AMERIKA SERIKAT, fornews.co — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuduh Presiden Cyril Ramaphosa adanya genosida petani kulit putih di Afrika Selatan dalam pertemuan di Gedung Putih.
Sempat terjadi ketegangan antara Amerika dan Afrika Selatan setelah Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika pada Januari lalu.
Video pertemuan Trump dan Ramaphosa di Gedung Putih pada Rabu, 21 Mei 2025, beredar dan viral di internet.
Trump menuduh Ramaphosa telah terjadi penganiayaan dan pembunuhan terhadap petani kulit putih di Afrika Selatan.
Padahal, pertemuan singkat itu untuk mengatur kembali hubungan kedua negara yang sempat bersitegang karena Ramaphosa menandatangani Undang-Undang “kontroversial”.
Meski dinilai kontroversial tapi bagi Afrika Selatan dianggap adil untuk kepentingan umum. Namun, tidak di mata pemerintahan Trump.
Pemimpin Afrika Selatan menekankan bahwa pertemuan di Gedung Putih memprioritaskan peningkatan hubungan ekonomi perdagangan dengan Amerika.
Diketahui ekspor Afrika Selatan ke Amerika telah dikenai tarif pajak 30% setelah jeda pajak impor baru Trump berakhir pada Juli.
Ketegangan Trump dan Ramaphosa juga ditengarai adanya penangguhan bantuan dana ke Afrika Selatan.
Terlebih duta besar Afrika Selatan untuk Washington, Ebrahim Rasool, pada Maret lalu telah dikeluarkan karena dituding menuduh Trump memobilisasi supremasi.
Semua tuduhan Trump yang tidak terbukti dijawab Ramaphosa justru yang paling sering mengalami kekerasan adalah orang kulit hitam.
Sementara kasus genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina dibiarkan Amerika lenyap begitu saja.
Tuduhan Trump telah beredar luas hingga kepada kelompok sayap kanan Afrika Selatan.
Atas tuduhan itu mereka menolak dengan hal tersebut. Bahkan, seorang hakim di Afrika Selatan menyebut tuduhan Trump hanyalah khayalan (halu).
Saat Trump membahas masalah ini, Ramaphosa bersikap tenang dan mencoba mencairkan suasana dengan membuat lelucon menawarkan pesawat ke Amerika.
Ramaphosa juga menawarkan sebuah buku besar yang menampilkan lapangan golf di negaranya tapi Trump menolak.
Pemutaran video di Gedung Putih
Saat menonton pemutaran video, Trump menyuruh mematikan lampu di depan rombongan tamu Presiden Afrika Selatan.
Pemutaran video di ruang Jumpa Pers yang memperlihatkan lambang salib yang berjajar di jalan diklaim Trump menjadi tempat penguburan petani orang kulit putih.
Video juga memperlihatkan protes dengan suara tokoh oposisi Afrika Selatan terkemuka yang berteriak untuk menyingkirkan petani.
“Tembak petani!” teriak Julius Malema.
Menanggapi video tersebut, Ramaphosa mengatakan tidak ada hubungannya dengan genosida dan setiap orang punya hak untuk mengekspresikan diri.
“Apa yang Anda lihat pidato yang dibuat… itu bukan kebijakan pemerintah. Kami memiliki demokrasi multipartai di Afrika Selatan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan diri,” terang Ramaphosa.
Diakui, kriminalitas di Afrika Selatan cukup tinggi. Namun, korbannya bukan hanya orang kulit putih, mayoritas dari mereka adalah orang kulit hitam.
“Kebijakan pemerintah kami sepenuhnya bertentangan dengan Malema,” jelasnya.
Kata Ramaphosa, bagi konstitusi pemerintah Afrika Selatan, Malema hanyalah partai kecil yang diizinkan untuk eksis.
Jika benar di Afrika Selatan ada pembantaian terhadap orang kulit putih mengapa delegasinya justru banyak orang berkulit putih? Tanya Ramaphosa kepada Trump.
“Jika ada genosida, ketiga pria ini tidak akan ada di sini (Gedung Putih),” selorohya.
“Tetapi Anda mengizinkan mereka mengambil tanah, dan ketika mereka mengambil tanah itu, mereka membunuh petani kulit putih. Kemudian ketika mereka membunuh petani kulit putih tidak ada yang terjadi pada mereka,” sela Trump.
“Tidak,” jawab Ramaphosa.
Terkait UU kontroversial yang ditandatangani Ramaphosa awal tahun ini tidak ada tanah yang disita berdasarkan undang-undang tanah tersebut.
Berbagai narasumber menyebut Afrika Selatan tidak merilis kejahatan rasis tapi hampir 10.000 orang dibunuh sepanjang Oktober hingga Desember 2024.
Dari jumlah tersebut 12 di antaranya adalah kasus penyerangan terhadap petani, salah satu korban di antaranya adalah orang kulit putih.
Meski begitu, sebagian besar korban adalah orang kulit hitam–bukan orang kulit putih–seperti yang dituduhkan Trump kepada Ramaphosa.
Ketika seorang jurnalis yang hadir dalam pertemuan mereka bertanya apa yang akan terjadi jika petani kulit putih meninggalkan Afrika Selatan, Ramaphosa mengatakan sebagian besar petani ingin tinggal di Afrika Selatan.
Sejumlah pengamat politik dan mantan pejabat Amerika Serikat menilai Trump selalu mencari panggung pencitraan. Tapi, kali ini malah mempermalukan Amerika.
Mantan duta besar Amerika untuk Afrika Selatan di masa kekuasaan Barack Obama menyebut pertemuan di Gedung Putih sangat memalukan.
“Benar-benar memalukan!” kata Patrick Gaspard.
Patrick menduga Trump telah menjebak Ramaphosa dalam pertemuan itu.
Trump sengaja merendahkan dan mempermalukan Presiden Afrika Selatan, Ramaphosa.
Perlakuan ini juga pernah terjadi pada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.
Meski menyerang dengan tuduhan serius, Trump, justru tidak bisa menunjukkan di mana lokasi makam korban pembantaian terhadap orang kulit putih berada.

















