PALEMBANG, fornews.co – Berdasarkan hasil scientific investigation yang dilakukan kepolisian, dipastikan tewasnya satu keluarga di Villa Kebun Sirih, Kelurahan Bukit Sangkal, Kecamatan Kalidoni, merupakan kasus bunuh diri. Pelaku Fransiskus Xaverius Ong menghabisi istri dan dua anaknya sebelum menembak dirinya sendiri.
Hal itu disampaikan Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara kepada wartawan di Mapolda Sumsel, Kamis (25/10) sore. Menurut Kapolda, kesimpulan tersebut didukung hasil pengolahan barang bukti dan pembuktian secara ilmiah. Pertama, dari senjata yang difokuskan pada pemeriksaan GSR (gunshot residue) pada terduga pelaku, pihak Labfor sudah memastikan baik di tangan, punggung tangan maupun di telapak tangan itu ditemukan gunshot residue.
“Artinya dipastikan bahwa FX Ong itulah yang menembakkan senjata. Dengan kata lain dialah yang membunuh tiga korban lain dan dirinya sendiri,” terang Kapolda.
Lebih lanjut Kapolda menjelaskan, dari tulisan tangan di kertas yang ditemukan di TKP dipastikan ada kecocokan dengan buku agenda yang ditemukan dan dibandingkan.
“Labfor sudah memastikan bahwa itu tulisan tangan dia (FX Ong). Artinya tidak mungkin ada orang lain yang merekayasa,” tuturnya.
Kapolda menegaskan, berdasarkan hasil scientific investigation sudah bisa dipastikan ini murni kasus bunuh diri. Namun Kapolda belum bisa memastikan bagaimana kronologi peristiwa nahas itu. Tapi dari analisis Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara, kemungkinan yang pertama kali dihabisi istri terlebih dahulu.
“Lalu pelaku naik ke atas, sempat ngopi dulu sambil berpikir terus selongsongnya ditaruh, makanya ditemukan ada selongsong. Lalu eksekusi Rafael baru Kathlyn. Kemudian pelurunya diletakkan di meja kerja. Atau bisa juga kemungkinan setelah (eksekusi) istrinya dia nulis dulu, baru dia bunuh anjingnya si Choky dan Snowy,” papar mantan Kapolda Riau ini.
Mengenai pembantu yang tidak mendengar adanya suara tembakan, Kapolda juga mempertanyakan hal itu. Tapi bisa jadi para pembantu tersebut tidak mendengar karena tidur nyenyak sekali. Untuk kemungkinan meredam suara senjata menggunakan alat peredam atau menggunakan bantal, secara pasti ditepis Kapolda. Sebab tidak ditemukan bantal yang bolong maupun peredam suara pada senjata di TKP.
“Tapi menurut saya (letusan) revolver juga kan tidak keras banget, berbeda dengan Glock yang 9 mm. Paling cuma tarrr gitu aja ya. Saya rasa tidak mengejutkan banget. Apalagi dalam kamar,” tukas pria kelahiran Belitang, Kabupaten OKU Timur ini. (ije)

















