TANAMAN lada yang dikenal juga sahang atau merica, dikenal tanaman menjalar bisa mencapai ketinggian 3 meter (m) hingga 5 m ini, umumnya ditanaman di lahan yang luas. Namun, tanaman jenis ini rupanya ada juga yang tidak membutuhkan media tanam diperkebunan atau lahan yang luas.
Pekarangan rumah 3×3 m pun bisa membudidayakan lada, atau dikenal sebagai lada perdu. Dimana tanaman ini hanya memiliki ketinggian kurang dari 1 m, dengan media tanam polybag sehingga bukan hanya bernilai ekonomis, juga mempercantik pekarangan rumah.
Seperti halnya Ayu (26), warga Kelurahan Kemelak Bindung Langit, Kecamatan Baturja Timur, Ogan Komering Ulu (OKU), ini. Dirinya memanfaatkan halaman rumahnya yang hanya berukuran 5×6 m tersebut untuk bercocok tanam lada perdu. Dengan luas tanah tersebut, Ayu dapat menanam sahang perdu sebanyak 100 batang dengan menggunakan media limbah galon isi ulang air meneral.
“Harga bekas galon kita beli diloakan seharga Rp3.000 satunya. Jadi, selain hemat tempat, media tanam menggunakan galon bekas dapat menghemat modal. Jika menggunakan polybag harus diganti 3 sampai 5 bulan sekali, karena dalam kurun waktu tersebut polybag akan rusak. Lain dengan galon bekas, media tanam ini dapat bertahan bertahun-tahun,” terang Ayu, kepada fornews.co, Minggu (11/06).
Dijelaskan Ayu, lada ini berbeda dengan lada biasa dijumpai, lada ini desebut dengan lada perdu, karena tanaman biasanya merambat, tapi tidak untuk lada perdu ini. Lada yang sengaja dikerdilkan ini tidak akan merambat, tanaman ini hanya akan tumbuh sebatas pinggang orang dewasa.
“Kelebihan lada perdu, kita tidak perlu membutuhkan lahan yang luas, cukup 3×3 m saja sudah bisa menanam 100 batang lada perdu. Jadi, kita yang tidak memiliki lahan atau tanah yang luas, kita masih bisa berkebun komodity jenis ini,” tuturnya.

Mengenai usia tumbuh lada perdu, juga relatif lebih singkat ketimbang lada biasanya. 7 sampai 10 bulan, tanaman ini sudah mulai belajar berbuah. Umur 1,5 hingga 2 tahun tanaman ini sudah masuk masa produktif dan durasi panen 1 tahun 2 kali. Jika sudah produktif, lada perdu dapat menghasilkan buah 3 kilogram (kg) dalam satu batang. Memang berbeda jauh dengan lada pada umumnya, yang dapat menghasilkan satu pohon mencapai 15 kg.
Lantas bagaimana dengan tanahnya?, apakah dengan tanah sedikit tersebut lada perdu dapat berkembang dengan baik? Ibu muda dengan satu anak ini, memberi tips agar media tanaman lada perdu menggunakan pupuk organik, seperti kompos atau kotoran hewan ternah kemudian dicampur tanah atau sekam padi. Kalaupun tidak bisa membudidayakan sendiri, bibit tersebut dapat dibeli perpolybag seharga Rp10.000 atau lebih.
Untuk bercocok tanam, Ayu mengaku, harus sabar dan juga memperlajari cara baik menanam tanaman. Sebelum melakukan penanaman, harus membuat pupuk kandang terlebih dahulu. Yakni, sekam padi kita campur dengan kotoran kambing dan tanah, diamkan selama satu minggu, jika sudah ada rumput yang hidup di tanah campuran tersebut, berarti tanah tersebut sudah bisa dipakai.
“Biasanya membutuhkan waktu 3 sampai satu minggu untuk membuat tanah sekam dan kotoran kambing menyatu,” kata Ayu.
Saat ini, lada perdu yang ditanam Ayu di pekarangan rumahnya, sudah berumur 1 tahun dan buahnya terlihat mulai menguning yang artinya tidak lama lagi akan panen. “Yang membuat enak nanam lada perdu ini, kita tidak perlu lagi pergi pagi kekebun untuk membersihkan kebun. Sebab, setiap pagi keluar rumah, tanaman tersebut dapat dilihat, penyiramannya juga mudah dan dapat diawasi kapan saja,” ucapnya.
Ia mengaku, aktivitas yang digeluti bersama suaminya itu, wanita yang kesehariannya sebagai TKS di salah satu instansi di Pemiab OKU, ini juga sudah membuat sendiri bibit lada perdu untuk dijualnya kembali. “Manfaatkan tanah walau kecil. Banyangkan jika dalam 1 batang dapat menghasilkan 3 kg lada basah,” pungkasnya. (gus)

















