Penulis: A.S. Adam
SETELAH mengisi perut di Warung Susi, di tengah Sumbing dan Sindoro, kami bergerak menuju Desa Tieng di Kejajar. Lengkapnya di Desa Tieng, Sidorejo, Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Dinamakan warung Susi, karena berada di tengah gunung Sumbing dan Sindoro. Saya pun memulai perjalanan dari pusat keramaian di Kabupaten Wonosobo bersama tiga pegiat lingkungan mandiri dari Jogja.
Secara etimologi, kata Wonosobo diambil dari Bahasa Jawa: wanasaba, yang berarti “tempat berkumpul di hutan”. Wonosobo resmi sebagai kabupaten pada tanggal 24 Juli 1825 di bawah Kesultanan Yogyakarta.
Wonosobo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan sejumlah kabupaten, yakni Temanggung, Magelang, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, Kendal dan Batang.
Wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan daerah pegunungan. Terdapat dua gunung berapi, yakni Gunung Sindoro (3.136 mdpl) dan Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Puncak dataran tinggi Dieng, Gunung Prahu berketinggian 2.565 mdpl, menjadi favorit bagi pendaki milenial.


Sebelum memasuki kawasan Dieng, kami harus melewati loket tiket. Setiap pengunjung ditarik uang 10.000 rupiah, belum termasuk harga tiket kendaraan.
Memasuki kawasan Desa Tieng di dataran Dieng, jalan menanjak dan berkelok, membutuhkan keahlian menguasai kendaraan. Kami sering berpapasan truk-truk bermuatan besar. Padahal jalan terbilang sempit dan berbatas jurang.
Di kanan-kiri sepanjang perjalanan berbagai tanaman sayuran menjadi pemandangan. Berlatar belakang gunung Prahu yang berkabut, orang-orang Tieng masih mengurus ladangnya.
Menurut beberapa sumber di Desa Tieng, nama tieng diambil dari Bahasa Jawa tiyeng, yakni sumber mata air berwarna kekuning-kuningan.
Dalam Buku Berbahasa Jawa “Tjariyos Tanah Pareden Dijeng” tulisan Majoor L.F. Van Gent dan M. Prawirasoedirdja, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922 mengungkapkan bahwa Desa Tieng dahulu masih banyak tanah kosong. Tanah-tanah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang dari sekitar dataran tinggi Dieng.
Desa Tieng mulai berdiri tahun 1780-an. Belum diketahui pasti asal-usulnya. Masih simpang siur. Namun kedua penulis dalam buku berbahasa jawa tersebut mencatat adanya sekelompok orang dari Purworejo sedang melakukan perjalanan beristirahat di Sidengkeng. Merekalah awal mula Desa Tieng.

Kabut berubah padat, berpindah, mengikuti angin berembus di atas Desa Tieng. Rumah-rumah penduduk dan ladang, terlihat bagai miniatur, bertebaran.
Akhirnya saya sampai di Gardu Pandang Tieng di ketinggian 1789 mdpl. Dari tempat ini rumah-rumah penduduk Tieng terlihat seperti mainan dalam monopoli. Tampak kecil-kecil. Jalan-jalan yang berkelok terlihat persis mainan ular tangga.
Karena datang sore, tentu saja pemandangan indah matahari terbit di antara gunung-gunung tidak bisa saya nikmati. Kedatangan kami disambut oleh kabut tebal.
Kata warga Tieng, jika sedang cerah Gunung Sindoro terlihat jelas. Cantik. Bahkan di sebelah barat Gardu Pandang Tieng, bukit Sikunir dan Gunung Pakuwojo menggoda untuk didaki.
Meski mendekati jam enam sore, wisatawan tak henti-hentinya silih-berganti bersinggah. Mereka ingin membuktikan kesejukan alam Tieng.

Ada pula sepasang pendaki milenial tujuan Gunung Prahu mampir menghabiskan secangkir kopi purwaceng. Pengunjung lainnya menikmati panasnya semangkok baso gerobag.
Saat di Gardu Pandang Tieng, cuaca cukup dingin. Jika berencana ke Tieng, sebaiknya mengenakan jaket tebal. Sejak Bulan Juni hingga sekarang dinginnya bisa mencapai minus 8. Bahkan di sekitar Candi Dieng embun-embun di rumput beku karena mencapai minu 15.
Berada di Gardu Pandang Tieng, dinginnya seperti berada di puncak gunung. Tidak mengherankan jika banyak yang memilih berhenti di Tieng sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah di barat dataran tinggi Dieng.
Desa Tieng tentu saja membuat takjub. Suasana pedesaan di dataran tinggi Dieng, di antara gunung-gunung api, membuat saya ingin kembali lagi. Selesai menikmati kesejukan alam dan pemandangan di Gardu Pandang Tieng, kami pun pulang ke Jogja.
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
facebook:
fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















