SLEMAN, fornews.co—Sebuah Monumen Sabo Dam di Desa Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terlihat tidak terurus dan dipenuhi semak belukar.
Monumen penting itu untuk mengingatkan masyarakat menjaga keberadaan Sabo Dam dan lingkungan agar selalu asri.
Sabo Dam yang dibangun atas kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang dimaksudkan untuk mengurangi aliran lahar dingin disertai material vulkanik sehingga dapat meminimalisir risiko bencana banjir.
Dengan dibangunnya Sabo Dam, daerah pemukiman, irigasi, pertanian dan pariwisata di sekitar kawasan Gunung Merapi menjadi aman.

Namun, banyak orang tidak mengetahui kapan Sabo Dam di Kali Gendol itu dibangun.
Mereka hanya mengetahui cerita Batu Besar di perlintasan yang katanya tidak bisa dipindah saat pembangunan Sabo.
Beberapa kali dipindah, namun batu raksasa itu tetap kembali seperti semula.
Mochammad Amron, saat masih menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, pernah mengatakan monumen Sabo Dam di Kali Gendol itu untuk mengingatkan masyarakat agar menjaga keberadaan Sabo.
“Dengan adanya monumen tersebut masyarakat dapat menjaga fasilitas Sabo Dam sehingga lingkungan dapat terpelihara secara asri, menyenangkan dan bermanfaat,” katanya.

Monumen yang diresmikan tahun 2005, dihadiri Perwakilan JICA berikut Perwakilan dari Kementerian Jepang, bahkan tidak diketahui oleh sejumlah pamong setempat.
Monumen Sabo Dam itu diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, pada tanggal 4 Agustus 2005.
Fungsi Sabo Dam untuk menahan dan mengurangi kecepatan aliran lahar yang membawa material vulkanik.
Harapannya agar Sabo Dam dapat meminimalisir risiko bencana banjir lahar di hilir sungai sehingga kelestarian lingkungan sekitar Merapi tetap terjaga.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan meski pasir dan batu tertahan Sabo Dam, namun, airnya masih tetap bisa mengalir.
“Kalau bendungan menahan air sedangkan Sabo Dam menahan pasir dan batu sementara ainya tetap bisa lewat,” katanya dalam kunjungan kerjanya di Yogyakarta pada 4 Februari 2021 lalu.

Letusan Merapi beberapa kali menyebabkan kerusakan di daerah pemukiman.
Berdasarkan data BPPTKG, sebelum erupsi 2010 Gunung Merapi memiliki ketinggian mencapai 2.966 meter di atas permukaan laut.
Merapi juga tecatat pernah mengalami 68 letusan dan belasan letusan di antaranya mengakibatkan kerusakan dan korban manusia. (adam)
















