FORNEWS.CO
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • All
    • Asian Games 2018
    • Babel Muba United
    • Ragam Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    Atlet panjat dinding WPSCC, Dino Pramana Dipa, usai pengalungan medali emas pada kategori Lead U-13 Putra. (fornews.co/ist)

    HBB Wall Climbing Competition 2026, 5 Climber WPSCC Rebut 5 Medali Kelompok Umur U-17 dan U-13

    Pemanjat cilik Kota Palembang, Dino Pramana Dipa, usai pengalungan medali pada katagori Boulder U-11 Putra, di Cakung, Jakarta Timur, Minggu (5/7/2026) kemarin. (fornews.co
/ist)

    Festival Panjat Tebing Kelompok Umur 2026: Dua Pemanjat Cilik Palembang Rebut 2 Emas 1 Perak

    Atlet muda cheerleading saat mengikuti Indonesian Cheerleading Association (ICA) South Sumatera Regional Championship 2026, di Lapangan Tenis Indoor Pierre A Tendean Palembang, Minggu (21/6/2026) kemarin. (fornews.co/foto: ist)

    Sebanyak 93 Atlet Muda cheerleading Unjuk Skill pada ICA South Sumatera Regional Championship 2026

    Siswa SMPN 9 Palembang, Fatih Noor Kertanegara, usai penyerahan medali juara 1 O2SN Tingkat Kota Palembang Tahun 2026 cabor Panjat Tebing, di Venue Panjat Tebing JSC Palembang, Minggu (14/6/2026). (fornews.co/foto: ist)

    Cabor Panjat Tebing O2SN Tingkat Kota Palembang, Siswa SMPN 9 Rebut Juara Nomor Lead dan Speed Putra Individu

    MENTERI Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menerima penghargaan di ajang KWP Awards 2026, di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Kamis pagi, 16 April 2026. (foto fornews.co/komdigi)

    Menpora Erick Thohir sebut Diplomasi Olahraga Penting untuk Menjaga Hubungan Negara

    Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto. (fornews.co/foto: ist)

    Ini Daftar 28 Pemain Timnas U-20 yang Dipanggil Nova Arianto Ikuti TC Surabaya

    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • All
    • Advertorial
    • Berita Foto
    • Feature
    • Gaya Hidup
    • Hukum dan Kriminal
    • Kesehatan
    • Opini
    • Peristiwa
    Direktur Utama Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika. (fornews.co/ist)

    [OPINI] Media Beretika Bukan Media yang Tidak Pernah Salah

    KEPALA Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti memimpin diskusi Konsolidasi dan Pemantapan Substansi Pengajuan Jogjakarta UNESCO World Book Capital 2028 di Ruang Wijaya Kusuma, Taman Budaya Embung Giwangan, Senin, 28 September 2026. (foto fornews.co/pemkot

    Buku sebagai Kekuatan Kebudayaan, Jogja menuju World Book Capital 2028

    STRUGGLE II Buka Ruang Inklusif bagi Seniman Neurodivergen di Ekosistem Seni Rupa

    LUKISAN karya Samodro. (foto fornews)

    STRUGGLE II: “Kolaborasi Dua Sisi” Pertemuan Tujuh Seniman di Jogja

    PATUNG kuda karya Hery Maizul turut dipamerkan di Bale Gadeng, Sagan. (foto fornews.co/adam)

    Pameran Seni Rupa ‘Merdeka dalam Perbedaan’ Ditutup Akhir Agustus

    Gelar Merti Umbul, Warga Karangwuni akan Kembalikan Fungsi Sungai Belik

    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
Sabtu, 7 November 2026
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
No Result
View All Result
Home Nasional

Orang Rimba dan Ancaman Kepunahan

Kamis, 5 Oktober 2017 | 15:05
Orang Rimba Jambi, saat berburu.(foto: dok. Warsi)

Orang Rimba Jambi, saat berburu.(foto: dok. Warsi)

JAMBI, fornews.co – Berburu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Orang Rimba Jambi, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Babi hutan, merupakan sasaran utama pemberburuan. Kalau nasib baik, kancil dan rusa jadi berkah buruan yang bisa mereka santap.

Pesatnya pembangunan dan perambahan hutan untuk alih fungsi hutan menjadi perkebunan besar, faktor terbesar atas ancaman kelangsungan hidup bagi Orang Rimba yang kian tersingkirkan. Punahnya hewan buruan, hal ini juga mengancam kepunahan bagi Orang Rimba.

