PALEMBANG, fornews.co – Indonesia kini akan dihadapkan dengan pekerjaan besar di samping penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Hal itu adalah mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Presiden Joko Widodo melalui akun Twitternya mengungkapkan, persoalan ini harus diantisipasi sejak dini. “Jangan sampai api membesar baru kita padamkan,” tulis akun @jokowi, Selasa (23/06) sore.
Dalam cuitan itu, Presiden Jokowi menyebut bahwa berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak kemarau pada Agustus mendatang.
Sementara itu, dilansir dari CNN bahwa BMKG menyebut tahun ini kemarau di Indonesia lebih basah dari tahun sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan lebih sering turun hujan di Indonesia.
Baca juga : Protes dari Aktivis Lingkungan Tak Gencar Lagi, Pemerintah Klaim Berhasil Minimalisasi Karhutla
Terkait hal ini, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan saat ini Indonesia memang telah memasuki musim kemarau. Namun bukan berarti tidak akan ada hujan sama sekali di musim kemarau.
“Betul sebagian besar Jakarta telah memasuki musim kemarau. Tetapi musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali,” kata, Selasa (23/06).
Menurutnya, musim kemarau tahun ini tidak sekering tahun lalu. Kemarau tahun ini lebih basah karena El Nino dan Dipole mode berada dalam kondisi netral. Kemarau yang lebih basah ini diprediksi bisa terjadi sampai akhir tahun dengan sedikit peluang La Nina (basah) di akhir tahun, La Nina mengakibatkan musim kemarau Indonesia menjadi lebih basah karena meningkatkan curah hujan.
Definisi musim kemarau, jelasnya didapat dari akumulasi curah hujan (ch) kurang dari 50 mm dalam 1 dasarian (10 hari). Perhitungan ini diikuti dua dasarian berikutnya masing masing dengan curah hujan kurang dari 50 mm.
“Di dalam satu bulan (3 dasarian) akumulasi kurang dari 150 mm. Oleh karena itu, di awal musim kemarau kita masih melihat ada hujan apalagi kemarau tahun ini diprediksi tidak sekering kemarau tahun lalu,” kata Herizal.
BMKG turut memprediksi musim puncak kemarau akan berada pada Agustus. Saat itu, Herizal memprediksi tidak akan ada hujan yang turun sama sekali. (rif)
Baca juga : Sebaran Hotspot di Sumsel Capai 1721 Titik, OKI dan Muara Enim Paling Banyak
















