PALEMBANG, fornews.co – Sejumlah fasilitas di kawasan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatra Selatan (Sumsel), tampak rusak akibat tidak terawat. Bahkan kawasan seluas 16 hektare (ha), subur tumbuh ilalang dan belukar.
Pantauan fornews.co di lapangan Senin (21/01), Dekranasda yang berada di Jakabaring, Palembang, ini terbagi dalam beberapa kawasan, antara lain, kawasan rumah adat, kawasan aula, kawasan stand pameran, kawasan olahraga dan beberapa lahan terbuka.
Para remaja dan penghobi otomotif, umumnya hanya sampai di halaman gerbang utama Dekranasda. Diketahui kawasan ini, kerap untuk gelaran balap motor (sirkuit). Jarang bahkan hampir tak terlihat pengunjung berkeliling untuk menikmati rumah adat di Sumsel.
Dalam kompleks yang dibangun sejak 2004 itu berdiri 16 rumah adat di Sumsel. Namun, daya tarik itu hilang dan hanya tumbuh subur ilalang atau rumput liar dan juga belukar. Beberapa rumah adat mengalami kerusakan seperti rumah adat Lubuk Linggau, Prabumulih, Muba, Musi Rawas dan Lahat.
Selanjutnya, Aula Deskranasda yang sering dipakai untuk menyelenggarakan berbagai event pun kini hanya menjadi gedung tua tak terawat dan tak pernah ada yang mau memakai lagi. Begitu juga stand pameran yang berjejer di samping gedung mengalami kerusakan seperti genteng dan kaca jendela yang pecah serta plafon yang sudah lapuk.

Menurut Ketua Paguyuban Petugas Anjungan Provinsi Kabupaten Kota (PPAPKK) Syakbani, sebagai pihak yang untuk mengelola kawasan tersebut, bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan Dekranasda menjadi tidak terawat.
“Kurangnya Biaya menjadi kendala besar dalam menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan di Dekranasda. Dalam satu tahun saja dibutuhkan biaya sekitar Rp120 juta untuk kebersihan,” ujarnya.
Belum lagi di sana ada oknum atau preman yang meresahkan warga melakukan pungli sehingga menyebabkan pengunjung semakin sepi.
“Sebelumnya memang ada pengelola tapi belum berjalan maksimal, tapi karena kondisinya memprihatinkan sehingga diambil paguyuban. Itupun masih ada satu oknum yang tidak punya SK berdiam di salah satu gedung sering melakukan pungli untuk sepeda motor sebesar Rp3.000 dan mobil sebesar Rp10.000,” kata Syakbani.
Selain itu, kendalanya lainnya adalah belum adanya pihak ketiga yang bisa diajak bekerja sama untuk mengelola Dekranasda. Tidak adanya tempat hiburan, tidak diselenggarakan lagi event besar.
“Belum ada anggaran, belum ada pihak ketiga yang mau mengelola, sehingga memberi kesan terbengkalai dan membuat pihak kabupaten/kota tidak mensuport lagi untuk perbaikan rumah adat masing-masing. Sedangkan pihak Taman Pelangi kemarin, menjemennya kurang profesional, alat permainan kurang bagus, rusak dan membawa kesan tidak baik,” terangnya.
Syakbani berharap, ke depannya ada dana serta pihak yang dapat menjaga dan melestarikan aset khususnya rumah adat Sumsel, sehingga bisa terjaga dengan baik, dapat memberi pengetahuan (edukasi) pada masyarakat agar menjadi semakin mencintai keanekaragaman budaya yang ada di Sumatera Selatan.
“Saya berharap kepada pihak pemerintah dan pihak pengelola untuk membuat Deskranasda semakin maju, karena ini adalah aset kebanggaan Sumatera Selatan, dan ditambahkan beberapa aset yang bisa menarik perhatian, seperti rumah adat Pali, OKU Timur, dan juga penerangan,” tandasnya. (irs)

















