
PELUH bercucuran dan nafas terengah-engah tatkala sepeda terus digayuh (gowes). Namun demikian, semakin jauh gowesan, semakin memikat minat bersepeda khusunya masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), di tengah pesatnya teknologi outomotif sekarang ini.
Dari kesamaan hobi tersebut, terciptalah sebuah komunitas diberi nama Raja Gowes Baturaja. Yaitu sebuah komunitas sepeda gunung, khusus didesign untuk track sulit dan memacu adrenaline yakni jalan bebatuan serta tanah. Sepeda jenis ini, juga umumnya digandrungi untuk olahraga santai. Era sekarang, para produsen sepeda (gowes) memproduksi beragam nama dan model. Yaitu, sepeda gunung, sepeda jalan raya, sepeda BMX, sepeda kota (citybike), sepeda mini, sepeda angkut atau sepeda yang berdesain klasik (tua), sepeda lipat, sepeda balap, serta sepeda motor.
Dalam misinya, Raja Gowes yang semula terbentuk hanya sekedar penyaluran hobi ini, namun sekarang rutin melakukan kegiatan sosial dan berkampanye mengenai potensi wisata alam yang ada di Bumi Sebimbing Sekundang khususnya, juga mempererat kebhinekaan guna menjaga persaudaran dari berbagaimacam suku, ras, agama dan adat istiadat dengan memedomani idiologi pancasila. Sebagaimana motonya, satu sepeda 1000 saudara dan juga melestarikan lingkungan.
Kepada fornews.co H Imron HS salah seorang perintis komunitas Radja Gowes, baru-baru ini menceritakan bahwa terbentuknya Raja Gowes dilatarbelakangi hobi yang sama, yaitu gowes (mengayuh sepeda). Didasari dengan semangat kekeluargaan, bukan suatu organisasi sehingga sampai saat ini tidak ada ketua ataupun semacamnya.
“Kegiatan rutin gowes bareng setiap Sabtu-Minggu, di dalam Kota Baturaja. Kami juga sebulan sekali mengadakan tour ke luar daerah. Adapun daerah yang pernah dijajaki, yaitu kawasan Danau Ranau, OKU Selatan, (Villa Pusri Ranau-Simpang Sender-Banding Agung); Pagaralam; Curup Langgakh Kecamatan Lengkiti, OKU; Desa Lombok Lampung Barat; Banding Agung-Kota Batu-Air Panas Seminung; Kota Palembang pada event Fun Bike 60 KM dan trakhir event Tour de Saburai 75 KM di Lampung,” tutur Imron.
Lanjut dia, keanggotaan komunitas ini sendiri sebagaimana tekadnya, tidak bersifat ekslusif dan siapapun boleh bergabung di dalamnya. Mereka yang tergabung di Raja Gowes meliputi, PNS, Honorer/TKS, Politisi, karyawan swasta dan juga wiraswasta. Di sini, juga tidak ada istilah tua muda semua berbaur jadi satu. “Syarat untuk bergabung hanya satu, punya sepeda. Karena tidak mungkin, ketika kegiatan bersepeda justru kita berjalan kaki atau berlari. Atau bahkan mengendarai sepeda motor, jelas judulnya bukan lagi gowes,” ujarnya sambil tersenyum.
Bersepeda sendiri, bisa menjadikan tubuh sehat. Seluruh organ tubuh bergerak dan memerankan fungsinya dengan baik. Setiap gayuhan, akan membakar kalori dan lemak tubuh sehingga tetap terjaga dari serangan penyakit yang ditimbulkan. Banyak sekali manfaat dari bersepeda, disamping untuk kesehatan juga menekan emisi dari hasil pembakaran bahan bakar minyak oleh mesin kendaraan. “Isu lingkungan juga menjadi fokus kita. Setidaknya menjaga lingkungan, dimulai dari diri sendiri,” ucap Ketua DPD KNPI OKU ini.
Sebagai informasi, sepeda pertama kali diorbitkan oleh warga Jerman, Baron Karls Drais von Sauerbronn atau Karl Drais pada abad ke 17/18. Awalnya, sepeda dibuat dengan berbahan baku kayu dan sangat sederhana sekali. Dengan perkembangan teknologi, jenis sepeda pun beraneka ragam bentuk, serta bahan baku mulai dari besi, almunium, fiber, bahkan ada juga yang dilapisi emas.
Berikut ragam sepeda, berdasarkan bentuk dan fungsinya:
* Sepeda gunung: digunakan untuk lintasan off-road dengan rangka yang kuat, memiliki suspensi, dan kombinasi kecepatan sampai 27;
* Sepeda jalan raya: digunakan untuk balap jalan raya, bobot keseluruhan yang ringan, ban halus untuk mengurangi gesekan dengan jalan, kombinasi kecepatan sampai 27;
* Sepeda BMX: BMX merupakan kependekan dari bicycle moto-cross, banyak digunakan untuk atraksi;
* Sepeda Kota (citybike): sepeda yang biasa dipakai di perkotaan dengan kondisi jalan yang baik. Sepeda jenis sangat menekankan aspek funsional. Biasanya memiliki sebuah boncengan dan keranjang;
* Sepeda mini: termasuk dalam kelompok ini adalah sepeda anak-anak, baik beroda dua maupun beroda tiga;
* Sepeda angkut atau sepeda yang berdesain klasik (tua) termasuk dalam kelompok ini adalah sepeda kumbang, sepeda pos dan sepeda ontel yang memiliki besi kuat dan diameter roda yang besar mampu untuk keperluan berboncengan dan membawa barang;
* Sepeda lipat: merupakan jenis sepeda yang bisa dilipat dalam hitungan detik sehingga bisa dibawa ke mana-mana dengan mudah;
* Sepeda Balap: sepeda yang model handlernya setengah lingkaran dan digunakan untuk balapan;
* Sepeda Motor: bertenaga mesin dengan mengunakan bahan bakar berjenis bensin sebagai sumber daya utamanya. (ibrahim arsyad)

















