YOGYAKARTA, fornews.co—Merembetnya dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Indonesia menggerakkan masyarakat Yogyakarta menggelar aksi protes terhadap kebijakan pemerintah.
Ratusan massa yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) DIY itu menolak PPKM yang justru tidak memberikan solusi di masa pandemi.
Menurut Ketua Serikat Buruh (K) SBSI DIY, Dani Eko Wiyono, PPKM tidak hanya melumpuhkan perekonomian rakyat kecil. Namun, juga merugikan dua sektor penting: pariwisata dan pendidikan, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Banyak pelaku usaha jasa wisata yang gulung tikar, ini karena Yogyakarta sebagai tempat wisata dan pusat pendidikan,” katanya.
Ada tiga sektor yang ditutup aksesnya, ungkapnya, antara lain sektor pariwisata, pendidikan dan sektor kebudayaan.
Menurut Dani, pemerintah setempat seyogianya lebih mengutamakan azas kemanusiaan dan keadilan guna menyejahterakan rakyat.
Pihaknya mengkritisi Pemerintah DIY yang cenderung lemah dan membuat aturan berdasarkan arahan dari Pemerintah Pusat.
“Salah kaprah! Orang berpikir kritis terhadap pemerintah justru dianggap tidak cinta NKRI dan dianggap makar.”
Penerapan PPKM yang perlahan membuat bisnis mati merupakan tindakan di luar nalar.

Ketua SBSI DIY itu membandingkan sektor-sektor ekonomi Yogyakarta dengan Jakarta. Menurutnya, dua sektor paling penting di Yogyakarta justru dimatikan. Sementara di Jakarta, sektor pabrik justru tetap beroperasi.
Berdasarkan data litbang fornews.co, akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari setahun, industri pariwisata di DIY disebut mengalami kerugian hingga Rp 10 triliun.
Dikutip dari Kompas.com, Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setya Aji, mengungkapkan angka Rp 10 triliun tersebut belum termasuk dampak ikutan yang dialami oleh eksosistem turunan pariwisata.
Dampak PPKM darurat level 4 juga menyeret para pelaku pariwisata di Yogyakarta di antaranya hotel dan penginapan, transportasi, penyedia oleh-oleh khas Yogya dan kuliner, serta agen pemandu wisata.

Disinggung tentang ramalan Jayabaya yang masyhur, Ketua SBSI DIY itu tidak menampik ada kemungkinan bakal terjadi.
Ia menganalogikan rakyat yang sebelumnya adalah daun-daun yang segar dan hari ini telah mengering.
“Menurut saya “tikus pithi anata baris” itu tinggal menunggu waktu. Seperti daun-daun kering yang mudah tertiup angin, mengumpul, dan mudah dibakar,” ungkap Ketua Serikat Buruh (K) SBSI DIY, Dani Eko Wiyono.
Dalam aksi protesnya, SBSI juga membagikan ratusan kantong sembako berisi beras, minyak, dan lauk pauk, kepada masyarakat terdampak PPKM di sekitar Titik Nol Kilometer Kantor Pos Yogyakarta, Rabu (18/8/2021).
Salah seorang penarik beca di kawasan Malioboro, Sugito, mengaku sangat senang mendapatkan sembako saat unjuk rasa berlangsung.
Sebagai masyarakat kecil, dirinya meminta kepada pemerintah untuk segera menghentikan PPKM dan segera memulihkan ekonomi rakyat.
“Sangat senang mendapat sembako,” kata Sugito (50), warga Sleman.
Sugito mengaku suaranya terwakilkan oleh aksi unjuk rasa yang dilakukan SBSI DIY. Kepada pemerintah agar tidak memperpanjang PPKM yang telah menyengsarakan rakyat kecil.

Suryani, penjual keliling jajanan pasar dan minuman siap saji, mendukung adanya aksi tersebut. Sejak PPKM darurat suaminya tidak bekerja. Suryani kini menggantikan posisi suaminya.
“Ndak mesti mas, sehari kadang dapat 30-50 ribu rupiah,” ujarnya.
Menurut Suryani, PPKM telah menyulitkan pedagang kecil mendapatkan penghasilan. Padahal, imbuhnya, kebutuhan sehari harus terus dicukupi.
“Belum lagi anak-anak saya butuh kuota untuk sekolah. Boros kuota mas…” ujar ibu dari tiga anak yang tinggal di sekitaran Malioboro.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suryani harus bejualan dari pukul 10.00 – 15.00 WIB berkeliling dari Pasar Kembang hingga Taman Pintar.
Ia sangat berharap pemerintah segera menghentikan PPKM agar anak-anak dapat kembali bersekolah dan tidak menghabiskan kuota untuk bermain games online.

Sebelumnya, massa aksi protes yang diinisiasi oleh SBSI itu akan melakukan longmarch dari jalan Kaliurang hingga Titik Nol Kilometer melewati Tugu dan Malioboro menuju DPRD Provinsi DIY.
SBSI yang sebelumnya akan mengerahkan massa sebanyak 1500 orang dari berbagai elemen masyarakat terpaksa urung dilakukan.
Hal tersebut mempertimbangkan Yogyakarta sebagai barometer di Indonesia.
Tidak hanya berunjuk rasa, SBSI DIY juga membagikan 200 kantong sembako kepada masyarakat terdampak PPKM di Sleman sehari sebelum aksi unjuk rasa bergerak. (adam)

