Sore itu, matahari mulai matahari mulai meredup di balik pepohonan dan berganti malam. Sebelum gelap malam menyelimuti, Tumenggung Ngilo, bergegas meninggalkan kebun karetnya. Bersama puluhan Orang Rimba, Ngilo, memacu sepeda motornya menyusuri jalan setapak berbelukar menuju kediaman di Pemenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

BacaJuga

Indonesia Resmi Calonkan Tuan Rumah Olimpiade 2032, Jokowi: Jadikan Momentum Menata Diri!

Gara-gara Berita Cek Fakta, Wartawan Liputan6.com Jadi Korban Doxing

Presiden Jokowi Sebut Daya Saing Digital Indonesia di Asean Masih Rendah

Load More

“Sekarang ini sudah susah untuk dapat kancil dan rusa. Paling sering itu dapat babi. Kalau sedang tidak berburu, saya nyadap karet di kebun,” tutur Ngilo, kepada koresponden Independen ketika ditemui di kediamannya, Jumat (12/04/2017) lalu.

Bagi Orang Rimba Jambi, untuk berburu merupakan rutinitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Butuh waktu dua hingga tiga malam di dalam hutan untuk Ngilo bersama kelompoknya berburu. Dengan sentuhan teknologi, mereka sekarang mengandalkan kecepek, menyerupai senjata api laras panjang.

Kemampuan berburu dan merakit senjata api ini, didapatkan Ngilo, dan Orang Rimba secara turun temurun. Meski dengan sentuhan tangan-tangan yang tak mengenal baca tulis, senjata rakitannya mampu menembus buruan dan jarang meleset dari bidikan. “Kalau tidak berburu, tidak makan,” katanya.

Dari hasil buruan itulah, nantinya yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok Orang Rimba. Mereka tidak hanya mengkonsumsi daging hasil buruan. Melainkan, jika mendapat buruan lebih, sebagian dijual untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lain bagi Orang Rimba. Tak jarang, mereka pun mencari ubi untuk dimakan ketika tak ada tangkapan.

Diakui Ngilo, kebutuhan pangan kelompoknya saat ini, dirasakannya semakin sulit. Mereka, tidak bisa mengandalkan hasil buruan saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada kalanya mereka harus mengumpulkan berondolan sawit di kebun warga untuk dijual. Kadang memungut buah pinang yang jatuh berserakan di kebun warga.

Hasil memungut berondolan sawit dan pinang ini mereka jual Rp7.000 per-kilogram (Kg). Rata-rata mereka bisa menjual sampai 10 Kg. Sedangkan untuk kebun karet, Orang Rimba di bawah kepemimpinannya harus bergantian mengolahnya. “Pernah beras satu kilo (1 Kg) harus dibagi-bagi. Kami utamakan beri makan anak kecil,” katanya.

Kondisi seperti ini harus mereka lalui setiap hari. Tak heran, penyakit mudah menyerang kelompoknya, karena asupan makanan yang kurang. Diagnosisnya petugas penyakitnya maag. “Mungkin karena jarang makan,” ungkapnya.

Ngilo berharap pemerintah peka terhadap kondisi mereka. Ia tidak melupakan bantuan tempat tinggal kepada beberapa kelompok Orang Rimba. Namun, menurutnya, kebutuhan lahan untuk berkebun jauh lebih penting. Karena kebanyakan bantuan rumah dari pemerintah juga tidak digunakan kebanyakan Orang Rimba di Jambi.

Tidak jauh berbeda dengan kelompok Tumenggung Ngilo, kelompok Orang Rimba di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi juga mengalami hal serupa. Meski sudah mengenal teknologi, mereka masih harus keluar masuk hutan untuk mencari makanan dan berjalan hingga 8 kilometer (Km) menuju kebun mengambil makanan.

“Tempat tinggal yang disediakan pemerintah jauh dari lahan pangan,” kata Njalo, Orang Rimba di bawah kepemimpinan Tumenggung Grip.

Persoalan lainnya, di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas, sudah semakin sempit untuk kehidupan Orang Rimba Jambi. Akibatnya, hewan buruan juga semakin sulit didapatkan. Mencari jernang, getah karet dan damar menjadi pilihan yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan uang membeli kebutuhan makan sehari-hari.

Nasib Njalo pun tak jauh beda dengan Ngilo. Jika tak mendapat hewan buruan, getah karet belum bisa dijual, damar dan jernang juga tidak ada, mereka terpaksa makan gadung (umbi-umbian mengandung racun, yang banyak tumbuh di hutan.

