PALEMBANG, fornews.co – Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto memang belum menentukan siapa pendamping calon wakil presiden (cawapres) untuknya.
Namun setelah Partai Golkar dan PAN sudah menyatakan mengusung Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres pendamping Prabowo Subianto, spekulasi tentu mengarah ke Gibran.
Bahkan, dampak dari calon pasangan Prabowo – Gibran ini, mulai muncul pihak-pihak yang memberi dukungan ke pasangan tersebut. Seperti alumni sejumlah perguruan tinggi di Sumsel yang tergabung pada Alumni Sriwijaya menyatakan sikap dengan memberi dukungan pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres tahun 2024.
Koordinator Alumni Sriwijaya, Muhammad Rofiq SE MM menyatakan, saat ini sudah banyak sekali yang bergabung menjadi relawan Alumni Sriwijaya untuk Prabowo-Gibran.
“Setelah pasangan ini dinyatakan resmi terdaftar di KPU, kami akan melakukan sosialisasi kepada setiap lapisan masyarat sumatera selatan sehingga pasangan Prabowo-Gibran akan memenangkan pilpres 2024,” ujar dia.
Rofiq mengungkapkan, ada sejumlah faktor hingga mereka memberi dukungan terhadap pasangan Prabowo-Gibran. Pertama, terkait semangat persatuan, bahwa figur Prabowo saat ini merupakan figur yang posisinya ada di Tengah dan ingin mempersatukan seluruh potensi bangsa.
“Kedua, keberlanjutan Pembangunan. Bahwa Prabowo ingin terus melanjutkan keberhasilan pembangunan saat ini, tentu yang belum baik akan diperbaiki. Dengan adanya Gibran sebagai cawapres akan memperkuat keinginan prabowo untuk keberlanjutkan Pembangunan,” ungkap dia.
Terakhir, jelas Rofiq, tentang keterwakilan anak muda. Munculnya Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres merupakan representasi anak muda pada level pemimpin nasional.
“Jumlah pemilih pada Pemilu 2024 untuk generasi Milenial sebanyak 33,60 persen, sedangkan untuk generasi Z adalah sebanyak 22,85 persen, yang apabila digabung akan mayoritas sebesar 56,45 persen dari seluruh pemilih,” jelas dia.
Rofiq menambahkan, dengan munculnya Gibran yang tak lain putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini berusaha 36 Tahun, maka para pemilih muda tidak lagi pemilih hanya menjadi penonton tapi bisa menjadi pemain di panggung pimpinan nasional. (kaf)

















