PALEMBANG, fornews.co – Gempa tektonik 7 Skala Richter (SR) yang berpusat di lereng utara timur laut Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada pukul 18.46 WIB ternyata diikuti tsunami. Gelombang air laut yang sampai di beberapa pantai cukup kecil yaitu di bawah 50 cm dari permukaan air laut di waktu normal.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati menjelaskan, dari hasil pemodelan pihaknya, gempa kali ini berpotensi tsunami. Bahkan dari catatan pihaknya, tsunami sudah terjadi di beberapa titik. Namun memang peringatan tsunami ini adalah level waspada atau paling rendah karena potensi tsunaminya paling tinggi 50 cm.
“Meski di bawah setengah meter, namun peringatan tsunami tetap harus disiarkan. Karena gelombang bisa lebih tinggi tergantung kondisi topografi pantainya,” ujar Dwikorita pada press conference di Kantor BMKG Jakarta, Minggu (05/08) malam.
Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan, berdasarkan tide gauge terdeteksi gelombang tsunami di Desa Carik yang berada di pesisir Lombok Utara dengan ketinggian 13,5 cm dari rata-rata permukaan air laut pada 18.48 WIB. Lalu kenaikan permukaan air laut juga terjadi di Desa Badas, Sumba Utara, pada pukul 18.54 WIB dengan ketinggian 10 cm dari rata-rata permukaan air laut. Kemudian terpantau pula tsunami di Desa Lembar, Lombok Utara setinggi 15 cm dari permukaan air laut rata-rata pada 19.27 WIB. Selanjutnya di Benoa juga terjadi kenaikan air laut 2 cm dari permukaan air laut rata-rata pada pukul 19.58 WIB.
“Dengan memperhatikan catatan tide gauge terjauh dan tercatat pola gempa bumi susulan yang semakin melemah maka pada pukul 20.25 WIB, BMKG secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami. Lalu pada pukul 20.40 hasil monitoring kami ada 27 kali gempa bumi susulan dan mungkin akan terus ada gempa susulan lainnya,” papar mantan Rektor UGM ini.
Dwikorita juga menjelaskan, meski biasanya tsunami mengiringi gempa yang berpusat di laut, namun gempa kali ini yang episenternya berada di darat juga bisa menimbulkan tsunami. Hal itu disebabkan, episenter bukan titik tapi bidang patahan atau zona dimana robekan memanjang masuk ke bawah dasar laut sehingga berpotensi memicu terjadinya tsunami. (ije)

















