YOGYA, fornews.co – Setelah sukses menginisiasi terbitnya prangko seri Malioboro, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggelar Talk Show bertajuk Artist Talk menghadirkan pelukis prangko seri Malioboro, Astuti Kusumo.
Proses prangko seri Malioboro yang dimulai sejak Desember 2022 lalu diawali dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) oleh sejumlah tim ahli terkait sejarah Malioboro.
Hasil diskusi itu kemudian dinarasikan dan disusun menjadi naskah akademik sebagai acuan proses visualisasi Malioboro dalam bentuk lukisan.
“Penerbitan prangko seri Malioboro melewati proses panjang tidak hanya sekadar dilukis atau difoto, namun, ada narasi tentang sejarah Malioboro,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos,M.M., di Hotel Phoenix, Jum’at, 9 Juni 2023.

Yetti mengatakan keseriusan Pemerintah Yogya mengenalkan Malioboro kepada masyarakat tidak berhenti pada penerbitan prangko saja melainkan dari berbagai event dan media lainnya.
Malioboro merupakan sebuah kawasan bertemunya berbagai kepentingan, terang Yetti, maka perlu dilakukan kajian lebih mendalam untuk mengenalkan Malioboro dari ragam sudut pandang.
“Ada tema-tema khusus dalam visualisasi Malioboro yang mampu menggambarkan Malioboro itu sendiri.”
Yetti menyebut, ada tiga tema yang disepakati kemudian divisualisasikan dalam prangko yaitu Teras Malioboro 2, Ketandan dan Ngejaman.
Dari ketiga tema tersebut harapannya masyarakat dapat melihat Jogja melalui prangko seri Malioboro.
Dalam prangko seri Malioboro itu ada cerita-cerita tentang Jogja mulai dari peradaban, perkembangan dan dinamika Jogja berikut sejarahnya.
Ketiga prangko seri Malioboro yang diterbitkan tersebut dilengkapi QR Code untuk memudahkan masyarakat mengenal Yogya lebih dekat.

Terlibatnya sejumlah tim ahli dalam proses penerbitan prangko seri Malioboro menjadi tantangan tersendiri bagi pelukis perempuan asal Yogya, Astuti Kusumo.
Astuti Kusumo yang dipercaya untuk memvisualisasikan prangko seri Malioboro dalam bentuk lukisan tidak seperti membalikan telapak tangan.
Ia mengaku sempat kagok karena diatur dalam penyelesaian lukisan prangko seri Malioboro.
“Seniman kok didekte, melukis tetapi ada rambu-rambunya,” kata Astuti guyon yang sempat dibilang agak kurus oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta disambut tawa oleh hadirin.
Meski sempat agak sepaneng Astuti justru cepat beradaptasi dan selaras dengan pandangan prespektif dari para ahli yang terlibat.
Para ahli yang terlibat dalam proses prangko seri Malioboro itu yakni ahli sejarah Prof Dr Sri Margana MHum, arsitektur urban design Ir Ika Putra MEng PhD, antropologi Ni Made Purnamasari dan seniman Dr Suwarno Wisetrotoemo MHum.
Astuti merasa terhormat karena dipercaya sebagai pelukis yang dipilih untuk menggambarkan Yogya melalui tiga lukisan tentang Malioboro.
Ia tidak menyangka gagasan itu muncul justru dari Yetti Martanti selaku Kepala Dinas Kundha Kabudayan Yogyakarta.
“Luar biasa ibu Yetti. Saya minta tepuk tangan untuk ibu Yetti,” ucap Astuti disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh tamu talk show.
“Semoga ini bisa menginspirasi kota-kota lain.”

Dalam proses melukis Astuti harus mengenal Malioboro lebih dalam dengan melakukan “belanja visual” untuk mendapatkan ruh Malioboro.
Astuti harus menyusuri sepanjang Malioboro pada pagi, siang, sore bahkan malam hari.
Menurut Astuti, dengan melihat langsung suasana Malioboro pada waktu-waktu yang berbeda lukisan akan lebih “bernyawa”.
“Bahasa seni rupa itu ‘bahasa rasa’ kalau kita hanya melihat foto tidak akan mendapatkan esensi dari lukisan itu sendiri,” jelasnya.
Proses penyelesaian lukisan Malioboro membuat Astuti tersadar setelah berpikir begitu pesatnya perkembangan seni digital.
Bagi Astuti, seni lukis adalah seni murni yang dihasilkan dari bagian kekayaan intelektual yang tidak bisa dicapai secara instan.
“Di Yogyakarta terutama Indonesia meskipun sedemikian tinggi teknologi kita masih harus senantiasa melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya,” ucapnya.
Astuti akhirnya dapat menyelesaikan tiga lukisan Malioboro dalam prespektif yang berbeda selama tujuh hari.
Selain prangko juga ada buku berjudul “Pulang ke Malioboro” tulisan Iqbal Aji Daryono.
Rencananya Pemerintah setempat juga akan memproduksi film dokumenter tentang Malioboro garapan Ukie Junx dan Siska Raharja.
Talkshow pada Jum’at sore dihadiri oleh Komunitas Filateli dan Kartu Pos, Komunitas Sejarah, Komunitas Seni Rupa dan Himpunan Mahasiswa Sejarah di Kota Yogyakarta. (adam)
Copyright © 2023 fornews.co. All rights reserved.
















