KAYUAGUNG, fornews.co – Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0402/OKI, Letkol CZI Zamroni menginstruksikan agar setiap Kepala Desa (Kades) dapat mengetahui setiap jengkal pemilik tanah atau lahan yang ada di wilayahnya. Hal ini menurutnya untuk meminimalisir terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terkhusus di wilayah teritorial Kodim 0402 (OKI-OI).
Dijelaskannya, dengan hal ini ketika terjadi kebakaran atau pembakaran di suatu lahan pelacakan pelaku akan lebih mudah. Jika tidak, ketika terjadi kebakaran akan ada aksi saling lempar terkait penyebab kebakaran ini ataupun siapa yang membakar.
“Ini jangan sampai saat kebakaran malah saling lempar, untuk itu saya mohon kepada seluruh kades, agar mengetahui setiap jengkal tanah di desanya itu punya siapa,” kata Dandim pada rapat konsolidasi penanganan Karhutla di Kabupaten OKI secara virtual, Kamis (02/07).
Baca juga : Satu Hektar Lahan di Sumsel Terbakar
Masih kata dia, setiap jengkal tanah ini khususnya di OKI selalu ada pemiliknya. “Memang kadang terlihat seperti tidak digarap ataupun tidak dirawat,” ujarnya.
Lahan yang terlihat tidak terawat inilah yang menurut Letkol Zamroni kerap saling lempar ketika terjadi kebakaran.
Selain memastikan agar Kades memahami lahan yang ada di wilayahnya masing-masing, dia juga menegaskan agar pihak perusahaan betul-betul konsen menanggulangi masalah karhutla ini mulai dari kesiapan personel, sarana dan prasarana, hingga pemenuhan kebutuhan personel pemadam.
“Jangan sampai saat diperlukan alat tidak berfungsi, terus dilakukan perawatan. Ketersediaan personel pemadam juga harus siap, termasuk pemenuhan kebutuhannya, jangan sampai nanti personel bekerja tapi kebutuhan atau kesejahteraannya terabaikan,” tegasnya.
Baca juga : Sebaran Hotspot di Sumsel Capai 1721 Titik, OKI dan Muara Enim Paling Banyak
Ketersediaan sumber air di wilayah yang dianggap rawan karhutla juga tak lupur dari perhatiannya. Untuk itu, dia berharap agar di wilayah yang sulit untuk sumber air dapat dimaksimalkan penggunaan sumur bor.
“Ya sekarang sebagian masih tersedia, tapi nanti ketika lama tidak turun hujan itu dikhawatirkan airnya meresap dan kering seperti yang ada di embung. Sumur bor juga harus dimaksimalkan sebagai sumber air termasuk jumlahnya,” pungkasnya. (rif)

















