JOGJA, fornews.co — “Selamat Pagi Donna” naskah reportase Ina Sita Nur’aina akan dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta pada, Rabu malam, 10 Desember mendatang.
Pementasan “Selama Pagi Donna” menceritakan seorang perempuan korban asusila ayahnya sendiri yang akhirnya menjadi pemuas lelaki.
Pementasan teater ini mengangkat kisah tragis sebuah keluarga yang awalnya harmonis, namun, hancur karena ulah bejat Muryoto.
Dona, anak Muryoto, akhirnya menjadi pelacur di Kota Jogja setelah ibunya mengalami kematian tragis.
Naskah yang ditulis Ina Sita Nur’aina dengan sutradara Inung Nuramin Linggau ini dimainkan oleh Teater Srikandi Pendapa Ndalem dan didukung GRK ASDRAFI.
“Teater ini juga membangun tradisi nafas perteateran nonformal yang bisa pentas dimana saja, kapan saja dalam cuaca apa saja,” sebut project teater Perempuan Srikandi, Rina Nikandaru selaku Pimpro “Selamat Pagi Donna”, di Zuaras Jalan Magelang, Ahad, 30 November.
Teater Srikandi Pendapa Ndalem yang terbentuk dari lingkungan pendapa ndalem Pakuningratan (baca: ex Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) Jogjakarta) dalam dua tahun terakhir ini telah mempresentasikan puluhan perform.
Meski pementasan ini didominasi oleh perempuan yang sibuk dengan urusan rumah sehari hari maupun pekerjan profesional lainnya, namun tidak mengabaikan profesionalitas pemanggungan manakala diprogramkan.
“Selamat Pagi Donna” dibintangi oleh Kayla Merry S (Donna), Cinta Laras (Donna muda), Daniel Godan (Muryoto), Ningsih Maharani (Surti), BRAy. Irianiparamastuti (Mami), Hastari (Assisten Mami), Wahyu Widodo (Dokter), Ara Rares (Donna kecil), Rina Nikandaru, Ana Rares, Padmini Karyanti (Buruh Gendong), Padang Arofah, Kristina Koe, Aladria, Siti Amini Munas (Tetangga), Teguh Mahesa, Greg Usanta, Krinantoro Aji Mohammad Ikhsan dan Joni Asman (Tamu Bordil).
Budayawan sekaligus pengamat teater Mahmud Elqadrie menyebut tema elegi kemanusiaan selalu berkelindan pada aras sosial masyarakat.
Menurut dia, manusia adalah subyek sekaligus obyek yang menyandang takdir dalam realitas kehidupan dan akan berhadapan cerita duka maupun cerita tentang suka.
“Dari sini kerja teater kemudian mengemasnya dalam bentuk lakon-lakon drama yang menghadirkan kembali memori tersebut untuk tujuan mengedukasi penonton,” ujarnya.

















