YOGYA, fornews.co—Meramaikan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) pada 12-25 September 2022, Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot) melalui Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Gugur Gunung”.
Pameran yang akan digelar pada pada 18-24 September 2022 di Living Museum, Kota Gede, setidaknya melibatkan hampir 100 seniman sebanyak 75 perupa Kota Yogyakarta.
Yogya yang dikenal sebagai Kota Seni selalu ramai dengan berbagai kegiatan dan aktivitas seni di ruang-ruang publik.
Koordinator Pameran, Astuti Kusumo, menyebut pameran seni rupa tahun ini melahirkan kembali semangat kegotong-royongan setelah dihantam pandemi yang melumpuhkan kegiatan para seniman di Yogyakarta.
“Tema ‘Gugur Gunung’ sengaja diambil sebagai ungkapan keyakinan akan kekuatan gotong royong sebagai metode berkegiatan,”ungkap Astuti kepada fornews.co, Sabtu (17/9/2022).
Dengan menggandeng para perupa di Yogyakarta, Pemerintah setempat berharap pameran yang digelar tidak hanya sebatas seremonial, namun, membuat masyarakat andil mempertahankan Yogya sebagai barometer seni di Indonesia.
“Harus terus lebih baik dari tahun sebelumnya sehingga akan meneguhkan konsistensi dan kontinuitas yang tidak hanya mandeg di tangan perupa,” terang anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKP).
Dengan begitu, tambah Astuti, seni rupa menjadi dekat dengan rakyat dan Pemerintah, sehingga seni rupa tidak hanya mendekam di ruangnya sendiri.
Pameran tahun ketiga ini melibatkan perupa Supono PR, Godod Sutejo, Totok Buchori, Kompi Setyoko, Teguh Hindriyadi, Agus Almasih, Andreas Supargiyono, Dadah Subagja, Duvrart Angelo, Edi Wahyanto, Nahum Suwarsita, Tri Sasongko, AS Adam, Edi Sarwono, Bambang Heru Sunarko, Aan Arif Rahmanto, Adhik Kristiantoro, Agni Saraswati, Agung Hanafi Purboaji, Agung Nugroho, Agung Sukindra.
Juga ada perupa Agus Yuliantara, Alex Danny Santosa, Alperd Roza, Ambar Pranasmara, Amboro Liring Setiawan, Anton Yuniasmono, Arif Widarto, Arwin Hidayat, Asep Prasetyo, Bambang Pramuiyanto, Bambang Sukono Wijaya, Bambang Wisnu Wardana, Dedy Maryadi, Donas Eko Saputro, Subroto, Eduardus Leonardo Yohandrika Bayu Ajie, Edwin Istopo Raharjo, Galih Handoko Saputro.
Perupa lainnya yaitu Gunawan Edi Santoso, Guritno Perwira Aditama, Irawan Hadi Putranto, Josia Chatam Prasetyo, Khusna Hardiyanto, Ludovicus Saptajaya Virgoreza, Much Basori, Nanang Widjaya, Norman (Hendy) Hendrasyah, Nungky Riyadi Setiyawan, Nunuk Ribanu, Petrus Chrisna Wijaya, Moertjahjo Ariwibowo, RJ. Winarno, Rommy Iskandar, Sentot Widodo, Siwi Musriyati, Slamet Riyanto, Soewardi, Subaru, Sugijono, Sumartono, Suparman, Surip Isparwaji, Sutrisno Rajio, Suyudi, Taj Ega Panenggak, Yohan Widya Anugrah, Yuniarto, Yusup dan Yuswantoro Adi.
Pameran juga menampilkan karya patung meski tahun ini didominasi karya-karya lukisan kanvas.
Meski begitu, peserta pameran akan terus berganti formasi pada setiap event yang digelar agar dapat memberikan kesempatan bagi para perupa di Yogyakarta.
“Mari kita sengkuyung pameran ini , kita ramaikan, kita suarakan, kita gemakan sebagai bentuk keguyupan, sebagai bentuk sikap handarbeni dan sikap rasa memiliki,” pungkas Astuti. (adam)

















