanda.
Markas di bawah Pimpinan Letkol Soehoed itu berada di Desa Watulangkah, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebanyak 41 pejuang gugur dalam pertempuran yang berlangsung pada 19 Desember 1948 – 29 Juni 1949.
“Monumen itu untuk mengenang pertempuran melawan Belanda,” ujar Sali (52) Ketua RT. 02, Watulangkah, Kamis (25/6/2020) sore.
Monumen markas dan dapur umum SWK 103 itu dibangun oleh Shaidi, mantan pejuang yang kini sudah meninggal.
“iki arep tak gawe tetenger (tempat ini ingin saya bangun sebuah monumen),” kata Sali menirukan ucapan Shaidi.
Sali yang beberapa kali pernah bertemu dengan Shaidi sebelumnya tidak tahu jika Shaidi adalah seorang mantan pejuang.
Monumen itu dibangun bersamaan dengan wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
“Seingat saya sekitar tahun 80-an bersamaan dengan mangkatnya Sultan Hamengku Buwono,” ucapnya.
Sebelum Shaidi meninggal, almarhum pernah berpesan kepada Sali untuk ikut menjaga tempat bersejarah.
Kata Shaidi, imbuh Saili, monumen itu dibuat juga untuk mengenang jasa-jasa masyarakat Dusun Plempoh, Watulangkah.
Monumen markas dan dapur tersebut berada di tanah seluas 1000 meter persegi milik keluarga Sali.
Ayah Saili, yang bernama Turut, adalah salah satu orang yang berjasa dalam perjalanan kemerdekaan RI.
Kini markas dan dapur umum tersebut tampak tidak terawat. Terkesan jauh dari perhatian pemerintah.
Warga berharap, monumen sebagai “tetenger” itu dapat dijadikan museum sebagai tempat ngangsu kaweruh bagi generasi hari ini. (adam)
















