JOGJA, fornews.co — Sri Sultan Hamengku Buwono X berpidato melalui rekaman audio tentang bahaya virus corona tersebar malalui sosial media.
Dalam pidatonya, Raja Jogja itu mengaku tidak sedang melawan arus terhadap bahaya virus corona yang berpotensi dapat merenggut nyawa manusia.
“Banyak pihak yang mendikotonomikan protokol kesehatan dengan ekonomi padahal seharusnya tidak demikian. Keduanya tidak saling menafikan, tapi saling melengkapi,” ucapnya.
Menurut Sri Sultan kesehatan menjadi hal yang utama agar manusia tetap dapat melakukan aktivitasnya. Bahkan ia memberikan pandangan terhadap orang yang sakit dan sehat.
“Dengan cara mengatasi pandemi seraya memulihkan ekonomi, bukankah jika sakit orang tidak bisa lagi produktif?” imbuhnya, “sebaliknya jika ia sehat tapi tidak bisa makan ia pun akan jatuh sakit.”
Meski mengaku tidak berpendapat melawan arus terhadap bahaya virus corona, namun kemungkinan justru sebaliknya: Raja Jogja dilema.
“Dilema memang, saya tidak sedang berpendapat melawan arus bahwa bahaya serius korona berpotensi banyak merenggut nyawa.”
“Saya juga sepakat akan kemungkinan itu.”
Sebagai Raja sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan prihatin terhadap merebaknya kasus virus corona yang tidak sebanding dengan secepat penanganannya.
Atas keprihatinannya itu, Sri Sultan mengaku sedih karena banyak yang meninggal saat melakukan tugas kemanusiaan.
“Saya lebih sedih lagi karena pahlawan kesehatan banyak yang syahid di lahan pengabdian demi kemanusiaan,” ungkapnya.
Lalu sebaiknya bagaimana? lanjut Sri Sultan, pilihannya harus jalan tengah hidup berdampingan dengannya sambil mematuhi disiplin yang menjadi syaratnya.
Hidup mengisolasi diri terus-menerus akan berdampak buruk bagi ekonomi.
Melonggarkan aturan. Membuka peluang ekonomi agar bergerak lagi, karena perlakuan new normal harus dikompromikan tentu belum bisa tumbuh instan.
“Dengan kapasitas belum penuh setidaknya ekonomi bisa berjalan bertahap,” terangnya.
Dijelaskan, ukuran keberhasilan new normal bukan kembali ke kondisi sebelum wabah meski produksi dapat dikatakan–digerakkan 100%–tapi outputnya pun pasti lebih lamban.
Dengan new normal ini, kata Sri Sultan dalam rekaman audio tersebar di sosial media, Senin (8/6/2020), masyarakat bisa beraktivitas ekonomi bersamaan menerapkan protokol kesehatan agar penyebaran wabah tetap bisa dikendalikan.
“Jika kita berhasil memberlakukan era new normal tanpa memicu lonjakan gelombang kedua Covid-19,” kata,”kita akan bisa keluar dari ancaman pertumbuhan ekonomi negatif tahun 2020.”
Jaringan bisnis dan klaster industri merupakan mekanisme ampuh untuk mengatasi segala keterbatasan itu.
Kolaborasi dan kemitraan UMKM terhadap perusahaan besar dan lembaga pendukung publik dengan dukungan pemerintah daerah.
Hal tersebut berpotensi mengembangkan keunggulan lokal yang spesifik dengan daya saing lebih besar karena tergabung dalam klaster.
Kata Sri Sultan, pilihan jenis usahanya mungkin bukan lagi yang lama karena konsumen akan berhemat dengan prioritas untuk bertahan hidup.
Sri Sultan berharap rakyat Indonesia dapat segera keluar dari kesulitan.
“Semoga kita bisa keluar dari jebakan kesulitan ini,” pungkasnya.

















