PALEMBANG, fornews.co – Pneumonia adalah kondisi di mana terjadi peradangan pada kantong udara (alveoli) di paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur. Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae.
Pneumonia bisa menyebabkan timbulnya gejala, seperti demam tinggi, nyeri dada, batuk berdahak, sesak napas, napas cepat, denyut jantung cepat, dan badan lemas. Bakteri dan virus penyebab pneumonia mudah menyebar melalui droplet atau percikan air liur saat penderita batuk atau bersin.
Untuk itu, penularannya terbilang cukup rentan dan mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dalam kondisi di tengah pandemi ini, pneumonia menjadi salah satu hal yang sangat harus dihindari, untuk itu dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari salah satu benda yang harus selalu ada yaitu masker.
Menghindari kontak erat dengan menjaga jarak tak kurang dari dua meter juga dapat menjadi salah satu solusi. Selain sebisa mungkin menghindari kontak dengan penderita, salah satu metode yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari pneumonia pada masa adaptasi kebiasaan baru adalah dengan melakukan imunisasi.
Saat ini, tersedia imunisasi PCV (pneumococcal conjugate vaccine) yang bisa digunakan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Streptococcus pneumonia adalah salah satu jenis bakteri yang bisa menyebabkan pneumonia.
Imunisasi ini penting dilakukan jika Anda termasuk dalam kelompok orang yang berisiko terserang pneumonia. Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan jadwal imunisasi.
Salah satu jargon yang bisa memudahkan Anda untuk melindungi diri dari pneumonia adalah “AKAL Sehat Cegah Pneumonia”, yakni: Awas bahaya pneumonia; Kenali penyebab dan gejalanya; Ayo imunisasi PCV untuk mencegah; Lakukan dengan konsultasi dokter.
Salah satu kelompok usia dengan risiko terkena pneumonia tinggi pada kelompok usia 65 tahun (usia lanjut) atau pada orang-orang yang memiliki kondisi berikut:
- Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya akibat menderita HIV/AIDS, menerima donor organ, menjalani kemoterapi, mengonsumsi obat imunosuopresan, dan memiliki kondisi kesehatan khusus, seperti tidak berfungsi atau tidak terbentuknya limpa (asplenia).
- Menderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung,penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit ginjal, atau asma.
- Memiliki kebiasaan merokok, kecanduan alkohol, atau mengalami aspirasi (masuknya benda asing ke dalam saluran napas atau paru-paru). (rif/aldk)
















