PALEMBANG, Fornews.co – Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Jepang menyebabkan sekitar 20 orang dikonfirmasi atau diduga meninggal dunia, Minggu (05/07).
Helikopter dan Kapal evakuasi pun hingga kini telah melakukan evakuasi di wilayah Kumamoto. Bahkan, 10 ribu pasukan pertahanan, penjaga pantau dan pasukan pemadam kebakaran pun dikerahkan ikut dalam evakuasi bencana tersebut.
Dilansir dari AP, daerah besar di sepanjang Sungai Kuma dipenuhi oleh banjir, banyak rumah, bangunan dan kendaraan di wilayah tersebut terendam oleh banjir bahkan hingga ke atap rumah. Selain itu, tanah longsor juga melanda beberapa rumah diwilayah tersebut.
Sebuah panti jompo yang kebanjiran di Desa Kuma juga setidaknya 14 warga diperkirakan tewas saat tim penyelamat menuju ke lokasi. Dimana, tiga orang lainnya menderita hipotermia. Tim penyelamat pun kemudian berlanjut melakukan evakuasi puluhan warga lainnya yang masih berada di fasilitas perawatan tepi sungai Senjuen. Dimana, disana terdapat sekitar 60 orang terperangkap saat banjir dan lumpur melanda.
Pejabat Kumamoto menyebutkan mereka dapat mengkonfirmasi 18 orang yang diperkirakan meninggal, termasuk 14 di panti jompo. Hingga saat ini, mereka terus menilai tingkat kerusakan. Televisi NHK mengatakan 16 dipastikan tewas, 16 lainnya diperkirakan tewas dan 14 masih hilang.
Saat ini, curah hujan yang 100 milimeter (4 inci) per jam sejak itu sudah mereda mereda. Namun, Badan Meteorologi Jepang mengimbau untuk tetap waspada terhadap tanah longsor di seluruh Kumamoto.
Meredanya banjir ini membuat beberapa mesin penjual otomatis dan mobil-mobil berserakan di jalanan berlapis lumpur. Beberapa orang membersihkan rumah mereka, mengambil perabotan yang rusak dan membilas lumpur.
Sebanyak 200 ribu peduduk di prefektur Kumamoto juga diminta untuk dievakuasi. Hanya saja, masyarakat setempat lebih memilih tinggal dirumah karena khawatir akan tertular Virus Corona. Meskipun begitu, para pejabat mengatakan tempat penampungan dilengkapi dengan partisi dan langkah-langkah keamanan lainnya.
Banjir juga memutus jalur listrik dan komunikasi, yang selanjutnya menunda pencarian dan penyelamatan. Hampir 6.000 rumah di Kumamoto masih tanpa listrik. (lim)

















