PALEMBANG, fornews.co-Hasil survei yang dilakukan Rumah Citra Indonesia (RCI), menunjukkan sekitar 77,1% pemilih Kota Palembang mengaku ritual keagamaannya selaras dengan Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu ada 48,7% mengaku mengidentifikasikan diri sebagai bagian NU.
“Dari hal tersebut lah, sebagai bagian dari element masyarakat dan kader Nahdlatul Ulama, kami terdorong untuk tampil sebagai bagian ikhtiar guna mendorong lokomotif perubahan dan memajukan kesejahteraan masyarakat Palembang,” ujar Wakil Ketua PW NU Sumsel, Hernoe Roesprijadji, SIP.
Berkaca dari hal itu, Hernoe menerangkan, setelah mengamati dinamika politik yang saat ini masuk bagian dari tahapan pelaksanaan Pilkada Palembang, kemudian dari hasil konsultasi dengan berbagai tokoh kyai NU di Kota Palembang dan Sumsel, pihaknya menyampaikan akan terus melakukan komunikasi politik dengan semua pihak, sebagai proses politik untuk kemashalatan umat (masyarakat).
“Kami akan terus mengkonsolidasikan struktural dan kultural serta banom-banom Nahdlatul Ulama Kota Palembang, untuk bekerja bersama rakyat di akar rumput untuk mendorong perubahan Kota Palembang. Selanjutnya, kami mengajak kepada relawan, simpatisan, dan masyarakat yang tergabung dalam tim Palembang Hebat untuk terus bekerja, menghimpun dan menyerap aspirasi masyarakat Palembang untuk mengawal cita–cita politik Palembang Hebat, sebagai jalan kesejahteran dan kemakmuran bersama,” terangnya.
Semua itu, jelas Hernoe, didasari niat dan perjuangan mereka dalam berikhtiar guna melaksanakan amanah dan berupaya untuk mengatasi berbagai problem kota Palembang. Seperti masalah kesempatan/lowongan kerja, yang tingkat kemiskinan di lapangan sangat terkait dengan keterbatasan lapangan kerja. Berdasarkan data statistik yang disampaikan BPS pada 2016, tingkat kemiskinan kota Palembang berada pada angka 12,93% dan 9,52% penduduk usia produktif menganggur.
“Berikutnya masalahan kesehatan. Data BPS menyebutkan 10 penyakit terbanyak dengan total 567.035 kasus yang menjangkit masyarakat kota Palembang. Ada 190.403 Kasus penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas akut lainnya, 79.192 kasus hipertensi esensial, dan gastroenteritis oleh infeksi, serta 177.390 kasus lainnya,” jelasnya.
Masalah selanjutnya, tentang kerawanan social dan keamanan. Berdasarkan data BPS, tahun 2016 tingkat kriminalitas mengalami peningkatan cukup signifikan sebanyak 2.944 kasus, dibanding sebelumnya yakni 12.049 kasus. Terakhir, masalah fasilitas dan infrastruktur pembangunan yang belum merata.
“Warga masyarakat yang berada dipinggiran kota belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari pembangunan yang sedang digalakkkan Pemerintah Kota Palembang. Berbagai infrastruktur jalan masih belum layak, fasilitas pelayanan kesehatan seperti sanitasi dan air bersih, ambulans, rawan terjadi kebakaran, dan sering terjadi banjir, serta penumpukan sampah,” tandasnya. (tul)
















