PALEMBANG, Fornews.co – Diusia 40 tahun Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) tetap eksis untuk terus menjaga lingkungan khususnya di Sumsel. Sejumlah prestasi pun diraih demi melestarikan alam yang hijau di Bumi Sriwijaya ini.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, M Hairul Sobri menceritakan Walhi ini lahir pada tahun 15 Oktober 1980 secara nasional. Kemudian, pada tahun 90 dibentuklah Walhi Sumsel. Dimana saat itu masih dalam bentuk presedium. Tepat pada tahun 1996, Walhi Sumsel akhirnya terbentuk yang diketuai oleh Direktur, Jamilah.
“Tepatnya bulan Agustus lahirnya Walhi Sumsel yang mana sebelumnya hanya perwakilan kemudian menjadi Walhi daerah,” katanya dalam perayaan HUT Walhi ke 40 tahun, Kamis malam (16/10).
Dalam perjalanannya, sejumlah prestasi pun berhasil diraih. Diantaranya berhasil menggagalkan pertambangan di area Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) TAA.
Ia mengaku semula Walhi menolak pembangunan TAA menjadi sebuah KEK beserta pertambangan di wilayah tersebut. Mengingat, area itu berada di Sungsang yang dijadikan nelayan untuk mencari ikan. Selain itu, disekitar kawasan juga terdapat taman nasional sembilang yang merupakan rumah hayati di Sumsel serta adanya hutan mangrove.
“Karena itu, Walhi menolak adanya pembangunan KEK dan pertambangan di wilayah tersebut,” ujarnya.
Penolakan ini pun akhirnya diakomodir khususnya pembangunan pertambangan sehingga pertambangan di wilayah itu dihapuskan. Sedangkan, pembangunan KEK tetap berjalan.
“Ini merupakan prestasi dalam menjaga lingkungan di Sumsel,” terangnya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu. Pertambangan ini bisa saja dibuka kembali. Apalagi, saat ini disahkannya Undang-undang (UU) Omnibus Law sehingga pertambangan bisa dibuka kembali demi kepentingan negara.
Dengan kondisi ini, tentunya menjadi tantangan dan tugas berat bagi Walhi untuk menjaga kelestarian alam di Sumsel. Apalagi, saat ini diharapkan dengan pandemi COVID-19.
“Kami harap pemerintah mendengarkan aspirasi publik terkait Omnibus Law karena tentunya berdampak kepada masyarakat besar seperti buruh, petani dan nelayan,” tutupnya. (lim)

















