YOGYAKARTA, fornews.co—Beredar video di media sosial seorang wanita meninggal akibat bermain Skullbreaker Challenge di Venezuele, Brazil. Permainan tantangan tersebut termasuk kategori prank.
Tantangan yang disebut challenge itu tidak hanya membuat cedera serius pada kepala. Rompcraneos Challenge dari Venezuela yang berbahaya ini bahkan dapat membuat tulang ekor berisiko cacat permanen hingga kematian.
Di Amerika dan Meksiko bagi yang melakukan prank Skullbreaker Chalengge harus berurusan dengan polisi. New York Post melaporkan sejumlah remaja terluka di Miami, New Jersey, Arizona, Daytona Beach, Florida.
Seperti permainan biasa namun sangat berbahaya. Caranya, ada tiga orang meloncat bergantian. Loncatan dimulai oleh dua orang di pinggir kanan-kiri, disusul oleh orang yang berada di tengah.
Dua orang yang berada di kanan-kiri lalu menendang kaki orang yang di tengah saat meloncat sehingga terjatuh.
Telah terbukti berbagai kejadian buruk dialami oleh korban prank. Para orang tua setuju ada sanksi bagi yang melakukannya karena dianggap tidak berfaedah.

Guru Seni Budaya di SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta, Anna Sophia Adham, S.Pd mengungkapkan sulitnya membedakan tipuan ngeprank.
“Maraknya prank membuat sulit dibedakan kejadian yang benar dan tidak,” ujarnya.
“Jelas tidak manusiawi sekali kegiatan ngeprank yang membuat nyawa melayang.”
Ia memisalkan prank atau permainan yang bertujuan menjebak dan menipu menjadi berakibat buruk bagi pelakunya.
“Coba berpikir kalau dirinya sendiri atau keluarganya yang kena, pasti sama apa yang akan dirasakan, yaitu kecewa dan sakit hati,” katanya.
Sebagai guru, Anna berpesan kepada para orang tua agar memahamkan kepada anak-anaknya untuk tidak meniru hal-hal negatif. Salah satunya adalah kegiatan prank dan sejenisnya yang sangat membahayakan orang lain.
“Tirulah hal-hal yang positif agar menjadikan pribadi yang berakhlak mulia,” ujarnya berpesan, Senin (17/2/2020).
Prihati Wuri Hanyani, S.Pd, Kepala Sekolah TK Bunga Nusantara, Banjarnegara, yang kerap wara-wiri ke Yogyakarta, mencontohkan kejadian yang mirip dengan prank challengge yang berbahaya itu. Salah satunya adalah kebiasaan menarik kursi saat hendak diduduki.
“Pernah kejadian anak SD dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh saat hendak duduk di kursi, namun kursinya ditarik oleh temannya,” ungkapnya.
Ia prihatin terhadap para orang tua yang membiarkan anak-anaknya meniru bermain dan bercanda tanpa menghiraukan akibat buruk bagi orang lain. Apalagi yang berujung pada kematian.
Baca: Kampung Dolanan Tradisional
Di Indonesia juga sering terjadi, kata Yani (sapaan akrab), misalnya anak-anak bermain meniru smack down. Sebuah permainan yang tidak pantas dilakukan oleh anak-anak.
Menurut Yani, para orang tua dan guru berkewajiban menjelaskan kepada anak-anak terhadap berbagai macam permainan dan akibatnya.
“Misalnya sebagai guru, di sela-sela mengajar mengedukasi permainan-permainan yang berbahaya dan tidak bahaya kepada muridnya.”
Dengan begitu anak-anak akan tahu dan berpikir terhadap akibat baik dan buruk permainan yang dipilihnya.

Pengurus Pimpinan Wilayah Tapak Suci (PWTS) DIY, Haris Wijaya Kusuma, menekankan pentingnya edukasi terhadap masyarakat.
“Pencegahan paling baik dan memungkinkan adalah mengedukasi dan memunculkan kesadaran bahwa itu (seperti skullbreak challenge yang terjadi baru-baru ini Brazil) bukanlah mainan,” jelasnya.
Apapun alasannya permainan yang serupa tersebut tidak dibenarkan. Sebagai pelatih senior di Tapak Suci, Haris tidak menganjurkan permainan fisik yang berbahaya dan berakibat fatal.

Mengomentari prank challenge yang telah merenggut nyawa itu, kepada fornews.co Haris menjelaskan, jatuh dalam posisi duduk dapat membuat tulang ekor patah dan menyebabkan kelumpuhan total.
Sedangkan jika jatuh dalam posisi tertidur atau terlentang, lanjut Haris, akan terjadi benturan di kepala bagian belakang. Hal ini sangat sulit menghindari gegar otak.
“Atau sesaat menghilangkan kesadaran. Kalau ada tulang belakang yang bergeser bisa berefek panjang pada otak dan kesehatan badan,” ujarnya.

Meski dirinya berharap video prank skullbreak challenge yang menimpa wanita remaja di Brazil tidak tersebar, masyarakat dan pihak-pihak terkait harus dapat meluruskan tentang akibat dari kejadian tersebut agar video yang viral tidak dicontoh.
“Challange semacam ini atau pun yang lainnya tidak perlu ada. Semua stageholder pendidikan harus bersama-sama dan peduli mengawasi sekaligus memastikan tidak ada siswa yang melakukan hal semacam ini,” imbaunya.
“Tentu saja harus ada tindakan preventif. Sanksi pidana pada prakteknya berat. Karena pasti balik lagi ke pasal di bawah umur,” tutupnya. (adam)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















