
Catatan dan Perenungan Hasil PON XIX untuk Kontingen Sumsel
PROVINSI Jawa Barat (Jabar) baru saja menyelesaikan perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX, yang relatif sukses baik dari sisi penyelenggaraan, pementasan, dan prestasi yang diperoleh. Selanjutnya Provinsi Papua telah ditetapkan menjadi tuan rumah PON XX Tahun 2020. Provinsi Jabar telah meraih kesuksesan dalam beragam dimensi.
Bagaimana dengan kita (Sumsel) ?. Kontingen Jabar berhasil mendapat 217 medali emas, 157 medali perak dan 157 medali perunggu, total perolehan 531 medali. Berbeda dengan Sumsel yang hanya memperoleh 6 medali emas, 11 medali perak dan 14 medali perunggu, total perolehan 31 medali. Hanya setingkat lebih baik dari Provinsi NTB, Kalsel, Aceh dan lain-lain atau setingkat lebih tidak beruntung dari Provinsi Jambi dan Kalbar dan lain-lain.
Prestasi-prestasi tersebut terus melorot sejak PON XVI di Sumsel sampai dengan PON XIX di Jabar. Pada PON XVIII di Riau, Sumsel berada diposisi 14 dengan perolehan medali 10 emas, 14 perak dan 29 perunggu total 53 medali.
Pertanyaan berikutnya, pantaskah hasil yang selama ini kita peroleh, bila mengacu kepada fasilitas, program, dan kebijakan-kebijakan pembinaan olahraga yang di berikan pihak pemerintah serta pemangku kepentingan dibidang olahraga di daerah ini?.
Mencapai Prestasi
Berkompetisi di dunia olahraga, pencapaian prestasi menjadi muara yang diidamkan oleh para atlet, serta menjadi indikator sukses tidaknya kontingen/tim mengikuti even atau kontestasi dalam perlombaan olahraga. Permasalahannya, bagaimana cara upaya-upaya dan strategi guna memperoleh prestasi tersebut. Tentu tidak mudah dan juga tidak serta merta. Provinsi Sumsel yang pernah menjadi tuan rumah pada PON XVI 2004 pernah menduduki 5 besar perolehan medali, tetapi hingga saat ini terus merosot jauh terlempar hingga ke urutan 21.
Bila fasilitas-fasilitas olahraga menjadi faktor penting dalam melahirkan atlet-atlet yang berprestasi dan berkualitas, sepertinya sangat tidak pantas kita memperoleh prestasi seperti sekarang ini. Karena, bila di ambil contoh Provinsi Kaltim yang pernah menjadi tuan rumah pada tahun 2008, hingga saat ini mampu menjaga prestasinya, dimana pada PON XIX Jabar masih mampu bertahan pada urutan 5 besar, begitu juga provinsi-provinsi lain di Indonesia sangat consern menjaga dan mengawal prestasinya dalam kancah kompetisi-kompetisi olehraga nasional.
Sumsel khususnya Kota Palembang, beberapa kali telah menjadi tuan rumah dan juga penyelenggara berbagai even olahraga baik secara regional, nasional dan internasional. Seperti PON, Sea Games, Islamic Solidarity Games, AUG, dan lain-lain cabang-cabang olahraga tertentu dalam beragam kelas. Bila perhelatan-perhelatan olahraga yang menjadi ukuran, sepertinya kepedulian pemerintah terhadap pembangunan dan pengembangan cukup besar atau mungkin sangat besar. Akan tetapi ,tidak seiring dengan prestasi yang diperoleh oleh para pelaku olahraga khususnya atlet di daerah ini.
Olahraga prestasi pada intinya adalah olahraga yang melahirkan dan mengembangkan seorang atlet atau timnya secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi guna tercapainya prestasi dengan dukungan pengenalan, ilmu pengetahuan dan teknologi kenegaraan. Memang, dalam pelaksanaannya tidak semudah seperti yang direncanakan, banyak permasalahan yang ditemukan yang bisa saja berujung pada kegagalan.