Meski beracun, diakuinya, Orang Rimba sangat mahir mengolah tanaman beracun ini. Dengan cara, Gadung dimasukan ke dalam karung, kemudian di rendam ke dalam sungai mengalir beberapa hari. Selanjutnya, Gadung dijemur dan diiris untuk direbus. “Kadang juga makan Benor dan Umbut (keduanya umbi-umbian di dalam hutan),” bebernya.

Untuk berburu, diakui Njalo, mereka bisa melakukan dengan dua cara. Pertama, menggunakan Kecepek (menembak), kedua dengan memasang jerat. “Jerat kami buat dari kulit kayu. Dipasang di lintasan hewan buruan. Dibiarkan dua hari, biasanya ada Babi yang terjerat,” jelasnya.

Diakui Njalo, Orang Rimba tidak memakan binatang ternak. Hanya memakan binatang liar di dalam hutan. Ini sudah tertuang dalam adat Orang Rimba. “Kami tidak makan hewan ternak seperti Ayam, Kambing, Sapi, dan Bebek. Karena bagi kami, Ayam itu Kuwau di dalam hutan, Kambing itu Kijang, dan Sapi itu Rusa,” ucapnya.

Dengan adanya aturan adat ini, menjadikan Orang Rimba dengan orang desa tidak saling berebutan buruan binatang. Orang Rimba tidak akan mencari binatang ternak, dan orang desa tidak mencari binatang di dalam hutan. “Aturan ini juga menjadi perjanjian Orang Rimba dengan orang dusun,” imbuhnya.

Adaptasi

land clearing perusahaan perkebunan di tempat tinggal Orang Rimba Jambi. (foto: dok. Warsi)

Sementara itu, Robert Aritonang, Manejer Program Konservasi dan Pemberdayaan KKI Warsi menjelaskan, bagaimana pola Orang Rimba Jambi, dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sejak 1997, dirinya melakukan penelitian terhadap kehidupan Orang Rimba, sudah terjadi berbagai perubahan pola pemenuhan kebutuhan pangan Orang Rimba.

Dikatakannya, kebiasaan Orang Rimba memenuhi kebutuhan pangan yaitu berburu, meramu dan bercocok tanam. Ketiga cara ini masih ada yang melakukan dan ada yang tidak. Karena, tidak semua Orang Rimba hidup di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas.

“Orang Rimba yang masih di dalam (hutan), masih berburu, meramu, dan bercocok tanam. Sedangkan yang tinggal di luar taman nasional sudah ada yang berkebun karet,” terangnya.

Meski sudah ada yang berkebun karet, berbeda dengan petani karet lainnya. Selain kebun karet yang tidak luas, hasil karetnya dijual hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Seperti membeli gula, kopi, rokok dan ikan,” kata Robert.

Memakan Gadung, Benor dan Umbut, itu biasanya dilakukan Orang Rimba ketika memasuki masa Remayo (paceklik). “Biasanya Remayo itu terjadi ketika mereka sedang Belangun (mengembara meninggalkan suatu tempat karena ada kematian anggota kelompok),” ungkapnya.

Selama perjalanan Belangun, Orang Rimba memakan Gadung, Benor dan Umbut. “Itu akan kelihatan di sepanjang perjalanan mereka. Ada bekas galian tanah mencari Gadung, Benor dan Umbut,” ungkapnya.

Memakan umbi-umbian hutan ini, kata Robert, merupakan cara Orang Rimba memenuhi kebutuhan karbohidrat. Sedangkan untuk protein, babi hasil buruan merupakan binatang  paling sering dikonsumsi. Ada juga hewan sejenis kura-kura yang dikenal Orang Rimba dengan nama Si Bodo. “Kalau dapat sarang Si Bodo itu, mereka bisa mendapatkan sampai puluhan ekor,” katanya.

Sedangkan binatang yang paling gampang didapatkan untuk dikonsumsi Orang Rimba yaitu Katak dan Kelembuai (Keong). “Pola memenuhi kebutuhan pangan ini masih dilakukan Orang Rimba yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) atau di sekitarnya (kebun perusahaan dan warga),” katanya lagi.

Namun, sambung Robert, Orang Rimba yang sudah tidak tinggal di dekat kawasan taman nasional jauh lebih sulit hidupnya dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena, mereka tinggal di kebun-kebun sawit atau karet yang tidak terdapat makanan yang biasanya lebih mudah didapatkan di dalam hutan.

“Seperti di Pamenang Bangko, tidak mungkin Orang Rimba di sana menemukan hutan. Hanya mengandalkan berburu babi. Kalau saat Remayo, mereka mengambil buah sawit yang jatuh untuk dijual. Bahkan, ada yang merebus buah sawit untuk dimakan,” paparnya.

