PALEMBANG, fornews.co – Jika diperhatikan, laga babak kedua semifinal Piala Gubernur Kaltim 2018 antara Borneo FC dan Sriwijaya FC tertunda lebih dari 10 menit. Ternyata saat itu kubu Sriwijaya FC tengah bernegosiasi dengan panitia pelaksana pertandingan soal jaminan keamanan terhadap anggota tim.
Hal itu menyusul terjadinya insiden pemukulan oleh dua orang oknum panpel terhadap bek SFC Marckho Sandi di lorong menuju kamar ganti pemain. Saat itu Marckho yang mendapatkan kartu merah oleh wasit Jerry Elly hendak masuk menuju kamar ganti. Namun entah apa sebabnya, dua oknum panpel yang berada di lorong menuju kamar ganti langsung memukul Marckho hingga mengakibatkan luka lebam di kepala bagian kiri. Kontan saja pelatih dan manajer SFC yang berada tak jauh dari TKP berang dan merangsek ke dalam untuk mencari kedua oknum panpel tersebut. Namun keduanya tak ditemukan diduga telah melarikan diri keluar dari Stadion Palaran.
Karena tak berhasil menemukan kedua oknum panpel tersebut, manajer SFC pun meminta laga tidak dilanjutkan sebelum kedua oknum yang melakukan pemukulan dihadirkan dan meminta maaf. Manajer SFC Ucok Hidayat mengutuk keras aksi ini dan meminta pihak berwajib untuk tetap mengusut hingga tuntas. “Marckho dipukul 2 orang dan disaksikan 3 ofisial SFC. Saat itu tidak ada petugas keamanan berseragam di lokasi,” jelasnya.
Terkait sikapnya yang sempat meminta pertandingan dihentikan, menurutnya hal ini untuk memberikan perlindungan bagi Alberto Goncalves dkk. “Jika tidak ada sikap tegas dari panpel, maka siapa yang bisa menjamin keamanan pemain SFC. Apalagi hal ini terjadi di area teknis yang notabene tidak sembarang orang bisa berada disana,” keluhnya.
Negosiasi pun berjalan cukup alot dan pengawas pertandingan Arif Bulqini bersama sejumlah unsur Muspida seperti Kapolres Samarinda dan Danrem menemui langsung manajemen SFC dan membujuk untuk melanjutkan pertandingan. “Kita putuskan tetap bermain karena menghormati bapak Gubernur Kaltim selaku pihak penyelenggara, namun tentu proses pengusutan jalan terus,” pungkasnya.
Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan juga angkat bicara soal insiden pemukulan yang menimpa pemainnya. Menurut RD, ini adalah turnamen pramusim yang tentunya harus ada pembelajaran buat semua elemen.
“Tadi pemain saya saat masuk ke ruang ganti sempat dipukul oleh oknum panpel padahal disana adalah ruang steril. Harus ada punishment dan reward yang dijalankan agar kejadian ini tidak terulang. Ada opsi walk out dan tekanan psikologis, kita pakai yang kedua tadi. Marilah, sudahi hal-hal yang tidak perlu seperti ini. Ayo bangun sepak bola Indonesia dengan beradab,” paparnya. (ije)

















