JOGJA, fornews.co — Pajimatan Imogiri kembali seperti biasa setelah pemakaman Raja Paku Buwana XIII. Para abdi dalem terlihat bertugas seperti biasanya melayani para peziarah.
Namun, Masjid Pajimatan Imogiri menjadi saksi bisu kekurangajaran tentara Belanda yang menyerbu kompleks pemakaman Imogiri.
Nurhadi, salah seorang abdi dalem yang bertugas di Masjid Pajimatan, menceritakan bekas lubang dan sisa peluru yang masih bersarang pada pintu masjid.

“Saya tidak mengalami secara langsung, tetapi cerita itu saya dengar langsung dari para sesepuh yang jadi saksi peristiwa tersebut. Masih ada bekas peluru di pintu masjid,” ujar Nurhadi.
Di sela kesibukannya mengisi kolam masjid untuk persiapan pemakaman Paku Buwana XIII, Nurhadi, menceritakan bagaimana perstiwa itu terjadi.
Peristiwa itu terjadi pada Agresi Militer II, setelah pos-pos Belanda yang berada di Kota Jogja diserang balik pasukan gerilya Indonesia.
Pos-pos Belanda di Kota Jogja yang dihujani peluru pasukan gerilya membuat kocar-kacir seluruh tentara Belanda yang berupaya menduduki Ibu Kota Negara.
Itulah sebabnya pada keesokan harinya tentara Belanda menyerbu ke wilayah Imogiri. Tapi, ini karena ulah pengkhianat yang memberikan informasi kepada Belanda.
“Padahal, masjid dalam keadaan kosong. Tidak ada pasukan gerilya yang bermarkas di sini,” kata Nurhadi.

Informasi yang diterima mentah oleh tentara Belanda itu langsung direspon, ditindaklanjuti dengan penyerbuan.
Penyerbuan justru menyasar Masjid Pajimatan Imogiri yang berada di bawah ratusan tangga menuju makam-makam raja Mataram Islam.
Akibat penyerbuan itu pintu-pintu masjid rusak karena hantaman peluru.
Padahal, kata Nurhadi, masjid dan bangunan di sekitarnya termasuk bangunan bersejarah sejak 1863, seabad lebih setelah perjanjian Giyanti pada 1755.
“Kalau saja pada waktu itu sudah ada peraturan pelestarian cagar budaya, Belanda pasti kena sanksi,” selorohnya.

Ahad sore, 16 Januari 1949, Pasukan TNI Sub Wehkreis (SW) III melancarkan serangan ketiga terhadap pasukan Belanda, sesuai Siasat No. 10/S/Cop/49 tertanggal 11 Januari 1949.
Serangan kali ini dilakukan pukul 18.00 WIB, berbeda dari dua serangan sebelumnya yang berlangsung di malam hari.
Suara dentuman senjata bergema di antara pepohonan jati dan rumah bambu. Serangan itu bukan sekadar strategi perang, tetapi juga bentuk perlawanan simbolik terhadap Belanda yang berupaya merebut Jogjakarta yang kala itu menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.
Imogiri, yang dikenal sebagai tempat peristirahatan raja-raja Mataram Islam, berubah menjadi medan tempur.
Di sepanjang Sungai Opak dan Jalan Jogja–Imogiri, warga berlarian mencari perlindungan sementara pasukan gerilya bertahan di balik semak dan dinding tanah.
Tidak lama berselang, Belanda membalas dengan kekuatan besar. Dua kompi pasukan menduduki Imogiri dan terus merangsek Barongan, Bantul, hingga Plered.
Di sisi lain, SWK 102 bersama rakyat menebang pohon dan menggali lubang di jalan untuk memperlambat laju kendaraan lapis baja musuh.
Namun, perlawanan itu menelan korban. Di Gunung Kanigoro, 41 pejuang dan warga sipil gugur ditembaki saat berusaha melarikan diri.
“Perlawanan ini bukan hanya soal senjata, tapi tentang keberanian menjaga martabat bangsa,” tulis catatan Museum Pendidikan Nasional.
Dalam setiap pertempuran, para pejuang mengenakan janur kuning di lengan, tanda sandi “Mataram-Menang”. Simbol itu menandakan tekad pantang menyerah, bahkan di tengah kepungan musuh.
Pertempuran Imogiri merupakan bagian dari Agresi Militer Belanda II (1948–1949) yang berujung pada lahirnya Serangan Umum 1 Maret 1949, penanda kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri tegak.
Kini, jejak pertempuran itu masih bisa ditemukan. Di Masjid Pajimatan Imogiri, satu peluru Belanda masih bersarang di pintu kayu tua menjadi saksi bisu kekejaman pasukan penjajah yang menuduh masjid sebagai markas gerilyawan Indonesia.
Belanda, yang kalah di medan perbukitan dan hutan Imogiri, sempat membumihanguskan area yang dicurigai sebagai markas TNI.
Namun semangat rakyat tak padam. Dari perang gerilya yang dipimpin Panglima Besar Jenderal Sudirman, lahirlah keyakinan baru bahwa kemerdekaan hanya bisa dipertahankan dengan keberanian dan pengorbanan.
Kini, di antara angin yang berembus dari lereng perbukitan Imogiri, kisah itu tetap hidup. Setiap desirnya seakan masih membawa gema perjuangan anak bangsa. Mereka yang berjanur kuning, berjuang dalam senja, demi merah putih yang tak pernah turun dari tiangnya.

















