YOGYA, fornews.co – Di masa Paku Alam VII bertahta Kadipaten Pura Pakualaman mengalami pergeseran budaya Surakarta dan Yogyakarta setelah mempersunting putri Paku Buwana X.
Pergeseran itu sempat memunculkan anggapan Pakualaman adalah wakil dari Kerajaan Surakarta yang berbeda dengan Karaton Yogyakarta Hadiningrat.
“Padahal Pakualaman awalnya justru bercorak Yogyakarta karena Paku Alam I merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwana I,” terang Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Projokusumo.
Hal tersebut diungkapkan KRMT Projokusumo dalam diskusi bertajuk “Memayu Hayuning Bawana: Penanaman Nilai-nilai Keistimewaan pada Generasi Muda” di Pakualaman pada 2 Juni 2023.

Munculnya identitas baru di masa Paku Alam VII memengaruhi gaya busana, tari dan gending di Kadipaten Pura Pakualaman yang semula identik budaya Yogyakarta.
Namun, identitas baru itu lebih dominan dengan budaya Surakarta sejak GBRA Retnopuwoso menjadi permaisuri Paku Alam VII.
Hal itu justru berdampak positif karena menghilangkan fanatisme kedaerahan sehingga Pakualaman memiliki dua budaya yang berdampingan sangat harmonis.
Kekayaan budaya yang dimiliki Pakualaman tersebut tidak lepas dari peristiwa bersejarah karena setiap Praja Kejawen memiliki ciri tersendiri.
Ada 4 praja kejawen yaitu Karaton Surakarta, Karaton Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.
Masing-masing praja memiliki kekhasannya. Karaton Surakarta terkenal dengan kesenian, Karaton Yogyakarta dengan heroik kepahlawanan, Kadipaten Mangkunegaran dengan kesusastraan dan Kadipaten Pakualaman terkenal dengan pendidikannya.
Masuknya budaya bercorak Surakarta itu berlangsung hingga Paku Alam VIII bertahta di Kadipaten Pura Pakualaman.

Setelah tahta berganti kepada Sri Paduka KGPAA Paku Alam IX budaya Pakualaman dikembalikan ke masa awal—sebelum Paku Alam V bertahta.
Perubahan itu karena sebagian wilayah Yogyakarta juga merupakan milik Kadipaten Pakualaman sementara Pakualaman sendiri berada di wilayah Yogyakarta.
Selain itu, sambung KMRT, rakyat Kadipaten Pakualaman juga merupakan masyarakat Yogyakarta yang sebagian di antaranya berada di Adikarta.
Di masa Adipati BPH Suryodilogo yang kemudian bergelar KGPAA Paku Alam V inilah Pakualaman mulai terkenal dengan gerakan pendidikan hingga melahirkan tokoh seperti Ki Hajar Dewantara.
Hingga munculnya Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara cucu dari Sri Paduka KGPAA Paku Alam III Kadipaten mengalami perubahan dalam hal pendidikan.
Sejak saat itulah Kadipaten Pura Pakualaman semakin terkenal dengan pendidikannya yang melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia hingga ke mancanegara.

Pengaruh Tari Gaya Surakarta
Seni dan budaya Pakualaman memiliki kekhasan tersendiri meski melekat gaya Surakarta dimulai Paku Alam VI bertahta.
Budaya Surakarta itu sekaligus memengaruhi seni tari dan gending di Pakualaman.
Bendara Raden Ayu Indrokusumo tidak memungkiri adanya budaya Surakarta di Pakualaman sehingga terjadi pergeseran gaya tari dan gamelan.
“Sudah diketahui bahwa putri Paku Buwana X adalah permaisuri Paku Alam VII tentu saja budaya Solo dibawa ke Pakualaman,” ujarnya, Sabtu, 3 Juni 2023.
Paku Buwono X yang sering mengunjungi putrinya juga kerap mengajarkan seni tari di Pakualaman.

Keterangan BRAy Indrokusumo kepada fornews.co, saat Paku Buwono X mengunjungi putrinya tidak hanya sehari atau dua hari bahkan bisa selama 6 bulan tinggal di Pakualaman.
Menurut cerita yang berkembang, kata BRAy Indrokusumo, konon kabarnya GBRA Retnopuwoso merupakan putri kesayangan Paku Buwono X.
Hal tersebut tidak hanya memengaruhi gaya tari Pakualaman, namun, juga termasuk busana dan gamelan.
“Perlu diketahui masa Paku Alam VII hingga VIII lebih lama bertahta dibanding Paku Alam I hingga VI ,” paparnya.
Artinya, sambungnya, Kadipaten Pura Pakualaman di masa bertahtanya Paku Alam I hingga Paku Alam VI masih lekat dengan budaya Yogyakarta.
BRAy Indrokusumo kembali menjelaskan meski setelah masa Paku Alam VIII budaya Yogyakarta lebih dominan bukan berarti Pakualaman meninggalkan gaya Surakarta.
Pakualaman justru lebih mendalam melakukan pengkajian dan penelitian terhadap budaya Surakarta dan Yogyakarta sehingga dua budaya kerajaan dapat terus lestari.

Menariknya para pengerawit dari Kadipaten Pura Pakualaman justru terkenal memainkan gending Surakarta dan Yogyakarta.
“Jadi kedua-duanya bisa dan tidak dimiliki oleh Karaton Surakarta maupun Yogyakarta,” selorohnya.
Satu lagi, bahkan ada dua gending dari Surakarta dan Yogyakarta yang dijadikan satu untuk sebuah tarian gaya Pakualaman.
Sebagai pengasuh tari di Pakualaman, BRAy Indrokusumo mengaku masih melakukan penelusuran sejarah tari yang pernah ada di Pakualaman.
Ia membuat katalog dan catatan-catatan tentang tari yang nantinya akan dibuat dokumentasi dalam bentuk visual.
Katalog dan catatan tari itu meliputi gerakan, kostum, gending, syair dan pola lantai yang digunakan untuk pertunjukan tari.
Demikian BRAy Indrokusumo, pihaknya terus melakukan pelestarian seni dan budaya Pakualaman di antaranya seni tari dengan berbagai penelitian jejak sejarah tari di Pakualaman.
“Lebih dari 75 persen sudah terdeteksi,” pungkasnya. (adam)
Copyright © 2023 fornews.co. All rights reserved.

















