PALEMBANG, fornews.co – Masuk penghujung tahun 2020, masih dimasa pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Teater Potlot akan menampilkan pertunjukan Antropogenik yang ditulis dan disutradarai Conie Sema.
Antropogenik merupakan istilah untuk aktifitas manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Pertunjukannya akan dipresentasikan dalam Temu Teater se-Sumatera di Taman Budaya Jambi pada 23-25 November 2020, dan Pekan Teater Sumatera di Taman Budaya Sumatera Barat pada 26-28 November 2020.
Teater Potlot mencoba membangun diskursus tentang masa depan hidup manusia akibat perubahan iklim global. Kedua kegiatan tersebut menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari rapid test setiap anggota tim teater yang hadir, hingga menerapkan jaga jarak dan menggunakan masker.
Pertunjukan akan dipresentasikan Sari Febri Andani, Sonia Anisah Utami, Dandi Rianto, dan Hasan. Mereka adalah para mahasiswa dan pengajar di FKIP Universitas PGRI Palembang. “Sebuah presentasi kecil pergerakan transisi antara permukaan atau lapisan luar kerak bumi dengan atmosfer di bawah langit,” kata Conie Sema.
Dalam pertunjukan Antropogenik akan ada beberapa fragmen ekologi dan lanskap sebagai upaya merespons perubahan iklim dan pencemaran lingkungan akibat perilaku manusia. “Antropogenik mungkin menjadi diskursus ekologis para antropos hari ini yang menghadirkan manusia tanpa ras, datang dari masa depan,” jelasnya.
Antropogenik merupakan produksi ke-40 Teater Potlot. Sejak reborn pada 2015 lalu, Teater Potlot selalu mengusung isu ekologi dalam setiap pertunjukannya. Mulai dari Rawa Gambut, Puyang, Talang Tuwo Glosarium Project, Awang 3445 Celcius, dan Inside Plastics, yang dipentaskan di sejumlah kota di Sumatera, mulai Palembang, Bandarlampung, Jambi dan Padang Panjang.
“Kami memilih tema ekologi sebab berbagai persoalan saat ini seperti sosial, kesehatan, budaya, politik, dari lokal hingga global, bermula dan berakhir pada persoalan ekologi,” kata T Wijaya pengiat Teater Potlot.
Menurutnya, ketamakan manusia terhadap sumber daya alam sudah membawa manusia menuju akhir kehidupan manusia dan Bumi.
“Mudah-mudahan upaya kami ini memberi dampak agar kita segera mencegah tindakan yang mempercepat kerusakan Bumi yang indah ini,” tambah T. Wijaya yang telah meluncurkan novel keempatnya berjudul Cekap, berkisah tentang ketamakan manusia terhadap sumber daya alam, khususnya lahan, pada Maret lalu. (yas)
















