JAKARTA, fornews.co – Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiga Uno dalam debat Capres-Cawapres 2019 ke-5 (pamungkas) mengatakan, pemerintah saat ini dinilai tidak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di 5% atau disebutnya jebakan 5%.
Debat Capres-Cawapres yang mengangkat tema “Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan, dan Investasi”, itu berlangsung di Hotel SUltan Jakarta, Sabtu (13/04) malam.
Berdasarkan Cek Fakta
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa, ekonomi Indonesia tahun 2018 tumbuh 5,17 % lebih tinggi dibanding capaian tahun 2017 sebesar 5,07%. Riset Bank Indonesia (BI) terkait pertumbuhan ekonomi negeri ini juga berada diangkat 5,07% pada 2017. Di 2018 juga targetnya tetap berkutak pada angka di 5%.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri juga menilai pemerintah akan sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2019. Dia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini 5% dan tahun depan hanya akan mencapai 4,9%. Ada banyak tantangan yang akan menghambat laju perekonomian 2019 lebih tinggi dari tahun ini, salah satunya kenaikan suku bunga yang membuat pembayaran utang pemerintah menjadi lebih tinggi.
Besaran kredit yang disalurkan perbankan terhadap jumlah simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sudah mendekati 100%. Artinya likuiditas semakin ketat dan mau tidak mau, perbankan harus menaikkan suku bunganya. Sementara tingkat konsumsi dan prediksi harga minyak dunia yang naik, membuat laju inflasi semakin tinggi. “Itu semua yang membuat pertumbuhan agak sulit untuk bisa mencapai target pemerintah yang 5,3%. Harga komoditas juga cenderung ‘flat’, jadi tidak ada bonus dari peningkatan harga-harga komoditas ekspor kita,” kata Faisal seperti dikutip Antara, Kamis (27/12).
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati ketika membahas Kerangka Ekonomi Makro 2019 dengan DPR. Dalam pemaparan, Menteri Keuangan menyebutkan ada empat risiko yang dapat memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia di 2019.
Pertama, tren preferensi konsumsi masyarakat yang lebih memilih tabungan dan perubahan pola konsumsi, namun tidak tersalurkan kembali ke sektor riil.Kedua, kecenderungan investor menahan rencana investasi langsung lantaran menunggu hasil pemilu legislatif dan presiden tahun 2019 (wait and see). Ketiga, normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang berimbas pada kinerja investasi di sektor keuangan. Keempat, dampak kebijakan proteksionisme perdagangan AS terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Meskipun dihadang berbagai risiko, pemerintah tetap optimistis dan menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 pada kisaran 5,4%–5,8%. Sebagian kalangan ekonom menilai target tersebut terlalu ambisius. Pemerintah mengakui, masih sulit mencapai asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2018 sebesar 5,4%. Di lain pihak, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2019 di rentang 5,2%–5,6%.
Dalam kalkulasinya, pemerintah memperkirakan konsumsi dan investasi masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Konsumsi sebagai faktor utama akan tetap dijaga dari sisi daya beli melalui penciptaan lapangan kerja (job creation) dan inflasi yang rendah. Sementara itu, investasi diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan perbaikan daya saing dan persepsi investor.
Mengacu pada rilis data statistik terkini, kebijakan pemerintah dalam mendorong konsumsi dan investasi sebenarnya masih on the track. Tingkat pengangguran terus melandai dalam lima tahun terakhir, serta inflasi terjaga pada level yang rendah dan stabil. Selain itu, peringkat daya saing Indonesia di kancah internasional terus meningkat dan predikat investment grade dapat dipertahankan.
Puri M, CORE Indonesia menilai, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertahan di 5% terus berlanjut, Indonesia akan masuk ke dalam jebakan kelas menengah. “Indonesia sudah menghabiskan waktu 23 tahun berada di kelompok pendapatan menengah-bawah,” ujarnya pada acara cek fakta terhadap debat Capres-Cawapres yang mengangkat tema “Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan, dan Investasi”, dari pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Kantor Google Indonesia di Jakarta, Sabtu (13/04) malam. (ars)
Sumber:
– https://katadata.co.id/telaah/2018/12/31/proyeksi-ekonomi-2019-optimisme-pemerintah-vs-pesimisme-lembaga-dunia
– https://www.bi.go.id/id/lip/infografis/Pages/Pertumbuhan-Ekonomi-2018.aspx
– https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/02/06/1619/ekonomi-indonesia-2018-tumbuh-5-17-persen.html
