Hal ini tidak terlepas pada faktor kebijakan, kualitas fisik dan karakter pada atlet, keseriusan juga komitmen yang kuat antar pelaku olahraga yang diakhiri dengan pembinaan dan pengembangan olahraga tersebut. Provinsi Jabar telah sukses dengan prestasinya menjadi juara umum, dimana bila jumlah penduduk yang 40 juta jiwa yang menjadi acuan untuk memperoleh atlet-atlet yang berprestasi, selayaknya Provinsi Sumsel yang jumlah penduduknya sekitar 8 juta jiwa, maka perolehan medali yang kita pantas dapat adalah 43 emas, dan masing-masing 31 medali perak dan perunggu.
Sangat tidak signifikan dengan perolehan medali yang kita dapat saat ini. Berdasarkan fasilitas- fasilitas olahraga yang kita miliki saat ini selayaknya juga kita masuk dalam 3 besar. Pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya merupakan puncak segala tahapan pembinaan dan kompetisi, setelah melalui berbagai macam pelatihan dan uji coba.
Dari hasil tersebut, terlihat kinerja para pengurus organisasi terkait dalam bidang olahraga. Secara khusus, peran pembina olahraga yang secara politik strategis bertanggung jawab atas prestasi-prestasi para atlet yang ada dalam lingkup pembinaan di daerah. Artinya, dibutuhkan peran pembina dan pemangku kepentingan olahraga untuk memahami dan cinta atas dunia keolahragaan baik dari sisi regulasi, kelembagaan, kebijakan strategis, perencanaan yang terukur serta mengenali talenta dan karakter warganya, para calon atlit, atlit serta para pelatih.
Pentas-Pentas Berkelas dan Pembinaan
Beragam fasilitas-fasilitas olahraga yang menjadi pentas untuk berkompetisi para atlet, relatif telah tersedia di daerah ini. Bahkan kualitas dan kuantitasnya relatif memadai, untuk mengakomodir beragam kegiatan atau kompetisi olahraga. Terbukti, telah terlaksananya beragam kegiatan berkelas terselenggara di daerah ini. Juga, pada tahun 2018 Sumsel menjadi salah satu tuan rumah Asian Games bersama DKI Jakarta. Sayangnya, tidak menghasilkan atlet daerah yang mampu berprestasi dalam beragam even olahraga, seperti yang pernah dilaksanakan di provinsi ini. Mengapa? Aspek pembinaan menjadi sorotan yang penting guna mencapai tujuan dalam mengembangkan prestasi-prestasi olahraga.
Pembinaan olahraga membutuhkan perhatian yang seksama meliputi pengorganisasiaan, prasarana dan sarana, model dan metode, pendanaan, pelatihan dan uji coba serta profesionalitas pendidikan keolahragaan. Berolahraga, pada intinya adalah aktivitas untuk memperoleh hidup yang sehat. Sudah tentu membutuhkan waktu pembinaan yang cukup panjang. Pemerintah dan masyarakat daerah selaiyaknya memetik hikmah atas terus meredupnya prestasi yang kita peroleh dalam kurun waktu 12 tahun terakhir.
Pemetaan atas potensi-potensi atlet-atlet yang akan berprestasi, harus mampu dilakukan secara terbuka dan melibatkan beragam unsur yang peduli dengan dunia olahraga. Misalnya KONI daerah, sebagai lembaga terdepan yang mengurus secara komprehensif dunia keolahragaan, sepantasnya dihuni oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan kapabilitas atas dunia keolahragaan dan pekembangannya. Kemudian mampu secara kesatria bila gagal dalam mencapai prestasi, serta belum mampu untuk memotivasi publik akan pentingnya mengembangkan keolahragaan, lebih elegan untuk mundur menjadi pengurus keolahragaan.
Tentu saja, peran kepedulian dan tanggung jawab publik untuk mengawasi dinamika keolahgaraan. Hal ini menyangkut peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah ini. Hidup sehat, sportifitas, aktif dan kompetitif serta prestasi harus mampu menjadi referensi dan orientasi masyarakat di daerah ini. Pantas, perlombaan dan pembinaan akan menjadi ideal dan sebangun, bila sinergi dengan prestasi yang diperoleh, serta menjadi variabel utama dalam dunia olahraga. bukan P…… yang lain, yaitu olahraga cenderung dipandang sebagai PROYEK. Sehingga Pronvinsi yang kita cintai ini bukan hanya mampu sebagai Panitia Pesta atau Penonton Semata. Semoga…

















