JEPANG, fornews.co — Sebagai upaya mempercepat realisasi proyek strategis menuju target emisi nol bersih di kawasan Asia, Indonesia dan Jepang, menggelar Asia Zero Emission Community–Expert Group Meeting (AZEC-EGM) ke-9.
Kedua negara sepakat melalui AZEC-EGM ke-9 kerja sama, Indonesia dan Jepang, dalam mendorong transisi energi rendah karbon terus diperkuat.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan forum AZEC menjadi instrumen penting untuk memastikan proyek dekarbonisasi tidak berhenti di tahap perencanaan.
“AZEC bukan hanya forum diskusi, tetapi sarana untuk mengurai hambatan teknis dan bisnis agar proyek transisi energi bisa segera masuk tahap implementasi nyata,” ujar Haryo.
AZEC sendiri merupakan inisiatif yang diluncurkan pada Presidensi G20 Indonesia 2022, dengan tujuan memperkuat kolaborasi negara-negara Asia dalam pengembangan energi bersih dan teknologi rendah emisi.
Pada pertemuan kali ini, fokus diarahkan pada proses debottlenecking agar proyek berjalan lebih cepat dan terukur. Pembahasan dibagi ke dalam dua klaster.
Pada klaster ketenagalistrikan, peserta membahas pengembangan PLTP Sarulla, PLTP Hululais, proyek transmisi listrik Jawa–Sumatra, serta pembangunan PLTSa Legok Nangka sebagai bagian dari penguatan bauran energi terbarukan nasional.
PLTSa Legok Nangka dengan nilai investasi sekitar USD 400 juta ditargetkan mencapai financial close pada akhir 2026.
Sementara PLTP Hululais mulai bergerak setelah tercapainya kesepakatan pinjaman dengan JICA sehingga proses pengadaan dapat segera dilakukan.
Haryo menyebut proyek transmisi Jawa–Sumatra menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Interkoneksi Jawa–Sumatra sangat strategis karena menghubungkan potensi energi terbarukan Sumatra dengan pusat permintaan di Jawa, sehingga sistem kelistrikan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pada klaster kedua, pertemuan membahas sektor bahan bakar berkelanjutan, termasuk pengembangan Green Ammonia Initiative di Aceh untuk memperkuat rantai pasok amonia nasional.
Selain itu, Indonesia mengusulkan riset bersama pengembangan template Power Purchase Agreement (PPA) geothermal.
Template tersebut ditujukan untuk menciptakan standardisasi kontrak, meningkatkan kepastian usaha, menekan risiko, serta mempercepat negosiasi antara pengembang pembangkit dan PT PLN (Persero).
“Keberhasilan debottlenecking proyek PLTP Muara Laboh pada 2025 dijadikan rujukan,” tambahnya.
Deputy Commissioner for International Affairs METI Jepang, Ueno Asako, berharap enam proyek prioritas AZEC dapat menunjukkan kemajuan signifikan sebelum akhir tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia, Raden Pardede, menegaskan komitmen pemerintah mengawal proyek.
“Kemenko Perekonomian akan terus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, PT PLN, serta pemerintah daerah agar proyek-proyek AZEC berjalan sesuai target,” katanya.
AZEC-EGM ke-9 turut dihadiri perwakilan Kemenko Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, KBRI Tokyo, JICA, JBIC, serta pelaku usaha Indonesia dan Jepang seperti PT PLN, PT Pupuk Indonesia, Itochu Corporation, Kansai Electric, Sumitomo Corporation, dan Toyo Engineering.
Melalui penguatan kerja sama ini, Indonesia dan Jepang menegaskan komitmen menjadikan proyek AZEC sebagai pendorong utama transisi energi dan pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan Asia.

















