
PALEMBANG, fornews.co-Asisten II Prabumulih Mhd Yusuf Arni menyatakan, sesuai dengan arahan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sumsel, masyarakat Prabumulih dipersilahkan mengusir angkutan batubara yang melintas di jalan tengah di Kota Nanas tersebut.
“Karena tadi Dishub Sumsel telah mengatakan silahkan masyarakat Prabumulih untuk mengusir angkutan batubara. Tapi, sepanjang dalam pengertian pengusiran tersebut dengan sopan santun. Mengarahkan mereka untuk melewati jalan lingkar, bukan melakukan hal-hal yang sifatnya anarkis. Kita koordinasi dulu dengan Polres, Dinas Perhubungan Prabumulih,” ujarnya, saat dibincangi usai acara konsultasi dan permasalahan KK/PKP2B di Ballroom Hotel Aston, Selasa (04/04).
Yusuf mengungkapkan, pihaknya selama ini selalu mengimbau agar angkutan batubara itu untuk melewati jalan lingkar, apalagi jalan tersebut merupakan jalan nasional. Namun, saat ini jalan lingkar sudah hancur. “Karena, perjanjian dulu setelah jalan lingkar itu diserahkan kepada Balai Besar Nasional, bahwa kalau jalan tersebut rusak, maka diperbaiki oleh angkutan batubara tersebut. Bahkan mereka pernah membawa uang kepada Pak Ridho (Wali Kota Prabumulih), agar Pak Ridho memperbaiki jalan itu, meminta agar Pemkot memperbaiki jalan tersebut. Wali kota tidak mau, karena itu urusan mereka yang sudah ada perjanjian sebelumnya,” ungkapnya.
Ternyata, terang Yusuf, saat jalan itu rusak tidak diperbaiki, bahkan angkutan batubara tersebut kembali melewati jalan tengah (kota Prabumulih). Itu terjadi sejak serah terima tahun 2014. Angkutan batubara itu melewati jalan lintas tengah saat masuk waktu Magrib, jam 23.00WIB dan Subuh. “Tanda petik, yang mengawal mereka itu siapa, kita tidak tahu. Nah, terkait banyaknya masyarakat Kota Prabumulih yang menarik uang pungli terhadap angkutan batubara, itu karena mereka iri. Mereka lantas minta juga bagian terhadap itu, jadi itulah mengapa mereka melakukan itu,” terangnya.
Makanya, Yusuf juga meminta, hentikan pengawalan-pengawalan angkutan batubara yang melewati jalan lintas jalan tengah Kota Prabumulih. Karena ini membuat masyarakat dan LSM di kota Prabumulih cemburu terhadap pengawalan tersebut. Karena ada oknum dengan seragam tertentu mau memberikan pengawalan terhadap pengusaha batubara.
“setelah kami temui masyarakat tersebut, mereka mengatakan bahwa si A itu mengawal angkutan dan dapat uang Rp100.000-200.000, lalu mereka ingin juga. Jadi munculnya pungli dan itu bukan karena preman, tapi karena masyarakat iri atau cemburu dengan adanya pengawalan tadi. Kami berharap para transportir untuk tidak melakukan pengawalan terhadap angkutan batubara,” pintanya. (tul)

