Meski persoalan pangan Orang Rimba belum menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jambi. Ini terbukti tidak ada program pertanian dan ketahanan pangan mengarah khusus kepada Orang Rimba Jambi.

“Kalau khusus untuk Orang Rimba Jambi, dari provinsi tidak ada. Tapi kalau unuk program ketahanan pangan juga dilakukan di tiap kabupaten. Mungkin ada programnya di daerah,” kata Badrun Tamam, Plt Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Senin (15/05/2017).

Dikemukakannya, program Pemerintah Provinsi Jambi, mengarah kepada bantuan ke tiap desa. “Program untuk desa ini juga bagi Orang Rimba yang ada di desa-desa di Provinsi Jambi,” ujarnya.

Salah satu masalah program pertanian untuk Orang Rimba Jambi kata Rudi Syaf, Manejer Program dan Komunikasi KKI Warsi, yaitu ketersediaan lahan yang tidak memadai di sekitar Orang Rimba Jambi. “Salah satu solusi lahan pertanian untuk pangan Orang Rimba Jambi, yaitu areal di bawah pemegang izin hutan produksi mengalokasikan untuk Orang Rimba berdasarkan teritorial masing-masing,” katanya.

Kematian

Persoalan pangan yang berujung kematian Orang Rimba, sudah terjadi sejak tahun 1997. Bahkan kematian secara beruntun. Terakhir di tahun 2015, puluhan Orang Rimba mati beruntun dalam tiga bulan.

Memang bukan karena tidak mendapatkan makanan, mereka langsung meninggal. Tapi karena asupan makanan yang kurang, mengakibatkan Orang Rimba gampang terserang penyakit. “Daya tahan tubuh mereka lemah, penyakit gampang menyerang,” kata Robert.

Ditambah lagi, tidak adanya fasilitas kesehatan terdekat. Anak-anak tidak pernah diimunisasi dan tingkat gizi rendah. Belum lagi land clearing alias menggunduli lahan, hanya tersisa hamparan tanah, yang dilakukan perusahaan perkebunan di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelasa adalah wilayah Orang Rimba hidup dan mencari makan.

Land clearing  rata-rata mencapai 200 hektare perbulan yang dilakukan tiap perusahaan. “Jangankan manusia, binatang saja tidak bisa hidup di areal land clearing,” jelas Robert.

Kondisi seperti ini kata Robert semakin memperparah kondisi Orang Rimba ketika sedang Belangun. Sulit menemukan makanan sehingga kekurangan asupan makanan/gizi dan daya tahan tubuh, menjadi lemah dan gampang terserang penyakit.

Dari data KKI Warsi, sedikitnya 10 perusahaan hutan tanaman industri (HTI) berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Total keseluruhan areal HTI 318.648 hektare.

Menurut Robert, untuk jangka panjang, jaminan perlindungan hak Orang Rimba atas kawasan hidup termasuk lahan dan sumber daya di dalamnya, harus dilakukan negara. Perlindungan ini terutama yang berada atau tumpang tindih izin konsesi HTI dan HGU perkebunan.

Bagi perusahaan yang sudah terlanjur melakukan okupasi terhadap kawasan hidup Orang Rimba, Robert mendesak, agar pemerintah turun tangan memastikan hak Orang Rimba mendapat kompensasi dari perusahaan. Kompensasi yang dimaksud tak lain jaminan kehidupan jangka panjang dari perusahaan. Berupa lahan atau kebun, atau bagi hasil keuntungan perusahaan.

Karena hutang perusahaan kepada Orang Rimba berbeda maknanya dengan tanggung jawab sosial. Robert mengatakan upaya mendapatkan kembali hak Orang Rimba di tanah leluhur yang sudah dikuasai perusahaan perlu didorong berbagai pihak seperti LSM, Komnas HAM, media dan akademisi. “Perlu tindakan darurat untuk Orang Rimba mengalami malnutrisi dan sakit,” katanya.

Tidak hanya menyediaan makanan, penambahan gizi, pemberian inmunisasi, terobosan administrasi untuk layanan kesehatan juga perlu segera dilakukan. Robert mencontohkan, Puskesmas mobile untuk Orang Rimba dengan sumber daya pendukungnya, dapat menjadi salah satu tindakan segera untuk menjangkau layanan ke mereka.

