JAKARTA- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengemukakan, saat ini, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2017 masih dalam pembahasan pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi 2017 terjadi revisi dan mengalami penurunan dari target.
“Saat ini kami laporkan kepada bapak Presiden Jokowi, bahwa ada sedikit revisi dari pertumbuhan ekonomi, dari 5,3 menjadi 5,1,” kata Sri Mulyani usai tapat terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta. Jumat (16/09) sore.
Presiden Joko Widodo, lanjut Menkeu, menyampaikan bahwa pihaknya di minta tetap berusaha keras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meskipun tidak harus selalu menggunakan instrumen APBN.
Namun, diakui Menkeu, hal itu tentu saja akan sangat tergantung dari berbagai paket kebijakan yang ada di dalam Menko Perekonomian, untuk bisa menciptakan banyak sekali minat investasi.
Sehingga bisa menyumbangkan perekonomian, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja tahun 2017 dan bisa mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dari yang telah di bahas dengan dewan, yaitu 5,1 persen.
Menkeu juga menyampaikan, lifting minyak akan lebih tinggi dari 780.000 Barel Per Hari (BPH) menjadi 815.000 barel per hari.
Sedangkan asumsi makro yang lain, masih tetap sama yaitu inflasi 4%, suku bunga SBN 3 bulan 5,3, nilai tukar 13,3, dan harga minyak mentah Indonesia adalah 45 dolar per barel. Sedangkan lifting gas adalah 115.000 barel setara minyak per hari.
Masih kata Menkeu, dengan adanya pengurangan anggaran tahun ini presiden menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga untuk melihat anggaran lebih teliti. (pie)
















