PALEMBANG, fornews.co – Kekhawatiran rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2020 yang dilaksanakan di tengah pandemi COVID-19 tidak terbukti. Secara umum dari 7 daerah di Sumatra Selatan yang menyelenggarakan Pilkada, angka partisipasi melebihi target nasional.
Anggota KPU Sumsel Amrah Muslimin mengatakan secara nasional target partisipasi pemilih 77,5%. Sedangkan di Sumsel berada di atas angka tersebut yakni OKU Selatan 85%, Musi Rawas Utara 80,42%, Musi Rawas 80%, PALI 80%, Ogan Ilir 81,28%, OKU Timur 79%, OKU 71,19%.
“Dari persentase tersebut artinya memang tingkat partisipasi pemilih Sumsel tinggi,” ujarnya, Jumat (11/12).
Menurut Amrah, dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi menunjukkan bahwa penerapan protokol kesehatan di seluruh tahapan meyakinkan pemilih untuk tidak khawatir datang ke TPS.
“Walaupun beberapa calon ada yang pernah terpapar COVID-19, KPU dengan penerapan protokol kesehatan terutama saat debat dapat menghindari penularan COVID-19 di tahapan debat dan tahapan-tahapan lain. KPU juga telah membuktikan bahwa tahapan pemutakhiran data, verfak calon perseorangan, kampanye dan hari H terbukti tidak memunculkan klaster baru di Pilkada Sumsel,” katanya.
Amrah menyampaikan, meski semua tahapan berjalan lancar namun ada beberapa hal yang perlu dievaluasi.
“Mungkin sebagai evaluasi di beberapa tahapan kampanye calon memang diakui masih terjadi kerumunan. Namun KPU terus memberikan peringatan kepada calon dan tim untuk menerapkan protokol kesehatan saat berkampanye,” tuturnya.
Amrah pun menganalisa masih tingginya partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2020 yang digelar di tengah pandemi. Menurutnya faktor yang mempengaruhi di antaranya, calon yang diusung Parpol ternyata diterima oleh masyarakat; strategi sosiliasi melalui media sosial efektif meyakinkan masyarakat untuk memilih; peran kampanye calon kuat mempengaruhi; kesadaran masyarakat Sumsel tinggi; penerapan protokol kesehatan di TPS meyakinkan pemilih tidak takut ke TPS; faktor keamanan yang diberikan Polri dan TNI menjamin pemilih aman ke TPS.
Mengenai dua daerah di Sumsel yang calon kepala daerahnya berhadapan dengan kotak kosong yakni OKU Selatan dan OKU menjadi pembahasan yang menarik. Amrah pun mengajak masyarakat memahami kronologi mengapa calon harus menghadapi kotak kosong di Pilkada kali ini.
“OKU Selatan dari awal memang tidak ada tokoh atau elite parpol yang kita pantau untuk mencalonkan sebagai Cakada di OKU Selatan. Karena beberapa survei yang dirilis, elektabilitas petahana tinggi sekali. Sehingga Parpol semuanya akhirnya mengarahkan dukungan ke petahana,” terang Amrah.
“Lain halnya dengan OKU, di awal sebelum pencalonan, beberapa tokoh sudah terlihat melakukan sosialisasi sebelum pencalonan, dibuktikan dengan banyaknya baleho yang dipasang sebelum tahapan pencalonan dimulai. Pada akhirnya proses rekomendasi Parpol yang membuat calon lain tidak dapat mencalonkan karena tidak dapat memenuhi syarat dukungan minimal 20% kursi DPRD. Ini mengakibatkan muncul gerakan yang mendukung kotak kosong di OKU,” imbuhnya.
Meski demikian, lanjut Amrah, melihat fakta di lapangan, angka partisipasi pemilih di OKU meski di bawah nasional, termasuk tetap tinggi jika dibanding daerah lain di luar Provinsi Sumsel. Bahkan di beberapa daerah lain angka partisipasi pemilih ada yang di kisaran 60%.
“Setiap daerah tentu berbeda cara pandang pemilih dalam melihat calon yang diusung oleh Parpol. Saya kira ini bahan evaluasi bagi kami penyelenggara dan Parpol ke depan,” tukasnya. (ije)
