Akhir 2015, Lembaga Eijkman mengeluarkan data hasil penelitian kerentanan terhadap penyakit pada Orang Rimba Jambi. Penelitian dilakukan terhadap penyakit seperti malaria dan hepatitis. 583 Orang Rimba diperiksa dalam penelitian ini.

Hasilnya, prevalensi Hepatitis B Antigen Orang Rimba menunjukkan hiperendemisitas. Pada populasi dewasa 33,9 persen (hiperendemik). Prevalensi ini tinggi di semua kelompok usia 17-55 tahun (usia produktif). Tertinggi pada rentang usia 36-40 tahun, dan menurun pada usia > 55 tahun. Tidak jauh berbeda dengan penderita Malaria.

Mengatasi persoalan kesehatan Orang Rimba Jambi, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengatasinya dengan program pelayanan kesehatan bergerak di daerah terpencil. Kegiatan ini dilakukan di lima lokasi berbeda dalam satu tahun.

Fitri Balgis, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengatakan petugas telah melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Orang Rimba. Termasuk sosialisasi bagimana pola hidup bersih dan sehat. “Seperti sosialisasi kesehatan terhadap ibu dan anak,” katanya, Senin (15/05/2017).

Ia mengatakan setelah beberapa kali pertemuan dengan Orang Rimba Jambi, perilaku hidup tidak sehat masih sering ditemukan. Karena, Orang Rimba Jambi hidup berpindah-pindah dan tinggal di pondok-pondok. “Penyakit kulit, flu dan kutu rambut sering kami temui,” katanya.

Kematian beruntun yang menimpa Orang Rimba Jambi menurutnya hubungan dengan ketersediaan pangan. Akibatnya persoalan gizi kurang sangat dominan. “Daya tahan tubuh kurang dan mudah terserang penyakit,” tukasnya. (*) Bersambung

Penulis: M Ramond EPU

(Tulisan ini masuk nominasi Penganugerahan Peliputan Media Terbaik tentang isu Keadilan Pangan – GROW 2017 AWARD berdujul “Berburu dan Meramu Pangan untuk Bertahan”)

Bagikan Ke

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru)
Tags: FeaturedNasional
Deskripsi Banner

ADVERTISEMENT
Previous Post

Gerindra Tetap Komit Usung Aswari Rivai untuk Sumsel 1

Next Post

Netralitas TNI Diperlukan Antisipasi Gangguan Keutuhan NKRI

Please login to join discussion
Wali Kota Lubuklinggau, Rachmat Hidayat. (fornews.co/ist)
Metro-Sumsel

Buntut Bonus Atlet Disabilitas Peraih Medali Peparprov 2025 Belum Cair, Wako Lubuklinggau Angkat Bicara

Kamis, 5 November 2026

LUBUKLINGGAU, fornews.co - Wali Kota (Wako) Lubuklinggau, Rachmat Hidayat, angkat bicara buntut viral nya keluhan atlet catur disabilitas peraih medali...

Read more
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto usai melakukan pertemuan tingkat tinggi antara SKK Migas dengan INPEX, Samsung dan mitra bisnis lainnya, pada Selasa (3/11/2026). (fornews.co/ist)

Industri Hulu Migas Indonesia Jajaki Peluang dan Bangun Kemitraan Lewat ADIPEC 2026

Rabu, 4 November 2026
Tim HSE PT OKI Pulp and Paper Mills bersama Polres OKI dan Polsek Air Sugihan saat melihat kondisi area Cooling Tower yang habis terbakar, Selasa (3/11/2026) malam. (fornews.co/ist)

Cooling Tower PT OKI Pulp and Paper Mills Terbakar hingga Viral, Polres OKI Gelar Investigasi Bersama

Rabu, 4 November 2026
Kabareskrim Polri Komjen Asep Safrudin saat menyampaikan penetapan tersangka pada konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/10/2026). (fornews.co/tangkap layar)

Lakukan Akses Ilegal Sejak 2025, 3 Jenderal Termasuk Listyo Sigit Resmi Jadi Tersangka Penyadapan Presiden

Selasa, 3 November 2026
Kusmanto didampingi tim kuasa hukumnya Advokat Lisa Merida saat melaporkan oknum polisi ke Bidpropam Polda Sumsel, Selasa (3/11/2026). (fornews.co/ist)

2 Oknum Polisi Polres Ogan Ilir Dilaporkan ke Propam Polda Sumsel, Diduga Terlibat Mafia Tanah

Selasa, 3 November 2026
No Result
View All Result
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
  • Login

© 2019 FORNEWS.co | PT.SENTRAL INFORMASI BERDAYA.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In