
PALEMBANG-Robohnya Jembatan Gunung Batu di Desa Gunung Batu Kecamatan Cempaka, OKU Timur, Selasa (29/11) sekitar 17.30WIB, sangat berdampak pada aktivitas pengangkutan hasil bumi masyarakat di 14 kecamatan.
Menurut Tokoh Masyarakat Sumsel asal OKU Timur Herman Deru, Jembatan Gunung Batu merupakan akses utama yang menghubungkan Kabupaten OKI dan OKU Timur. Apalagi, 14 kecamatan di OKU Timur yang merupakan penghasil karet, sawit, palawija, buah-buahan, sangat bergantung pada jembatan tersebut, untuk mengangkut hasil bumi ke Palembang.
15 kecamatan tersebut, papar Deru, Kecamatan Cempaka; Semendawai Barat; Belitang I; Belitang II; Belitang III; Semendawai Suku III; Belitang Mulya; Belitang Jaya; Buay Madang; BP Bangsa Raja; BP Peliung; Belitang Madang Raya; Madang Suku I; Madang Suku II dan Madang Suku III. Sementara, untuk 5 kecamatan lain seperti Martapura; Bunga Mayang; Jayapura; Semendawai Timur; dan Buay Madang Timur.
“Ada 15 kecamatan yang memang membutuhkan akses jembatan itu untuk membawa hasil bumi mereka ke Palembang. Kalau jembatan itu roboh, berarti masyarakat yang membawa hasil bumi tersebut harus memutar lewat Baturaja. Sebagai warga OKU Timur, saya berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk segera membangun jembatan darurat. Karena, jembatan itu akses utama, bukan jalan alternatif. Setiap malam, bisa ada ratusan truk pengangkut sawit, karet, palawija, buah-buahan dan sayur dari OKU Timur ke arah Palembang,” ujarnya.
Mantan Bupati OKU Timur itu menuturkan, kondisi Jembatan Gunung Batu tersebut memang kondisinya memprihatinkan, karena memang itu jembatan lama. Namun kekokohan jembatan tersebut masih terjaga. Saat dia masih menjabat Bupati OKU Timur, di area jembatan itu dipasang warning light (lampu kuning), karena aktivitasnya sangat tinggi. “Saya juga sudah mengusulkan pembangunan jembatan tersebut ke provinsi sebelum tahun 2010, untuk mengantisipasi. Ya mungkin karena anggaran,” tuturnya.
Deru mengungkapkan, sebenarnya tidak ada pihak yang salah dibalik robohnya jembatan Gunung Batu tersebut. Namun, bisa jadi penyebabnya karena usia dan beban overload, serta adanya arus yang teralih. “Ya, karenakan disamping jembatan itu ada pembangunan jembatan baru, mungkin saja tidak memperhitungkan arus jadi arus tersebut deras sebagian dan arus tersebut teralih dan menekan pondasi jembatan lama. Selayaknya sebelum dibangun jembatan baru, jembatan lama diperkokoh dulu,” ungkapnya.
Deru menceritakan, di wilayah OKU Timur itu ada dua jembatan, yakni Jembatan Gunung Batu dan Jembatan Martapura. Jembatan Gunung Batu ini ada di ruas jalan provinsi, sedangkan Jembatan Martapura ada diluar jalan negara. Tapi dulu Jembatan Martapura sempat di rehab untuk keindahan kota, namun tetap berfungsi, walau hanya kendaraan roda dua yang boleh melintas. (tul)
















