
PALEMBANG-Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mewujudkan Kota Palembang sebagai kota percontohan penggunaan transportasi antar moda. Bahkan, Menhub Budi Karya Sumadi akan memberikan bantuan bus Damri untuk mewujudkan hal tersebut.
“Konsep intermoda yang lengkap itu di sini (Palembang). Ada kereta api, bus, dan bus air. Kami pikir ini konsep yang baru diterapkan di Indonesia dan sekaligus bisa menjadi contoh. Untuk bus, ini sudah bicara dengan Wali Kota Palembang, butuh sekian-sekian. Jadi akan kita lakukan tambahan bus. Tapi lebih banyak bukan memberikan subsidi. Jadi nanti Damri akan kesini dengan 50 hingga 100 bus untuk menyelesaikan masalah-masalah ini,” ungkapnya, saat kunjungan ke Stasiun Kereta Api Kertapati, Palembang, Sabtu (15/10).
Budi menjelaskan, berkaitan dengan angkutan yang sudah ada, ya tetap berjalan tidak apa-apa. Tapi, yang ada itu bisa dialihkan ke tempat-tempat yang ekonomis, swasta dan BUMD, sedangkan tempat-tempat yang perintisan kita bantu bus Damri.
“Walaupun Kemenhub biayanya dipotong, tapi kita bisa delivery dengan memberikan subsidi. Memberikan subsidi ini bisa memberi satu jaminan, apa yang kita lakukan benar-benar dilakukan. Karena beberapa daerah, kita kasih bus, belum tuntas. Jadi ini menyelesaikan dua masalah, yakni menyelesaikan kekurangan anggaran dan masalah kepastian memberikan bantuan itu,” jelasnya.
Budi menyatakan, untuk berapa bantuannya, pihaknya harus melakukan studi lagi. Karena di sini ada dua modus, yakni transportasi dan parawisata. Kalau parawisata sudah cukup bagus. Jadi yang akan dikonsentrasikan itu, untuk transportasi, mungkin 40 sampai 100 bus, itu yang akan dibantu nanti. “Bentuknya seperti apa, bentuk yang lebih aman security dan safety itu nomor satu. Itu akan kita sampaikan untuk menjadi satu konsep baru, pergerakan dari satu titik ke titik lain itu bukan saja melalui darat. Karena darat sudah full,” ujarnya.
Tentang transportasi antar moda sendiri, papar Budi, pada longterm atau lima tahun mendatang, memang pihaknya telah merencanakan itu. Bahkan dia sudah bicara dengan Dirjen Kereta Api, akan dibuat dulu kereta api dari Kertapati menuju ke Indralaya dengan jarak 25 km. Jadi transmusi itu tidak memenuhi jalan umum, karena sudah punya kereta api, dengan jadwal keberangkatan pagi dua kali dan sore dua kali. Namun untuk pertama-tama ini satu kali keberangkatan dulu.
“Bayangkan kalau kereta api itu punya gerbong misalkan enam, dikalikan 80 penumpang, itu bisa mengangkut 600an orang. Dua kali angkat selesai itu dan tidak memenuhi tempat-tempat. Nanti dari bandara hingga ke Jembatan Ampera ada stasiunnya. Dari stasiun itu, kawan-kawan bisa turun, terus ikut kapal (bus air) hingga ke Stasiun Kertapati. Dari Stasiun Kertapati bisa menuju kota-kota yang akan dituju, seperti Prabumulih, Lubuklinggau dan sebagainya. Tapi memang masih ada problem. Untuk kota-kota yang jauh tersebut, memang dibutuhkan waktu-waktu tertentu, yakni sore dan malam hari,” paparnya.
Kemudian, mengapa konsep dari bus air ini bagus, urainya, karena semua ingin membuat Sungai Musi ini menjadi bagian depan rumah, bukan bagian bekalang rumah. Budi mengapresiasi apa yang telah dilakukan Wali Kota Palembang, yang sudah meminta warga membuat Sungai Musi ini menjadi bagian depan rumah. Kalau ini ini semuanya dilakukan, maka parawisata di Palembang akan bagus.
“Memang, antara kegiatan ekonomi, sosial, culture (kebiasaan masyarakat) ini bisa dipadukan dalam satu konsep bersama. Angkutan antar moda ini menjadi konsep masa depan, oleh karena itu saya sudah bicara dengan Gubernur Sumsel dan Wali Kota Palembang dan akan dibantu Kemenhub angkutan. Karena ini bisa menjadi satu contoh bagi satu kota, yang nanti dikembangkan bisa di Pontianak, Samarinda atau kota-kota yang mempunyai sungai besar,” pungkasnya. (tul)

















