PALEMBANG, fornews.co – Keluhan petani karet terhadap merosotnya harga komoditas andalan tanah air, terkhusus di Sumsel, ternyata ada faktor lesunya harga karet dunia.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K Edy menerangkan, bahwa kondisi yang ada sekarang merupakan akibat dari dampak harga dunia. Dengan harga karet hari ini 1,20 Dolar AS/kg dan kurs Rp14650, maka harga jual karet kering 100 persen sekitar Rp16500/kg.
“Sedangkan kekeringan getah karet petani hanya 50 persen. Belum lagi pengusaha karet harus mengelurkan ongkos ekspor. Sehingga, di tingkat pabrik harga beli karet petani Rp7000/kg. Harga karet ini lah nyampak ketimpo tanggo (sudah jatuh tertimpa tangga) pulo, memang terpukul nian (sekali),” terangnya, pada Focus Group Discussion (FGD) ‘Menggagas Alternatif Solusi Terkait Kesejahteraan Petani Karet di Sumatera Selatan’, di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumsel, Palembang, Rabu (21/11).
Alex mengungkapkan, murahnya harga karet saat ini bukan ditentukan pabrik karet. Tetapi, karena faktor dari luar negeri. Belum lagi, banyak pabrik karet di Sumsel yang sudah mengurangi jam kerja. Misa,l dari tiga shift menjadi dua shift, dan dua shift menjadi satu shift. “Beli rugi, pabrik karet sudah Senin Kamis. Rp8500 beli di petani, rugi Rp1000,” ungkapnya.
Dari kondisi ini, sambungnya, yang dapat dilakukan Gapkindo Sumsel terhadap petani adalah mengurangi untung. Namun, disisi lain, petani juga harus meningkatkan kualitas getah karet, yakni bersih, tidak banyak air dan getah karet jangan direndam.
“Dari diskusi tadi, Fraksi PDI Perjuangan sepakat akan mencari jalan keluar. Misal dengan memanfaatkan karet sebagai pencampur aspal, dan membuat produk barang jadi dari karet. Bukan untuk diekspor tetapi dipakai dalam negeri,” sambungnya.
Hadir dalam FGD ini, itu Ketua F-PDI Perjuangan DPRD Sumsel M A Gantada, SH, MHum serta anggota fraksi, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel M Giri Ramanda N Kiemas, SE, MM, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Fahrurrozi, dan Ketua Gapkindo Sumsel Alex K Edy. Serta Asosiasi Petani Karet Seluruh Indonesia (Apkrindo), Balai Penelitian Sembawa, serta sejumlah kelompok petani karet di Sumsel.
“Kami ingin mengali lebih dalam, apa persoalan yang sebenarnya terjadi penyebab murahnya harga karet di Sumatera Selatan. Setelah memetakan persoalannya seperti apa, kemudian kami mencarikan alternatif solusi agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani karet di Sumatera Selatan,” ujar Sekretaris F-PDI Perjuangan DPRD Sumsel Robby Budi Puruhita.
Robby mengatakan, 90 persen penjualan karet dunia adalah untuk pabrik ban. Sementara, kondisi saat ini, penawaran jauh lebih tinggi dari permintaan. Apalagi, persoalan karet ini sangat kompleks, ada keterkaitan faktor luar negeri, dan harga karet internasional.
“Dari faktor dalam negeri sendiri, petani belum bisa memproduksi karet secara baik dan benar. Ini menjadi tantangan pemerintah daerah, untuk bagaimana dapat meningtkan hasil produksi karet rakyat,” katanya.
Robby memaparkan, yang telah dilakukan pemerintah daerah saat ini adanya unit pengolahan dan pemasaran bahan olahan karet/bokar (UPPB), yang menerapkan sistem lelang dengan menyortir kualitas karet rakyat, yang memiliki kualitas baik akan dibeli dengan harga tinggi. “Sumsel merupakan penyumbang lebih kurang 30 persen produksi karet nasional. Artinya, harga karet sangat mempengaruhi hajat hidup orang banyak di Sumsel,” paparnya.
Robby mengatakan, F-PDI Perjuangan Sumsel akan mendorong agar UPPB ada di setiap desa di kabupaten/kota penghasil karet. Hasil diskusi juga akan disampaikan kepada pihak-pihak yang berkompeten, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Sumsel. Seperti akan mendorong Pemprov Sumsel gencar melakukan sosialisasi agar petani karet dapat mengelolah karet dengan baik dan benar, mulai dari pemilihan bibit, merawat, hingga menghasilkan getah karet.
“Kita tidak bisa mengintervensi harga internasional. Saat ini bagaimana memperbesar skala produksi dengan mengefesiensi. Bagaimana kualitas baik, bagaimana yang selama ini satu hektar kebun karet menghasilkan satu ton karet menjadi menghasilkan dua ton,” kata Robby.
Untuk Asean sendiri, tambahnya, ada empat negara ekspotir karet terbesar, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Pada dataran kebijakan nasional, bagaimana mengupayakan empat negara itu duduk satu meja membicarakan harga karet dunia.
“Hal yang penting dari diskusi hari ini, kami sudah berhasil mendudukan beberapa stakeholder untuk berbicara soal karet. Jadi Fraksi PDI Perjuangan sudah berupaya memanggil pihak-pihak berkompeten untuk membicarakan satu meja, ini jarang terjadi,” tandasnya. (tul)
















