PALEMBANG, fornews.co – Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru mengingatkan kepada seluruh kepala daerah di Sumsel dan jajarannya untuk menjaga dan merawat dengan baik arsip di wilayahnya masing-masing. Sebab arsip merupakan aset berharga dan sangat penting dalam menentukan langkah kebijakan pembangunan dan rencana strategis.
“Kenapa saya datang ke acara (Rakor) ini walaupun agenda saya padat, karena ini sangat penting bagi saya. Arsip adalah aset yang sangat berharga. Anak cucu adalah pewaris apa yang kita karyakan. Tanpa ada kearsipan yang benar semua ini hanya akan jadi omong kosong. Cukuplah Kerajaan Sriwijaya kita dibilang fiktif karena dianggap tidak punya arsip (terkait itu),” ujar HD saat membuka Rakor Evaluasi Kearsipan se-Sumsel dengan tema Akuntabilitas dan Transparansi Arsip Menjadi Dasar Kepastian Hukum dalam Kehidupan Berbangsa Negara, di Hotel Harper Palembang, Kamis (05/12).
Bahkan pentingnya arsip ini membuat HD mengajak semua pihak untuk mengubah pola pikir yang selama ini kerap mengkonotasikan instansi atau OPD yang menangani soal kearsipan sebagai tempat “buangan”.
“Pola pikir seperti ini harus kita ubah. Makanya saya hormat sekali pada Bu Ana (Kadis Kearsipan Sumsel) yang bangga ditempatkan di sini. Memang karakternya harus berani seperti beliau, kalau tidak ya bisa hilang nomenklaturnya, saking banyaknya orang yang tidak mau,” kata HD.
Dengan Rakor ini, Gubernur berharap semua pihak terkait dapat menyamakan persepsi terhadap aset berharga tersebut. Meskipun saat ini semua sudah canggih, dimana arsip sudah dibuat dalam bentuk file dan tersimpan di komputer, namun HD tetap mengimbau dinas terkait membenahi arsip secara konvensional. Sebab tidak ada perencanaan yang benar tanpa ada file arsip yang benar terkait keterangan masa sebelumnya. Bahkan HD yakin akan sulit bagi kepala daerah untuk merencanakan pekerjaan besar jika tidak ada arsip sebelumnya.
“Ayo kita benahi dan hargai. Arsip ini aset, aset berharga. Jangan terlalu muluk bicara surat berharga lain. Contoh saja buku nikah, kalau hilang susahnya minta ampun, mau umrah saja sulit. Makanya walaupun ada yang sebagian disimpan di ponsel atau server tapi arsip konvensional harus tetap ada. Untuk Bu Ana, jalan terus dan jangan takut, ada adikmu ini yang siap back up,” tegasnya.
Deputi Bidang Pembinaan Kearsipan ANRI DR Andi Kasman mengatakan, arsip adalah aset berharga sebuah negara. Sebab arsip dapat membuka jati diri suatu negara maka dari itu harus dipelihara dan dilestarikan.
“Tingkat peradaban suatu bangsa itu dapat dilihat dari pemeliharaan arsipnya. Dan arsip juga sejatinya berguna sebagai alat bukti bukti sah di pengadilan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan Sumsel Septiana Zuraida mengatakan, saat ini masih ada 8 daerah di Sumsel yang tingkat kearsipannya masuk kategori buruk. Selain itu ada 4 daerah kategori baik dan sisanya masuk kategori cukup dan kurang.
“Alhamdulilah Sumsel ini paling hebat karena satu-satunya yang berbentuk dinas. Di provinsi lain justru kearsipannya bergabung dengan perpustakaan,” kata Ana.
Meski begitu untuk mengelola arsip dari Provinsi yang begitu besar ini, Septiana berharap Pemprov mengakomodir kebutuhan posisi jabatan yang masih kosong seperti misalnya tenaga arsiparis agar dapat mengejar target kinerja yang baik ke depan.
“Selain mereview kegiatan kearsipan Pemprov tahun 2019, Rakor ini juga bertujuan menyatukan persepsi karena masih ada OPD yang belum melaporkan arsipnya ke Dinas Kearsipan,” tukasnya.
Selain Rakor, acara tersebut juga diisi dengan penandatanganan pakta integritas tertib administrasi dengan tiga OPD di lingkungan Pemprov Sumsel yakni BKD, Dinas Perkebunan dan Dinas Koperasi dan UKM Sumsel. (ije)
















