YOGYAKARTA, fornews.co–Persiapan Garebeg Besar, Kraton Yogyakarta melakukan prosesi Numplak Wajik di Pelataran Kemagangan Kraton Yogyakarta, Jumat (9/8/2019) sore.
Prosesi ini sebagai persiapan Hajad Dalem Gerebeg Besar, Hari Raya Idul Adha 1440 H pada Senin, 12 Agustus 2019.
“Gunungan Hajad Dalem ini sebagai salah satu wujud rasa syukur Kraton dan rakyat Yogyakarta,” jelas KRT Widyo Bayu Kusumo kepada fornews.co.



Numplak Wajik, imbuhnya, merupakan prosesi menumpahkan wajik di badan Gunungan Putri.
Wajik yang terbuat dari ketan dan gula merah ditumpahkan pada kerangka bambu yang sudah disiapkan. Selanjutnya dibentuk hingga berbentuk gunungan.
Tumplak wajik juga bisa diartikan sebagai ketenteraman, kesuburan dan kemakmuran.
Diawali dengan doa bersama, para abdi dalem menumplak (menumpahkan) wajik ke dasar Gunungan Wadon. Gunungan itu kemudian diberi mustaka dan dibalut dengan kain atau dibusanani.
Selama prosesi pembuatan redi atau ardi yang berarti gunung, upacara Numplak Wajik di Bangsal Panti Pareden diiringi gejog lesung yang dilakukan oleh sejumlah abdi dalem hingga selesai.
Gejog lesung sebagai simbol penolak balak dan mengusir segala yang jahat agar tidak mengganggu jalannya prosesi.
Saat berlangsung prosesi, tradisi mengoleskan parutan empon-empon berwarna kuning yang biasa disebut Bengle, paling ditunggu warga, katanya bisa menyembuhkan penyakit.
Alasan mengapa harus diawali dengan pembuatan Gunungan Wadon (baca: Gunungan Putri) karena kehidupan diawali dari seorang perempuan. Namun dalam kirab garebeg justru Gunungan Lanang-lah yang berada di depan. Ini karena laki-laki ditakdirkan sebagai pemimpin.
“Ini untuk gerebeg besar,” kata KRT Widyo.
Tradisi garebeg ini diadakan 3 kali setiap tahunnya, lanjut KRT Widyo, yakni Garebeg Mulud (Maulid Nabi), Garebeg Syawal (Idul Fitri), dan Garebeg Besar (Idul Adha).
Garebeg Mulud tahun ini disiapkan sejumlah gunungan yakni gunungan Lanang, Wadon, Pawuhan, Gepak, dan Darat. Gunungan lainnya akan diperebutkan di Plataran Masjid Gede Kauman dan Puro Pakualaman, dan satu gunungan dibawa ke Kepatihan (Malioboro).
Istilah Tumplak Wajik muncul karena merupakan representasi perempuan yang disimbolkan sebagai Gunungan Putri atau Gunungan Wadon yang dibuat pertama kali sebelum tiga Gunungan Lanang lainnya. Hal itu dilakukan karena di dalam perempuan itulah awal kehidupan atau kesinambungan hidup dimulai.
Abdi Dalem Keparak kemudian membagikan singgul, bedak kuning yang merupakan simbol tolak bala kepada warga yang berdatangan. Pembagian singgul ini mengakhiri prosesi numplak wajik.
Dalam kirab gunungan yang dilaksanakan Ahad (11/8/21019) besok, Gunungan Wadon akan diarak di belakang Gunungan Lanang. Dari tiga Gunungan Lanang, satu gunungan dibawa ke Kompleks Kepatihan dan lainnya ke Pakualaman.
“Selain itu ada lima gunungan lain yang akan dibawa ke Masjid Besar Kauman. Lima gunungan tersebut yang nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat,” tutup KRT Widyo Bayu Kusumo. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















