YOGYAKARTA, fornews.co—Setelah sempat geger perburuan barang-barang antik di Yogyakarta, rumah khas Jawa di kampung Kotagede dihargai milyaran rupiah oleh pemiliknya. Bahkan Ahmad Dhani Dewa 19 pernah mengincar bangunan pendopo yang berada di depan bangunan utama berjoglo dan berlimas milik warga Jagalan Kotagede.
“Pendopo di sisi kiri depan bangunan joglo pernah mau dibeli Ahmad Dhani seharga 900 juta,” kata Mukani. “Tapi ditolak Pemerintah Desa khawatir kehilangan cagar budaya.”


Mukani (45 tahun) honorer Dinas Pariwisata Provinsi DIY mengaku belum tahu banyak soal sejarah panjang bangunan seharga milyaran rupiah tersebut.
“Saya tidak banyak tahu soal sejarah rumah ini,” ujar Mukani, Rabu pagi.
Ia hanya mengetahui hak kepemilikan rumah sebelum akhirnya dibeli oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Semula rumah itu milik tuan Kasmad, lalu dilengserkan ke anaknya Nur Johan,” beber Mukani, warga Karangmojo, Coyudan, Gunungkidul.
Setelahnya, sambung Mukani, rumah besar milyaran rupiah milik Nur Johan dilenggserkan kepada anaknya bernama Jatikumoro, dan terakhir sah menjadi milik pemerintah.

“Sebagai upaya penyelamatan kawasan heritage,” ujar Mukani.
Rumah lawas khas joglo Kotagede akan dikembalikan seperti bangunan semula. Rencananya juga dibuka untuk umum sebagai khasanah pustaka sejarah.
Selain sebagai penjaga dan bertugas merawat bangunan beserta isinya, Mukani punya pekerjaan sampingan membuat kerajinan dari bahan tembaga.
Kini rumah khas Jawa di kampung Jagalan Kotagede yang secara turun-temurun berpindah tangan akhirnya dibeli Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seharga 3 miliar rupiah.


Berbeda dengan bangunan pendopo di tempat Kartono (60 tahun) warga kampung Citran, Jagalan, Banguntapan, Bantul. Sejak gempa 2006 silam kayu pendopo tidak semuanya bawaan aslinya. Sebagian kayu dibeli menyerupai kayu aslinya.
“Dulunya joglo, tapi setelah diperbaiki berubah menjadi pendopo,” ucap Kartono.
Lantainya terbuat dari campuran semen dan cat kolam berwarna merah. “Kelemahannya jika terkena air hujan warna catnya luntur.”
Joglo dan Pendopo berbeda fungsi, kata Kartono, Pendopo digunakan untuk kegiatan umum, sedangkan Joglo sebagai tempat istirahat bagi tuan rumah.
Bahkan, lanjut Kartono, pendopo di tempatnya tidak hanya menjadi tempat kegiatan lansia dan imunisasi, tapi juga menjadi tempat pencoblosan ketika berlangsung pemilu.
“Setelah meresmikan pendopo UGM, pak Gubernur Sri Sultan berkunjung meresmikan pendopo ini,” ujar Kartono.

Oleh Bank Dunia, pendopo milik Mashuri Syihab (penduduk lama) yang dijaga Kartono, mendapat bantuan dana perbaikan sebesar 250 juta rupiah. Syaratnya, selama 20 tahun pendopo harus diberdayakan untuk kegiatan kampung.
“Setelah 20 tahun akan dikembalikan kepada pemiliknya,” pungkas Kartono. (Adam)

















