BATURAJA, fornews.co – Harga bawang merah di Pasar Atas dan Pasar Baru Baturaja mengejutkan Wakil Bupati OKU Johan Anuar dan Kapolres OKU AKBP NK Widayana Sulandari yang melakukan sidak pangan jelang hari raya Idul Fitri 1439 H, Selasa (05/06).
Penyebabnya adalah harga bawang merah di dua pasar tradisional tersebut mencapai Rp40 ribu/kilogram. Padahal harga yang dirilis Kementerian Perdagangan untuk bawang merah hanya di kisaran Rp10 ribu/kilogram.
“Ini yang aneh, tadi Kementerian Perdagangan melalui Tim Terpadu Pengawasan Harga Pasar mengatakan jika harga bawang merah Rp10 ribu, lah kok di pedagang Rp40 ribu,” kata Kapolres saat mendatangi salah satu lapak pedagang sayur mayur.
Marni, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Baru Baturaja, mengatakan, dirinya membeli bawang merah dari petani dengan harga Rp38 ribu/kilogram. Jika harus menuruti patokan harga dari Kementerian Perdagangan, maka dirinya dan pedagang lainnya akan mengalami kerugian.
“Mau bagaimana lagi Bu, kami ambilnya sudah Rp38 ribu, masak dijual Rp10 ribu. Dapat apa lagi kami Bu,” kata Marni menjawab Kapolres.
Wakil Bupati OKU Johan Anuar mengatakan, tujuan sidak ini untuk memastikan stok dan tingkat harga sembako jelang Lebaran. Menurut Johan, dari pantauan hari ini, stok sembako di pasar tradisional cukup dan harganya pun relatif stabil.
“Stok aman, harganya naik wajar. Kita juga imbau pedagang untuk tidak berbuat curang,” tegas Johan.
Pedagang Keluhkan Sepinya Transaksi
Meski suasana pasar tradisional di Baturaja terpantau cukup padat, namun kondisi ini dikeluhkan para pedagang. Sebab, transaksi pedagang sembako jelang Lebaran ini masih sepi.
Seperti diungkapkan Iqbal, salah satu penjual daging sapi di kawasan Pasar Baru yang mengaku omsetnya turun drastis dibanding hari-hari biasa maupun Lebaran sebelumnya. Saat ini harga daging sapi Rp80 ribu/kilogram, atau naik dibanding sebelumnya Rp60 ribu/kilogram. “Sepi sekali pembeli sekarang, ramailah hari biasa pak,” keluh Iqbal.
Senada disampaikan Taufik, pedagang kemplang dan kerupuk di Pasar Baru Baturaja. Menurut Taufik, sepinya transaksi membuat omsetnya menurun hingga 80% dari hari-hari biasa.
“Kalau harganya cuma Rp25 ribu/kilogram. Omset saya hari biasa bisa lima juta per hari, nah sekarang cuma satu juta. Itupun susah sekali mencarinya,” tutur Taufik. (gus)

















