JOGJA, fornews.co—Akibat saluran air dipenuhi sampah ikan jenis nila berukuran besar ditemukan mati terjebak di dalam kantong plastik.
Sebuah foto bergambar ikan terjebak di kantong plastik itu diunggah di grup fesbuk Mancing Mania Jogjakarta oleh akun Fuu Erro Angler Nekaterz.
“Sedih lur,” ungkapnya prihatin mengetahui kondisi sungai penuh sampah.
“Pendak dina mben resiki kali kok nemu iwak babon pada mati. Kadang mlebu plastik. Kadang yo memang karena banyune sio wis parah (Setiap bersih-bersih sungai selalu saja ketemu ikan mati. Kadang mati terjebak dalam plastik. Tapi, kadang ya memang airnya yang sudah tercemar parah),” ujar Fuu Erro Angler Nekaterz.
Ikan nila besar yang akrab disebut babon itu ditemukan mati saat dirinya bersih-bersih sungai yang berlokasi di sekitar kawasan Jalan Imogiri Barat, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Gek sampahe poll akehe (Sampahnya sangat banyak),” katanya.
Dalam unggahan foto itu, akun Fuu Erro Angler Nekaterz, prihatin dan mempertanyakan kepedulian masyarakat terhadap sungai.
“Kapan pada isa sadar ora mbuang sampah nak kali. Kali bukan tempat sampah, tapi sumber penghidupan warisan nenek moyang (Kapan bisa sadar untuk tidak membuang sampah di sungai. Sungai bukan tempat sampah, tetapi adalah sumber penghidupan warisan nenek moyang),” ucapnya.
Para pemancing dan pecinta sungai menyayangkan sungai yang penuh sampah tidak direspon cepat oleh warga sekitarnya.
“Paling mangkel nek ndelok uwuh ning kali ngana. Prapatan Grojokan ngulon ana kalen, sampahe ora umum. Jane wadere okeh. Suwi-suwi isa punah kana wadere nek dijoki uwuh terus (Paling kesal melihat sampah di sungai. Di perempatan jalan Grojokan ke Barat ada parit, sampahnya parah. Sungai itu banyak ikan wader. Lama-lama ikan wader bisa punah kalau terus-menerus sungai dipenuhi sampah),” netizen lain akun Johan Cat, Kamis.

Diakui Fuu, di sungai itu paling sering ditemukan ikan berbagi jenis dalam ukuran kecil dan besar.
“Ciptakan UU yang dibuat oleh RT/DS mas,” gagas netizen akun Tota Tatto,”yang buang sembarangan kena denda.”

Namun, komentar Tota Tatto dibalas netizen lain yang mengatakan tidak mudah membuat aturan kecuali seluruh warganya satu suara.
“Ora gampang mas nek ngrayu RT ne. Awak dewe malah diarani meri, srei, iri karo tangga. Apa maneh suket ya nduwe kuping. Isa-isa malah dadi rasan tangga. Kecuali nek tanggane satu ide karo awak dewe (Tidak mudah merayu RT mas. Bisa-bisa oleh tetangga kita malah disangka iri. Apalagi mereka juga mendengar. Bisa-bisa malah jadi bahan gosip tetangga. Kecuali mereka satu ide dengan kita),” ujar akun Widanta Sahaja.

Kekesalan juga datang dari akun Heri Heriyanto dan Saepmurai, masih banyak orang menyalahkan pemerintah setiap kali banjir datang. Padahal yang menyebabkan banjir salah satunya adalah membuang sampah di sungai .
“Pada seenaknya sendiri membuang sampah di kali, tapi kalau banjir yang disalahkan pemerintah,” ujar Heri Heriyanto.
“Gilaran banjir do nyalahke pemimpine nggih… (giliran banjir pemimpinnya disalahkan) Mari tumbuhkan kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Saepmurai.

“Wis kebangeten nek ngana kuwi… perangkat desa ora gelem gerakne wargane pa piye? (Sangat keterlaluan… Apakah perangkat desanya sudah tidak malas menggerakkan warganya?” kata netizen akun Tri Har.
Foto itu diunggah pada Kamis (4/3/2021) dan langsung mendapat respon dari para pemancing dan pecinta sungai di Yogyakarta dan sekitarnya.

















