JOGJA, fornews.co – Lima belas tahun bukan sebatas penanda usia bagi Nahdlatul Muhammadiyyin (NM). Di tengah perubahan zaman dan dinamika NM memilih kembali pada khitah awalnya menjadi ruang untuk merawat persaudaraan sekaligus memelihara tradisi berpikir.
Peneguhan itu ditandai dengan peringatan Milad NM ke-15 yang digelar di Jogjakarta, Ahad malam, 9 Agustus2026. Belasan anggota dan sahabat NM hadir dalam pertemuan yang berlangsung sederhana, ditandai pemotongan tumpeng sebagai simbol kebersamaan.
Milad tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pertemuan rutin NM.

NM sepakat menjadikan setiap tanggal 9 malam sebagai waktu berkumpul, berbagi gagasan dan menjaga hubungan persaudaraan.
Namun, pola pertemuan kali ini tidak lagi seperti sebelumnya yang digelar setiap pekan. Pertemuan bulanan dipilih sebagai bentuk penyesuaian terhadap kesibukan dan perjalanan masing-masing anggota.
Bagi NM, perubahan pola pertemuan bukan berarti mengurangi ikatan. Justru, pertemuan itu diarahkan untuk kembali pada semangat awal, yakni selebrasi, penataan diri masing-masing, paseduluran, dan berpikir.
NM didirikan oleh Mustofa W Hasyim dan Marzuki Kurdi. Dalam perjalanannya, komunitas ini pernah menjadikan kediaman Mustofa W Hasyim di kawasan Kauman sebagai salah satu ruang berkumpul dan berdiskusi, terutama pada 2014.
Dari ruang-ruang pertemuan tersebut, NM kemudian berkembang sebagai semacam rumah berpikir. Bukan sebatas tempat berkumpul, tetapi ruang untuk mempertemukan pengalaman, kegelisahan, pengetahuan dan gagasan para anggotanya.

Lek Trip salah seorang yang terlibat dalam perjalanan NM, melihat keberadaan komunitas ini tetap penting karena setiap orang membutuhkan ruang untuk kembali bertemu, berpikir dan menata kehidupannya masing-masing.
Semangat itu kemudian dirumuskan dalam gagasan bahwa NM bukan organisasi yang harus terus bergerak dengan pola yang sama. Namun lebih merupakan ruang yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk tumbuh dengan jalannya sendiri, sembari tetap memiliki ikatan persaudaraan.
Dalam perjalanan 15 tahun, pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang bagaimana mempertahankan NM, tetapi apa yang selanjutnya dapat dilakukan NM.
Pertanyaan itu menjadi penting karena usia 15 tahun menempatkan NM pada fase baru. Pengalaman masa lalu tidak hanya dirayakan sebagai nostalgia, tetapi menjadi pijakan untuk membaca masa depan.
Sejumlah nilai yang melekat dalam perjalanan NM kembali ditekankan, antara lain cinta dan kesetiaan, ilmu dan kebijaksanaan. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga NM agar tetap menjadi ruang yang terbuka bagi proses pemikiran dan pengejawantahan gagasan.
Mustofa W Hasyim menempatkan NM sebagai ruang pengejawantahan. Artinya, gagasan yang muncul tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi dapat menemukan bentuk dalam kehidupan masing-masing anggotanya.
Dalam konteks itu, berbagai simbol dan metafora yang berkembang di lingkungan NM—termasuk Punakawan dan Pakpol—menjadi bagian dari cara komunitas ini membaca dirinya sendiri.
NM pun diarahkan menjadi semacam panjangka, ruang yang memiliki fungsi menjaga, mempertemukan dan menghubungkan perjalanan para anggotanya.
Setelah 15 tahun, NM tidak sedang berusaha kembali menjadi dirinya yang lama. Komunitas ini justru mencoba menemukan kembali ruh awalnya dengan cara yang lebih sesuai dengan keadaan para anggotanya hari ini.
Pertemuan setiap tanggal 9 malam setiap bulan menjadi langkah kecil untuk menjaga keberlanjutan itu.
Sebab, bagi NM, kebersamaan tidak selalu harus diwujudkan melalui pertemuan yang sering. Yang lebih penting adalah tetap tersedia ruang untuk saling menyapa, merawat paseduluran, berpikir, dan memberi arti pada perjalanan masing-masing.
Pemotongan tumpeng pada Milad ke-15 akhirnya menjadi simbol sederhana dari gagasan tersebut merayakan perjalanan, menata kembali langkah, dan membuka ruang bagi pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan NM setelah memasuki usia 15 tahun.
















