Penulis: A.S. Adam
PLASTIK bukan sahabat manusia, apalagi bagi mahluk hidup lainnya. Parahnya, Indonesia masih memiliki jumlah besar dalam penggunaan plastik di dunia. Namun fakta ini dapat dipungkiri jika masyarakatnya menolak penggunaan plastik.
Plastik dianggap tidak praktis. Bukankah orang-orang dahulu malah menggunakan daun-daunan sebagai pembungkus?
Sandra, warga Jerman pegiat lingkungan yang kini tinggal di sekitaran Kasongan, Bantul, Yogyakarta, menyadari betul bahaya dampak plastik.
“Sampah plastik telah menjadi masalah besar di mana-mana, di dunia,” katanya, Jum’at, di Omah Guyup, Kasongan.
Plastik tidak begitu saja dapat dihilangkan. Bahkan di laut sekalipun. Walaupun dengan upaya membakar, mengubur, apalagi membuangnya, plastik hanya berubah bentuk dan tidak bisa dimusnahkan. Ini karena plastik hanya dapat terurai selama 300 tahun. “Itupun bisa lebih dari 300 tahun.”
Kita punya masalah 300 tahun, kata Sandra, dan kita semua tidak hidup selama 300 tahun. Tapi, masa depanlah yang punya masalah plastik. Itulah akibat kebiasaan buruk menggunakan plastik.
“Aku harus berhati-hati dengan plastik,” ujar Sandra memberi contoh menanamkan diri dengan kata-kata waspada. “Setiap orang bisa membuat perubahan positif.”
Ketika masa remaja, sewaktu masih di negaranya di Jerman, Sandra pernah tidak mengerti: mengapa harus ada pengelolaan sampah? Namun setelah dirinya mencari tahu tentang sampah dan asal-usulnya, terutama terhadap plastik, ia menjadi mengerti dampak bahayanya terhadap lingkungan. Terlebih jika tidak dikelola dengan baik dan benar.
Sebagai warga Jerman, ia mengaku sangat beruntung, namun di sisi lain Sandra merasa perlu keluar dari Jerman. Salah satunya ke Yogyakarta.
Baca: Hari Gerakan Satu Juta Pohon: Seniman Yogyakarta Tanam Bibit Pohon Buah di Kasongan
“Di Jerman kami sangat beruntung sudah ada pengelolaan sampah dengan sistem daur ulang. Misalnya untuk botol plastik,” ujarnya.
Di jerman, lanjut Sandra, orang bisa mendapatkan uang karena membeli minuman botol plastik. Caranya botol plastik yang kosong dikembalikan lagi kepada si penjual.
Meski Indonesia dan Jerman telah melakukan kerja sama di bidang ekonomi global. Kita harus ingat bahwa kita sekarang tinggal di sebuah dunia. Bukan lagi sebagai orang jerman atau Indonesia melainkan telah menjadi bagian dari dunia.
Sandra menjelaskan, bahwa plastik sangat dapat berakibat buruk terhadap anak-anak—juga tidak baik untuk makanan—salah satunya asap toksik (beracun) yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Bahkan asap ini dapat membunuh manusia melalui sistem paru-paru.
Sandra mengamati, banyak orang tidak tahu cara menghadapi plastik dengan baik dan benar. Masih perlu diberikan pengetahuan tentang plastik dan bahayanya.
Edukasi
KEPRIHATINAN mereka memuncak setelah hampir setahun ini tinggal di Yogyakarta. Kesadaran masyarakat Yogyakarta terhadap bahaya sampah plastik harus ditumbuhkan.
Pekan lalu di Omah Guyup, Sandra bersama temannya dari Kolombia, Amerika Selatan, Adriana, berbagi informasi tentang bahaya limbah plastik kepada warga Kasongan, Bantul.
Selama tinggal di Kasongan, mereka lantas berbagi pengalaman dan ilmu kepada masyarakat dengan memberikan edukasi perihal lingkungan dan mahluk hidup dari bahaya sampah plastik.
Mereka berharap warga Kasongan dapat hidup nyaman tanpa limbah plastik.
Sandra dan Adriana tengah berupaya turut mengatasi sampah plastik melalui pemanfaatan sampah dengan cara daur ulang.
Kepada fornews.co ia mengungkapkan bahaya limbah plastik bagi kesehatan manusia. Meski di negara-negara di Eropa telah melarang penggunaan plastik, terlebih secara masif, di Indonesia justru sebaliknya: banyak perusahaan mengambil keuntungan dari plastik.
Baca: Pernah Ngevlog di Sini?
Sampah plastik di Yogyakarta sangatlah parah—apalagi di Indonesia. Bahkan sangat ironis ada tempat sampah yang ditutup karena berasalan sampah telah penuh, tambah Sandra.
Sandra menilai, Yogyakarta dan kota lain di Indonesia masih butuh kantong-kantong daur ulang agar limbah plastik dapat mulai teratasi.
“Butuh pengelolaan sampah dengan baik,” katanya.
Bahkan menurutnya, dalam mengatasi sampah juga butuh orang-orang yang berhati-hati dengan sampah.
Di Indonesia masih banyak orang menggunakan plastik, meskipun di sebagian negara Eropa plastik justru sudah ditinggalkan. Jerman, misalnya.
“Saya yakin pemerintah di sini sudah berupaya mengatasi sampah plastik,” tutup Sandra.
Pemilik dan pengelola Omah Guyup, Andy Amrulloh, juga sependapat dengan para pegiat peduli lingkungan lainnya.
“Mungkin orang sudah menyadari dampak sampah, namun karena rasa malas akhirnya sampah selalu muncul,” ujarnya.
Andy menegaskan bahwa hal ini harus ada kerja sama dari berbagai pihak. Tidak sepihak pemerintah maupun hanya masyarakatnya. Sebab, mengatasi sampah harus melibatkan semua orang. (*)
Ikuti juga fornews.co di instagram
















