SEKAYU, fornews.co – Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex menyempatkan diri mampir dan meninjau pembangunan Masjid Raya H Abdul Kadim, Minggu (08/11). Masjid yang berdiri megah di Dusun I, Desa Epil, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba itu, belakangan menjadi perbincangan warga Muba karena keindahan arsitekturnya.
Betapa tidak, masjid yang dibangun di lahan seluas 5.625 meter persegi ini, disebut-sebut menjadi masjid yang termegah di Muba dengan ornamen-ornamen unik yang tidak dimiliki masjid lainnya.
“Saya berkeyakinan Masjid Raya H Abdul Kadim ini akan menjadi pusat destinasi wisata religi baru di Indonesia dan memberikan kontribusi positif untuk Kabupaten Muba,” ujar Dodi disela-sela keliling meninjau pembangunan masjid.
Mustasyar PWNU Sumsel ini mengatakan, Pemkab Muba siap mendukung dan memfasilitasi sarana prasarana yang dibutuhkan Masjid Abdul Kadim.
“Karena saat ini lahan parkir masih terbatas, kami mempersilakan para pengunjung Masjid Abdul Kadim untuk parkir di halaman SD Negeri 1 Desa Epil yang berada tepat di samping masjid,” katanya.
Dodi menambahkan, keberadaan Masjid Abdul Kadim ini tidak hanya diharapkan menjadi destinasi wisata religi baru, tetapi juga fungsi utamanya meningkatkan kualitas ibadah umat Islam.
Arsitek Masjid Raya Abdul Kadim, Surya menerangkan, pembangunan Masjid H Abdul Kadim dimulai pada April 2018, dengan mempekerjakan 70 pegawai bangunan.
“Sejumlah material dan ornamen masjid ada yang didatangkan dari Pulau Jawa dan ada juga yang impor langsung dari Italia, seperti marmer lantai dan dinding,” terangnya.
Diakui Surya, tidak ada konsep khusus untuk bangunan Masjid Abdul Kadim ini. Hanya saja sesuai pesan pemilik masjid, maka masjid yang memiliki kubah di ketinggian 24 meter tersebut akan dibuat menjadi tempat senyaman mungkin agar umat khusyuk beribadah.
“Sebenarnya pemilik masjid tidak ada keinginan konsep khusus, kita juga di lapangan instan saja mendesain arsitektur bangunannya,” kata Surya.
Ada sesuatu yang unik di Masjid H Abdul Kadim ini yaitu adanya ornamen Broken Chair yang sama persis dengan yang ada di Markas PBB Jenewa, Swiss, yang didirikan pada tahun 1997 sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan bersenjata terhadap warga sipil.
Zuli, salah seorang Pengurus Yayasan Ar Rohim selaku pengelola Masjid H Abdul Kadim mengatakan, keberadaan ornamen kursi patah tersebut merupakan keinginan pemilik masjid.
“Filosofinya kalau sedang duduk memimpin jangan lalai dengan agama dan ibadah,” ujar Zuli.
Zuli menambahkan, ornamen Broken Chair atau kursi patah tersebut dibuat dari kayu Unglen yang dipesan langsung dari Pulau Jawa.
“Jadi Broken Chair di dunia ini ada dua, satu di Swiss dan satunya lagi di Masjid H Abdul Kadim Desa Epil, Muba,” tuturnya.
Sementara itu, Camat Lais Demon Eka Suza mengatakan, atas keinginan sang pemilik Masjid H Abdul Kadim, nantinya masjid ini akan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata religi.
“Nanti akan disiapkan spot foto dan juga dipajang beberapa kendaraan kuno yang akan diletakkan di halaman belakang masjid,” terang Demon.
Demon menambahkan, sesuai amanah pemiliknya, di Masjid H Abdul Kadim yang saat ini dikelola oleh Yayasan Ar Rohim ini juga nantinya setiap tahun akan mencetak 10 hafiz dan hafiza Alquran. (ije)

















